DEMI
CINTA
Fajar
terasa begitu dingin, angin menembus sampai ke jendela kamar Rama. Dia sengaja membuka
sedikit jendela karena merasa gerah. Setelah menarik selimut dan hendak untuk
kembali ke alam mimpinya, tiba-tiba Rama mengingat percakapannya dengan Debi
kemarin sore.
“Ram,
aku pikir kita sebaiknya jaga jarak. Jangan sering-sering ketemu.” Kata Debi
setelah Rama mengantarnya pulang.
“Loh
kenapa? Sah sah aja kan? Toh kamu pacarku!” kemudian Debi hanya tersenyum
menggeleng.
“Ah,
sudahlah! Datanglah ke tausiyah sekali-kali. Terus jangan lupa subuhan. Kamu
jangan begadang biar gak telat subuhan!” kemudian Debi menghilang di balik
pintu rumahnya.
Seketika Rama melihat jam bekernya.
Menunjukkan pukul 04.15 WIB. Terdengar juga suara adzan subuh. Rama bergegas
bangun dan mandi. Entah dorongan malaikat mana yang membuatnya bangun di kala
fajar—yang biasanya justru dia baru tidur.
Tak berhenti sampai di situ
perubahan Rama. Rama memilih untuk jama’ah di masjid—tepat berjarak lima rumah
dari rumahnya. Masjid yang biasa hanya dia lewati tanpa pernah merasakan
nikmatnya sholat jama’ah disana.
Seperti biasa—pagi hari saat
berangkat sekolah, biasanya Rama akan menjemput Debi dan berangkat bersama.
Tapi kali ini, Rama mengabaikan SMS dari Debi dan berangkat sendiri.
***
Disisi lain—Debi menunggu Rama
dirumahnya, padahal sudah hampir jam 7 pagi. Akhirnya Debi memutuskan untuk
berangkat sendiri naik angkot.
Sesampainya di sekolah, Debi melihat
gerbang mulai ditutup. Dengan tergopoh-gopoh Debi berlari.
“Pak!
Pak! Saya minta tolong! Bolehin saya masuk ya?” Debi memohon pada satpan
penjaga gerbang.
“Loh,
kamu biasanya kan sama pacarmu tho?”
kata satpan itu yang mengenali Debi—melihat jilbab garis-garis di tepiannya,
karena beda dengan yang lain.
“Duh
pak, gak ada waktu jelasin! Makanya bolehin saya masuk pak!” kemudian satpan
itu membuka sedikit gerbang dan membiarkannya masuk. Debi segera berlari,
menyusuri koridor dan lorong-lorong kelas, menuju kelasnya di paling
belakang—XI IPA 2. Sepertinya hanya aku
yang terlambat. Sepi! Batinnya saat berlari.
Setelah masuk kelas, ternyata guru
mata pelajaran pertama gak masuk. Debi merasa lega. Debi melihat ke arah bangku
Rama, di pojok paling belakang. Rama terlihat tidur disana. Debi masih tidak
mengerti, tumben Rama tidak menjemputnya, dan tidak menjawab teleponnya tadi.
Sampai jam istirahat selesai Debi
bahkan belum bicara sama sekali dengan Rama. Saat bel istirahat tadi—Rama sudah
buru-buru pergi dan ketika di cari-cari di tempat tongkrongan Rama, Debi tak
menemukannya. Akhirnya Debi memutuskan untuk menunggunya. Tapi sayang, Rama
datang saat guru sudah datang. Debi hanya memandangnya penuh tanya. Tapi Rama
langsung menunduk.
Sepulang sekolah, terlihat Rama juga
buru-buru meninggalkan kelas. Lalu Debi mengejar dan menghentikan langkahnya.
“Ram!
Kita perlu bicara!” kemudian Rama membalikkan badannya dan menghampiri
Debi—tidak! Rama hanya maju selangkah, dan jarak mereka sekitar 2 meter.
“Bicaralah!”
“Nggak
disini. Ikut aku!” Debi berjalan mencari tempat duduk didepan kelas. Rama
mengikuti.
“Sebenarnya
kamu kenapa? Apa kamu marah sama aku? Kenapa kamu menghindar?”
“Maaf
Deb!”
“Hah? Deb? Biasanya juga sayang.
Aneh!” batin Debi, dan dia hanya mengerutkan kening.
“Justru
aku sangat berterimakasih padamu. Tapi untuk saat ini. Aku perlu sendiri.
Sampai waktunya tiba. Kamu jaga diri baik-baik. Aku gak bisa antar jemput kamu
lagi. Kamu jangan lupa sholatnya ya? Dan maaf banget aku nggak tahu bakalan
sampai kapan. Tapi kuusahakan secepatnya. Sampai jumpa Deb!” Rama meninggalkan
Debi yang melongo mendengar penjelasan Rama yang sulit dia cerna maksudnya.
Benar-benar tidak mengerti.
***
Kali ini Rama pulang sendiri,
perasaan bersalah pada Debi menggelayut di pikirannya—tapi lebih bersalah lagi
kalau Rama melakukannya dan tak menghentikan. Rama berfikir, saatnya dia
mencari jawab dan mencari bekal untuk kehidupannya kelak. Termasuk jawab atas
hubungannya dengan Debi—yang sudah dia pacari selama setahun ini.
Rama membelokkan motornya, padahal
jalan kerumahnya lurus. Rama mendapat informasi dari ROHIS, bahwa akan ada
tausiyah di masjid di dekat sekolah oleh ustadz yang terkenal dan materi yang
disampaikan mudah dipahami para pendengarnya.
Baru
sekali ini Rama mengikuti tausiyah atas keinginannya—biasanya acara sekolah
atau disuruh keluarga. Rasanya tentu beda, karena dari hati. Begitu khidmad,
dan meresapi yang disampaikan ustadz. Satu pelajaran berharga hari ini telah
Rama dapatkan. Begitu terasa bersemangat untuk berikutnya.
Hari-hari Rama seakan terasa beda
dengan dia masuk ROHIS dan mengikuti tausiyah-tausiyah—memantapkan hatinya pada
Debi dan sangat bersyukur karena Debi selalu mengingatkannya. Bahwa, cinta itu
bukan milik kita berdua, tapi milik semuanya. Secara khususpun cinta yang Rama
maksudkan untuk Debi juga harus menautkannya pada Tuhannya—Allah.
***
Beberapa hari ini, Debi benar-benar
dirundung rasa penasaran yang amat sangat. Betapa Rama sungguh bersikap berbeda
360 derajat dari sebelumnya. Tongkrongannya sekarang adalah di ROHIS. Rama bahkan tak
pernah menyapa Debi, kecuali tugas.
Debi merenungi omongan Rama saat
terakhir kali bicara. Sayup-sayup, saat Debi tengah asyik melamun di kantin
belakang, Debi mendengar suara adzan dzuhur. Suara itu begitu dikenalnya. Debi
memutuskan untuk pergi ke mushola sekolah yang berada di depan untuk memastikan
dugaannya.
Setelah memutuskan untuk
berjama’ah—karena kadang Debi sholat sendiri atau makmum masbuk(telat
berjama’ah). Debi benar-benar sukar percaya tapi merasa senang juga. Dia, yang
mengumandangkan adzan—Rama. Debi hanya tersenyum melihatnya.
Kini hati Debi benar-benar seperti
menemukan jawaban atas rasa penasarannya. Debi tak ingin ber su’udzan, dia terus berharap apa yang di
pikirkannya itu adalah sebuah kebenaran. Tapi?
Mengapa jahat sekali menyiksaku dengan rasa penasaran yang membuatku sakit!
Batin Debi.
***
Sudah sebulan Rama tidak menyapa Debi. Sepertinya
Rama sudah siap memutuskan untuk kelanjutan hubungan mereka. Karena Rama sudah
berbekal pengetahuan. Keputusannya sudah mantap walaupun awalnya sangat sulit.
Rama melihat Debi seperti biasanya
saat istirahat—membaca buku di kantin sambil minum. Kemudian Rama
menghampirinya.
“Assalamu’alaikum.”
Sapa Rama.
“Wa’alaikumsalam...”
jawab Debi tanpa menurunkan bukunya, lalu memalingkan pada sumber suara dan
menutup bukunya.
“Rama?
Tumben?” jawab Debi cuek. Mungkin Rama pikir Debi marah karena tidak mengerti
ucapannya sebulan yang lalu, atau Debi tidak menerima. Tapi Rama mencoba
mengatakannya.
“Debi,
aku akan mengatakannya sekarang. Janjiku padamu.”
“Hn.”
Debi hanya menjawabnya dengan bergumam, membuat Rama tidak percaya diri.
“Aku
mau kita putus! Karena aku sayang sama kamu. Aku kasihan sama kamu. Dan aku mau
kamu bahagia menjalani hari-harimu.” Begitu lancar Rama menyampaikannya,
kemudian Debi mulai merapikan bukunya dan menatap Rama serius.
“Kamu?
Sungguh?” Debi sedikit ragu.
“Iya.
Saat ini aku masih sayang sama kamu. Dan untunglah aku adalah orang pertama
bagimu. Dan kamu juga yang pertama. Aku mau...” belum selesai bicara Debi
memotongnya.
“Menjaga
hati..” kata Debi menegaskan. Lalu Rama melanjutkan.
“Sampai
waktunya tiba. Berdo’a. Menjalankan segala yang diperintahkan, menjauhi segala
larangan.”
“Sampai
tiba waktunya..” kata Debi merekahkan senyumnya. Rama membalas senyum itu.
Senyum yang mungkin akan terakhir dia perhatikan.
“Aku
mau Rama. Demi cinta. Demi keyakinan kita! Terimakasih kamu mau berubah menjadi
lebih baik!”
“Dan
seandainya, kamu.. tidak di takdirkan denganku?” nada suara Rama sedikit
dipelankan dan skeptis.
“Aku
nggak tahu. Karena aku belum benar-benar yakin juga kalau kamu memang jodohku.
Tapi, terimakasih sekali disini, saat ini setidaknya kita sudah belajar,
tentang cinta. Huh! Aku sungguh berdosa untuk tahun-tahun sebelumnya.” Debi
mencibir.
“Haha,
maaf Deb! Aku janji. Ketika hatiku tak berubah sedikitpun. Ketika aku sudah
siap aku tak kan segan langsung melamarmu. Hehe.. tapi, ketika Allah
menakdirkan lain. Semoga kamu bertemu jodoh yang pantas.” Debi hanya
meng-amini. Setelah itu mereka berpisah, dengan komitmen itu. Lalu menjalani
hari-hari layaknya seorang siswa di sekolah. Sampai waktunya tiba. Demi cinta.
-TAMAT-
Assalamu’alaikum..
halo, nama saya Wasi’atul Amalia, dari Jember. Nama akun facebook saya “Wasik Amalia” or
mi_pangsohx@yahoo.co.id.
Alamat email lieyah.peskins@gmail.com.
Terimakasih. Wassalamu’alaikum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar