Kamis, 23 April 2015

DEMI CINTA



DEMI CINTA
Fajar terasa begitu dingin, angin menembus sampai ke jendela kamar Rama. Dia sengaja membuka sedikit jendela karena merasa gerah. Setelah menarik selimut dan hendak untuk kembali ke alam mimpinya, tiba-tiba Rama mengingat percakapannya dengan Debi kemarin sore.
“Ram, aku pikir kita sebaiknya jaga jarak. Jangan sering-sering ketemu.” Kata Debi setelah Rama mengantarnya pulang.
“Loh kenapa? Sah sah aja kan? Toh kamu pacarku!” kemudian Debi hanya tersenyum menggeleng.
“Ah, sudahlah! Datanglah ke tausiyah sekali-kali. Terus jangan lupa subuhan. Kamu jangan begadang biar gak telat subuhan!” kemudian Debi menghilang di balik pintu rumahnya.
            Seketika Rama melihat jam bekernya. Menunjukkan pukul 04.15 WIB. Terdengar juga suara adzan subuh. Rama bergegas bangun dan mandi. Entah dorongan malaikat mana yang membuatnya bangun di kala fajar—yang biasanya justru dia baru tidur.
            Tak berhenti sampai di situ perubahan Rama. Rama memilih untuk jama’ah di masjid—tepat berjarak lima rumah dari rumahnya. Masjid yang biasa hanya dia lewati tanpa pernah merasakan nikmatnya sholat jama’ah disana.
            Seperti biasa—pagi hari saat berangkat sekolah, biasanya Rama akan menjemput Debi dan berangkat bersama. Tapi kali ini, Rama mengabaikan SMS dari Debi dan berangkat sendiri.
***
            Disisi lain—Debi menunggu Rama dirumahnya, padahal sudah hampir jam 7 pagi. Akhirnya Debi memutuskan untuk berangkat sendiri naik angkot.
            Sesampainya di sekolah, Debi melihat gerbang mulai ditutup. Dengan tergopoh-gopoh Debi berlari.
“Pak! Pak! Saya minta tolong! Bolehin saya masuk ya?” Debi memohon pada satpan penjaga gerbang.
“Loh, kamu biasanya kan sama pacarmu tho?” kata satpan itu yang mengenali Debi—melihat jilbab garis-garis di tepiannya, karena beda dengan yang lain.
“Duh pak, gak ada waktu jelasin! Makanya bolehin saya masuk pak!” kemudian satpan itu membuka sedikit gerbang dan membiarkannya masuk. Debi segera berlari, menyusuri koridor dan lorong-lorong kelas, menuju kelasnya di paling belakang—XI IPA 2. Sepertinya hanya aku yang terlambat. Sepi! Batinnya saat berlari.
            Setelah masuk kelas, ternyata guru mata pelajaran pertama gak masuk. Debi merasa lega. Debi melihat ke arah bangku Rama, di pojok paling belakang. Rama terlihat tidur disana. Debi masih tidak mengerti, tumben Rama tidak menjemputnya, dan tidak menjawab teleponnya tadi.
            Sampai jam istirahat selesai Debi bahkan belum bicara sama sekali dengan Rama. Saat bel istirahat tadi—Rama sudah buru-buru pergi dan ketika di cari-cari di tempat tongkrongan Rama, Debi tak menemukannya. Akhirnya Debi memutuskan untuk menunggunya. Tapi sayang, Rama datang saat guru sudah datang. Debi hanya memandangnya penuh tanya. Tapi Rama langsung menunduk.
            Sepulang sekolah, terlihat Rama juga buru-buru meninggalkan kelas. Lalu Debi mengejar dan menghentikan langkahnya.
“Ram! Kita perlu bicara!” kemudian Rama membalikkan badannya dan menghampiri Debi—tidak! Rama hanya maju selangkah, dan jarak mereka sekitar 2 meter.
“Bicaralah!”
“Nggak disini. Ikut aku!” Debi berjalan mencari tempat duduk didepan kelas. Rama mengikuti.
“Sebenarnya kamu kenapa? Apa kamu marah sama aku? Kenapa kamu menghindar?”
“Maaf Deb!”
“Hah? Deb? Biasanya juga sayang. Aneh!” batin Debi, dan dia hanya mengerutkan kening.
“Justru aku sangat berterimakasih padamu. Tapi untuk saat ini. Aku perlu sendiri. Sampai waktunya tiba. Kamu jaga diri baik-baik. Aku gak bisa antar jemput kamu lagi. Kamu jangan lupa sholatnya ya? Dan maaf banget aku nggak tahu bakalan sampai kapan. Tapi kuusahakan secepatnya. Sampai jumpa Deb!” Rama meninggalkan Debi yang melongo mendengar penjelasan Rama yang sulit dia cerna maksudnya. Benar-benar tidak mengerti.                        
***
Kali ini Rama pulang sendiri, perasaan bersalah pada Debi menggelayut di pikirannya—tapi lebih bersalah lagi kalau Rama melakukannya dan tak menghentikan. Rama berfikir, saatnya dia mencari jawab dan mencari bekal untuk kehidupannya kelak. Termasuk jawab atas hubungannya dengan Debi—yang sudah dia pacari selama setahun ini.
Rama membelokkan motornya, padahal jalan kerumahnya lurus. Rama mendapat informasi dari ROHIS, bahwa akan ada tausiyah di masjid di dekat sekolah oleh ustadz yang terkenal dan materi yang disampaikan mudah dipahami para pendengarnya.
            Baru sekali ini Rama mengikuti tausiyah atas keinginannya—biasanya acara sekolah atau disuruh keluarga. Rasanya tentu beda, karena dari hati. Begitu khidmad, dan meresapi yang disampaikan ustadz. Satu pelajaran berharga hari ini telah Rama dapatkan. Begitu terasa bersemangat untuk berikutnya.
Hari-hari Rama seakan terasa beda dengan dia masuk ROHIS dan mengikuti tausiyah-tausiyah—memantapkan hatinya pada Debi dan sangat bersyukur karena Debi selalu mengingatkannya. Bahwa, cinta itu bukan milik kita berdua, tapi milik semuanya. Secara khususpun cinta yang Rama maksudkan untuk Debi juga harus menautkannya pada Tuhannya—Allah.
***
            Beberapa hari ini, Debi benar-benar dirundung rasa penasaran yang amat sangat. Betapa Rama sungguh bersikap berbeda 360 derajat dari sebelumnya. Tongkrongannya  sekarang adalah di ROHIS. Rama bahkan tak pernah menyapa Debi, kecuali tugas.
            Debi merenungi omongan Rama saat terakhir kali bicara. Sayup-sayup, saat Debi tengah asyik melamun di kantin belakang, Debi mendengar suara adzan dzuhur. Suara itu begitu dikenalnya. Debi memutuskan untuk pergi ke mushola sekolah yang berada di depan untuk memastikan dugaannya.
            Setelah memutuskan untuk berjama’ah—karena kadang Debi sholat sendiri atau makmum masbuk(telat berjama’ah). Debi benar-benar sukar percaya tapi merasa senang juga. Dia, yang mengumandangkan adzan—Rama. Debi hanya tersenyum melihatnya.
            Kini hati Debi benar-benar seperti menemukan jawaban atas rasa penasarannya. Debi tak ingin ber su’udzan, dia terus berharap apa yang di pikirkannya itu adalah sebuah kebenaran. Tapi? Mengapa jahat sekali menyiksaku dengan rasa penasaran yang membuatku sakit! Batin Debi.
***
            Sudah  sebulan Rama tidak menyapa Debi. Sepertinya Rama sudah siap memutuskan untuk kelanjutan hubungan mereka. Karena Rama sudah berbekal pengetahuan. Keputusannya sudah mantap walaupun awalnya sangat sulit.
            Rama melihat Debi seperti biasanya saat istirahat—membaca buku di kantin sambil minum. Kemudian Rama menghampirinya.
“Assalamu’alaikum.” Sapa Rama.
“Wa’alaikumsalam...” jawab Debi tanpa menurunkan bukunya, lalu memalingkan pada sumber suara dan menutup bukunya.
“Rama? Tumben?” jawab Debi cuek. Mungkin Rama pikir Debi marah karena tidak mengerti ucapannya sebulan yang lalu, atau Debi tidak menerima. Tapi Rama mencoba mengatakannya.
“Debi, aku akan mengatakannya sekarang. Janjiku padamu.”
“Hn.” Debi hanya menjawabnya dengan bergumam, membuat Rama tidak percaya diri.
“Aku mau kita putus! Karena aku sayang sama kamu. Aku kasihan sama kamu. Dan aku mau kamu bahagia menjalani hari-harimu.” Begitu lancar Rama menyampaikannya, kemudian Debi mulai merapikan bukunya dan menatap Rama serius.
“Kamu? Sungguh?” Debi sedikit ragu.
“Iya. Saat ini aku masih sayang sama kamu. Dan untunglah aku adalah orang pertama bagimu. Dan kamu juga yang pertama. Aku mau...” belum selesai bicara Debi memotongnya.
“Menjaga hati..” kata Debi menegaskan. Lalu Rama melanjutkan.
“Sampai waktunya tiba. Berdo’a. Menjalankan segala yang diperintahkan, menjauhi segala larangan.”
“Sampai tiba waktunya..” kata Debi merekahkan senyumnya. Rama membalas senyum itu. Senyum yang mungkin akan terakhir dia perhatikan.
“Aku mau Rama. Demi cinta. Demi keyakinan kita! Terimakasih kamu mau berubah menjadi lebih baik!”
“Dan seandainya, kamu.. tidak di takdirkan denganku?” nada suara Rama sedikit dipelankan dan skeptis.
“Aku nggak tahu. Karena aku belum benar-benar yakin juga kalau kamu memang jodohku. Tapi, terimakasih sekali disini, saat ini setidaknya kita sudah belajar, tentang cinta. Huh! Aku sungguh berdosa untuk tahun-tahun sebelumnya.” Debi mencibir.
“Haha, maaf Deb! Aku janji. Ketika hatiku tak berubah sedikitpun. Ketika aku sudah siap aku tak kan segan langsung melamarmu. Hehe.. tapi, ketika Allah menakdirkan lain. Semoga kamu bertemu jodoh yang pantas.” Debi hanya meng-amini. Setelah itu mereka berpisah, dengan komitmen itu. Lalu menjalani hari-hari layaknya seorang siswa di sekolah. Sampai waktunya tiba. Demi cinta.
-TAMAT-


Assalamu’alaikum.. halo, nama saya Wasi’atul Amalia, dari Jember. Nama akun facebook saya “Wasik Amalia” or mi_pangsohx@yahoo.co.id. Alamat email lieyah.peskins@gmail.com. Terimakasih. Wassalamu’alaikum.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar