SENJA
DI SUDUT PESAREAN KANJENG SUNAN PRAPEN
Seperti biasa, momen liburan setelah
ujian di gunakan untuk berlibur tentunya. Aku sudah ada rencana akan
berkeliling kota Malang bersama teman-temanku. Kami sudah prepacking walaupun terjadi
kendala-kendala perbedaan pendapat dan sulit mencapai mufakat, karena alasan
finansial.
Pada akhirnya, dihari terakhir
kumpul—hanya ada sekitar empat orang saja dari belasan temanku yang akan ikut.
Kami yang gak tahu harus ngapain hanya diam dan menunggu, setelah itu Dana
salah satu teman yang kami anggap leader
menelponku.
“Halo, assalamu’alaikum?” jawabku.
“Wa’alaikumsalam, gimana Lia? Apa
anak-anak sudah kumpul semua?”
“Wah, gimana Dan. Ini Cuma berempat.
Yang lain kemana? Di telepon gak ada yang jawab. Kamu kesini kan?”
“Maaf banget Li, aku gak bisa kumpul.
Kemungkinan juga aku gak bisa ikut liburan, apalagi kondisinya kita touring pakai sepeda motor dan
trekking...” kemudian aku meloud speaker agar
yang lain mendengar.
“Kemarin aku habis operasi kaki, jadi
sementara seminggu ini harus diam dirumah..” aku memberi kode gimana? Pada teman-teman. Mereka
mengiyakan.
“Ya sudah Dan, gak papa. Kamu cepat
sembuh ya?”
“Iya, maaf banget. Salamin ke yang lain
ya?”
“Oke. Assalamu’alaikum..” setelah
terdengar jawaban salam dari seberang sana, aku menutup panggilannya.
Mereka
yang datang-pun memutuskan untuk mengcancel
liburang kali ini, alasannya selain banyak cowoknya yang gak ikut, kendala
akomodasi dan finansial juga. Aku-pun dengan berat harti dan mau gak mau ya
memang harus membatalkan rencana liburan kali ini.
***
Hari-hari
hanya ku lewati di rumah menonton film kesukaan, tidur dan makan saja. Sampai
suatu pagi, saudara sepupuku menelpon dan mengajakku wisata religi—tepatnya ke
ziarah makam Wali 5. Karena gratis, dan gak ada kerjaan aku mengiyakan.
Sebenarnya
aku sudah sangat sering ziarah Wali 9. Tapi, entah mengapa aku tak pernah
bosan—walaupun pergi dengan para orang tua dan bahkan kakek nenek. Selalu saja
terbesit rindu ketika aku sudah lama tak berziarah.
Hari
ketika kami berangkat—aku beserta saudara-saudaraku memutuskan berangkat malam
hari, sekitar jam 21.00 WIB. Mas Baihaqi sendiri yang menyetir mobil. Biasanya
malam hari jalan kota akan sedikit lengang dari pada biasanya.
Seperti
biasa, tujuan awal kami dari yang jauh dahulu. Kami sampai di Tuban—Sunan
Bonang pada jam 03.00 WIB, setelah melaksanakan sholat subuh. Kami langsung
berdo’a ke makam.
Karena
melewati jalur pantai utara, sepanjang perjalanan menuju ke Lamongan—Sunan Drajat
adalah pantai. Kali ini kami berhenti sejenak di depan pantai pantura untuk
menikmati sarapan, ditemani sunrise
pagi. Betapa nikmatnya, walaupun sedikit mendung tapi tidak mengurangi
sedikitpun kenikmatan yang diberikan oleh Sang Kuasa.
Setelah
menikmati sarapan, dan berjalan-jalan sebentar di pantai. Kami langsung
melanjutkan perjalanan ke Lamongan. Akhirnya sekitar jam 11.00 WIB kami tiba di
makam Sunan Drajat, sekitar 30 menit dari kota Lamongan.
Hawa
panas begitu menyengat waktu itu. Setelah kami bersantai di mushola, kami lalu
melanjutkan perjalanan ke makam selanjutnya—makam Sunan Maulana Malik
Ibrahim-Gresik.
Kami
tiba disana pada jam 14.30 WIB. Lokasinya berada di perkotaan Gresik. Mas
Baihaqi memang selalu penasaran dengan hal-hal yang mistis. Setiap ke makam
selalu bermeditasi menyendiri—entahlah ngapain, aku tidak mengerti. Yang jelas,
dia punya kekuatan untuk melihat dan merasakan adanya makhluk astral. Sampai
saat ini, yang bisa dirasakan Mas Baihaqi adalah di tempat Sunan Drajat tadi,
karena memang suasananya cukup seram dengan makam-makam berbatu dan berbukit
serta beberapa pohon beringin.
Jam
16.00 kami meninggalkan pesarean Sunan Maulana Malik Ibrahim dan langsung
tancap gas ke pesarean Sunan Giri, di Gresik juga—tepatnya Desa Giri.
Setelah
30 menit berlalu, sampailah kami ke makam Sunan Giri. Lokasinya juga berbukit.
Kami harus melewati trap trap berundak. Konon mitosnya, setiap orang yang
mengitung anak tangga dari awal gapura, sampai di gapura masuk pesarean,
jumlahnya akan berbeda. Begitupun saat kita menghitung lagi di lain waktu,
hasilnya akan beda.
Aku
melakukannya—menghitung anak tangga itu bersama saudaraku. Setelah sampai
puncak. Hasilnya-pun selisih. Aku menghitung ada 200 anak tangga, sedangkan
saudaraku mengatakan ada 198 anak tangga. Entahlah. Itu adalah mitos yang
beredar bagi kalangan orang yang pernah berziarah Wali 9.
Sampai
di puncak—gapura makam, aku melihat pemandangan didepanku. Betapa indahnya sore
hari di Giri,Gresik ini. Dari atas sini, terlihat hamaparan perkotaan dan
bukit-bukit kapur—biasanya dibuat batu bata atau semen, mentari sore-pun kala
itu bersinar mengguratkan warna kuning terang. Cuacanya begitu cerah. Lagi-lagi Kau menunjukkan kebesaranMu,
batinku pun tak henti-hentinya bersyukur dengan nikmat-Nya itu.
Tentu
kami berdo’a bukan pada penghuni makam—tetapi mendo’akan sang penghuni makam,
dan mengharap ridho Allah, juga mengharap mendapat suatu berkah kedepannya.
Setelah
berdo’a ke makam. Lagi-lagi mas Baihaqi penasaran dengan aura-aura mistis. Dia
bilang, dia ingin berziarah ke makam Sunan Prapen—penerus keempat dari Sunan
Giri, sebagai tokoh yang berpengaruh,
Sunan Prapen disebut-sebut paus Islam dari VOC. Begitulah yang sempat aku baca
dari buku sejarah Wali 9.
Makamnya
tak jauh dari Sunan Giri. Sekitar 200 m ke barat. Saat itu terlihat sepi.
Memang jarang peziarah yang sekaligus berziarah ke makam Sunan Prapen ketika di
Sunan Giri. Terlihat makam-makan di atas perbukitan, hawanya juga sepi dan
sedikit mistis memang—pohon-pohon bambu menambah aksen mistis, apalagi langit
terlihat mulai gelap.
Sampailah
di area makam Sunan Prapen—masih harus menanjak melewati anak tangga. Kami
memutuskan untuk menunggu setelah sholat maghrib, sesaat aku terpana kala
melihat kearah barat. Mega di langit Gresik. Betapa indahnya mega di kala senja
itu, matahari terlihat sudah hampir tenggelam meninggalkan bumi untuk
beristirahat—dan digantikan bulan yang menerangi malam disini. Sambil aku tak
henti-hentinya berdecak kagum oleh lukisan alam yang gratis ku nikmati ini—aku
teringat surah “ar-Rohman” di Alqur’an. Dimana selalu disebutkan di
ayat-ayatnya. “Sungguh, nikmat mana yang engkau dustakan?”. Benar-benar keren.
Setelah itu, suara adzanpun bergema. Kudengar selain di mushola samping-ku ini,
dari bawah juga terdengar adzan maghrib yang seperti bersaut-sautan. Menambah
nikmat yang kurasakan. Senja di sudut pesarean Sunan Prapen. Senja yang bisa ku
nikmati di tempat dan kesempatan yang beda—di tempat aku harus mengingatNya
selalu, ditempat dimana semua yang bernyawa akan mati pada waktunya kelak. Aku
merasa selalu mengingat kematian jika sudah berada di pesarean, untuk itu aku
akan termotivasi untuk menjadi lebih baik.
Setelah sholat maghrib berjamaah kami langsung
menuju ke pesarean. Saudara sepupuku yang sudah lama menikah tapi belum juga
punya momongan, mencoba duduk diatas sebuah batu—batu yang berada
ditengah-tengah dasar tangga, konon juga dipercayai bagi pasangan yang sulit
dikaruniai anak jika duduk di batu tersebut, akan di mudahkan jalannya untuk
mendapatkan anak.
Akhirnya
sampailah kami di pesarean Sunan Kanjeng Prapen. Suasana gelap, sepi dan hanya
ditemani lampu sorot di area makam, terdapat juga lampu yang biasa di
jalan-jalan raya. Kesan awal, begitu mistis—khidmad, sesekali aku tolah toleh
melayarkan pandanganku keseluruh areal, benar-benar gelap dan sepi. Aku
bergidik ngeri. Tapi begitupun tahlil dibacakan, kami mulai hanyut dengan do’a
masing-masing dan pengharapan masing-masing.
Perjalanan
pulang, jalan menuju parkiran mobil. Mas Baihaqi bercerita.
“Gimana Bay? Udah ketemu Sunan
Prapennya?” kata saudara sepupuku.
“Haha, sst.. ya jelas ada mbak. Tapi
gak mau keluar. Tadi itu kan makam seorang raja, dan para prajurit-prajuritnya.
Rata-rata dari mereka mati karena perang.”
“Terus?” kata saudara sepupuku lagi.
“Wah, hawanya begitu keras penuh
amarah. Mereka seperti bersikap selalu waspada pada setiap kehadiran orang.
Jadi sebaiknya kita jangan banyak bicara. Ya sudahlah.” Mas Baihaqi mengakhiri
topik dengan berjalan cepat menuju mobil dan keramaian.
Setelah
di Gresik, kami langsung menuju Surabaya—Sunan Ampel, makam terakhir yang akan
kita ziarahi, dan shoping-shoping,
karena disana lebih lengkap.
***
Begitulah
aku menyimpan momen yang beda saat berziarah Wali 5. Begitu eloknya mega yang
terpancar di kala senja itu. Warna jingga kemerah-merahan, sudut makam Sunan
Prapen yang mistis, bukit-bukit kapur menjulang dan hamparan perkotaan Gresik
kala itu, apalagi menikmatinya sambil mendengar gema adzan, ah.. subhanallah.
THE END
oleh : Wasik :*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar