Sabtu, 28 Maret 2015

Senja di Sudut Pesarean Sunan Prapen

SENJA DI SUDUT PESAREAN KANJENG SUNAN PRAPEN
Seperti biasa, momen liburan setelah ujian di gunakan untuk berlibur tentunya. Aku sudah ada rencana akan berkeliling kota Malang bersama teman-temanku. Kami sudah prepacking  walaupun terjadi kendala-kendala perbedaan pendapat dan sulit mencapai mufakat, karena alasan finansial.
Pada akhirnya, dihari terakhir kumpul—hanya ada sekitar empat orang saja dari belasan temanku yang akan ikut. Kami yang gak tahu harus ngapain hanya diam dan menunggu, setelah itu Dana salah satu teman yang kami anggap leader menelponku.
“Halo, assalamu’alaikum?” jawabku.
“Wa’alaikumsalam, gimana Lia? Apa anak-anak sudah kumpul semua?”
“Wah, gimana Dan. Ini Cuma berempat. Yang lain kemana? Di telepon gak ada yang jawab. Kamu kesini kan?”
“Maaf banget Li, aku gak bisa kumpul. Kemungkinan juga aku gak bisa ikut liburan, apalagi kondisinya kita touring pakai sepeda motor dan trekking...” kemudian aku meloud speaker agar yang lain mendengar.
“Kemarin aku habis operasi kaki, jadi sementara seminggu ini harus diam dirumah..” aku memberi kode gimana? Pada teman-teman. Mereka mengiyakan.
“Ya sudah Dan, gak papa. Kamu cepat sembuh ya?”
“Iya, maaf banget. Salamin ke yang lain ya?”
“Oke. Assalamu’alaikum..” setelah terdengar jawaban salam dari seberang sana, aku menutup panggilannya.
            Mereka yang datang-pun memutuskan untuk mengcancel liburang kali ini, alasannya selain banyak cowoknya yang gak ikut, kendala akomodasi dan finansial juga. Aku-pun dengan berat harti dan mau gak mau ya memang harus membatalkan rencana liburan kali ini.
***
            Hari-hari hanya ku lewati di rumah menonton film kesukaan, tidur dan makan saja. Sampai suatu pagi, saudara sepupuku menelpon dan mengajakku wisata religi—tepatnya ke ziarah makam Wali 5. Karena gratis, dan gak ada kerjaan aku mengiyakan.
            Sebenarnya aku sudah sangat sering ziarah Wali 9. Tapi, entah mengapa aku tak pernah bosan—walaupun pergi dengan para orang tua dan bahkan kakek nenek. Selalu saja terbesit rindu ketika aku sudah lama tak berziarah.
            Hari ketika kami berangkat—aku beserta saudara-saudaraku memutuskan berangkat malam hari, sekitar jam 21.00 WIB. Mas Baihaqi sendiri yang menyetir mobil. Biasanya malam hari jalan kota akan sedikit lengang dari pada biasanya.
            Seperti biasa, tujuan awal kami dari yang jauh dahulu. Kami sampai di Tuban—Sunan Bonang pada jam 03.00 WIB, setelah melaksanakan sholat subuh. Kami langsung berdo’a ke makam.
            Karena melewati jalur pantai utara, sepanjang perjalanan menuju ke Lamongan—Sunan Drajat adalah pantai. Kali ini kami berhenti sejenak di depan pantai pantura untuk menikmati sarapan, ditemani sunrise pagi. Betapa nikmatnya, walaupun sedikit mendung tapi tidak mengurangi sedikitpun kenikmatan yang diberikan oleh Sang Kuasa.
            Setelah menikmati sarapan, dan berjalan-jalan sebentar di pantai. Kami langsung melanjutkan perjalanan ke Lamongan. Akhirnya sekitar jam 11.00 WIB kami tiba di makam Sunan Drajat, sekitar 30 menit dari kota Lamongan.
            Hawa panas begitu menyengat waktu itu. Setelah kami bersantai di mushola, kami lalu melanjutkan perjalanan ke makam selanjutnya—makam Sunan Maulana Malik Ibrahim-Gresik.
            Kami tiba disana pada jam 14.30 WIB. Lokasinya berada di perkotaan Gresik. Mas Baihaqi memang selalu penasaran dengan hal-hal yang mistis. Setiap ke makam selalu bermeditasi menyendiri—entahlah ngapain, aku tidak mengerti. Yang jelas, dia punya kekuatan untuk melihat dan merasakan adanya makhluk astral. Sampai saat ini, yang bisa dirasakan Mas Baihaqi adalah di tempat Sunan Drajat tadi, karena memang suasananya cukup seram dengan makam-makam berbatu dan berbukit serta beberapa pohon beringin.
            Jam 16.00 kami meninggalkan pesarean Sunan Maulana Malik Ibrahim dan langsung tancap gas ke pesarean Sunan Giri, di Gresik juga—tepatnya Desa Giri.
            Setelah 30 menit berlalu, sampailah kami ke makam Sunan Giri. Lokasinya juga berbukit. Kami harus melewati trap trap berundak. Konon mitosnya, setiap orang yang mengitung anak tangga dari awal gapura, sampai di gapura masuk pesarean, jumlahnya akan berbeda. Begitupun saat kita menghitung lagi di lain waktu, hasilnya akan beda.
            Aku melakukannya—menghitung anak tangga itu bersama saudaraku. Setelah sampai puncak. Hasilnya-pun selisih. Aku menghitung ada 200 anak tangga, sedangkan saudaraku mengatakan ada 198 anak tangga. Entahlah. Itu adalah mitos yang beredar bagi kalangan orang yang pernah berziarah Wali 9.
            Sampai di puncak—gapura makam, aku melihat pemandangan didepanku. Betapa indahnya sore hari di Giri,Gresik ini. Dari atas sini, terlihat hamaparan perkotaan dan bukit-bukit kapur—biasanya dibuat batu bata atau semen, mentari sore-pun kala itu bersinar mengguratkan warna kuning terang. Cuacanya begitu cerah. Lagi-lagi Kau menunjukkan kebesaranMu, batinku pun tak henti-hentinya bersyukur dengan nikmat-Nya itu.
            Tentu kami berdo’a bukan pada penghuni makam—tetapi mendo’akan sang penghuni makam, dan mengharap ridho Allah, juga mengharap mendapat suatu berkah kedepannya.
            Setelah berdo’a ke makam. Lagi-lagi mas Baihaqi penasaran dengan aura-aura mistis. Dia bilang, dia ingin berziarah ke makam Sunan Prapen—penerus keempat dari Sunan Giri,  sebagai tokoh yang berpengaruh, Sunan Prapen disebut-sebut paus Islam dari VOC. Begitulah yang sempat aku baca dari buku sejarah Wali 9.
            Makamnya tak jauh dari Sunan Giri. Sekitar 200 m ke barat. Saat itu terlihat sepi. Memang jarang peziarah yang sekaligus berziarah ke makam Sunan Prapen ketika di Sunan Giri. Terlihat makam-makan di atas perbukitan, hawanya juga sepi dan sedikit mistis memang—pohon-pohon bambu menambah aksen mistis, apalagi langit terlihat mulai gelap.
            Sampailah di area makam Sunan Prapen—masih harus menanjak melewati anak tangga. Kami memutuskan untuk menunggu setelah sholat maghrib, sesaat aku terpana kala melihat kearah barat. Mega di langit Gresik. Betapa indahnya mega di kala senja itu, matahari terlihat sudah hampir tenggelam meninggalkan bumi untuk beristirahat—dan digantikan bulan yang menerangi malam disini. Sambil aku tak henti-hentinya berdecak kagum oleh lukisan alam yang gratis ku nikmati ini—aku teringat surah “ar-Rohman” di Alqur’an. Dimana selalu disebutkan di ayat-ayatnya. “Sungguh, nikmat mana yang engkau dustakan?”. Benar-benar keren. Setelah itu, suara adzanpun bergema. Kudengar selain di mushola samping-ku ini, dari bawah juga terdengar adzan maghrib yang seperti bersaut-sautan. Menambah nikmat yang kurasakan. Senja di sudut pesarean Sunan Prapen. Senja yang bisa ku nikmati di tempat dan kesempatan yang beda—di tempat aku harus mengingatNya selalu, ditempat dimana semua yang bernyawa akan mati pada waktunya kelak. Aku merasa selalu mengingat kematian jika sudah berada di pesarean, untuk itu aku akan termotivasi untuk menjadi lebih baik.
             Setelah sholat maghrib berjamaah kami langsung menuju ke pesarean. Saudara sepupuku yang sudah lama menikah tapi belum juga punya momongan, mencoba duduk diatas sebuah batu—batu yang berada ditengah-tengah dasar tangga, konon juga dipercayai bagi pasangan yang sulit dikaruniai anak jika duduk di batu tersebut, akan di mudahkan jalannya untuk mendapatkan anak.
            Akhirnya sampailah kami di pesarean Sunan Kanjeng Prapen. Suasana gelap, sepi dan hanya ditemani lampu sorot di area makam, terdapat juga lampu yang biasa di jalan-jalan raya. Kesan awal, begitu mistis—khidmad, sesekali aku tolah toleh melayarkan pandanganku keseluruh areal, benar-benar gelap dan sepi. Aku bergidik ngeri. Tapi begitupun tahlil dibacakan, kami mulai hanyut dengan do’a masing-masing dan pengharapan masing-masing.
            Perjalanan pulang, jalan menuju parkiran mobil. Mas Baihaqi bercerita.
“Gimana Bay? Udah ketemu Sunan Prapennya?” kata saudara sepupuku.
“Haha, sst.. ya jelas ada mbak. Tapi gak mau keluar. Tadi itu kan makam seorang raja, dan para prajurit-prajuritnya. Rata-rata dari mereka mati karena perang.”
“Terus?” kata saudara sepupuku lagi.
“Wah, hawanya begitu keras penuh amarah. Mereka seperti bersikap selalu waspada pada setiap kehadiran orang. Jadi sebaiknya kita jangan banyak bicara. Ya sudahlah.” Mas Baihaqi mengakhiri topik dengan berjalan cepat menuju mobil dan keramaian.
            Setelah di Gresik, kami langsung menuju Surabaya—Sunan Ampel, makam terakhir yang akan kita ziarahi, dan shoping-shoping, karena disana lebih lengkap.
***
            Begitulah aku menyimpan momen yang beda saat berziarah Wali 5. Begitu eloknya mega yang terpancar di kala senja itu. Warna jingga kemerah-merahan, sudut makam Sunan Prapen yang mistis, bukit-bukit kapur menjulang dan hamparan perkotaan Gresik kala itu, apalagi menikmatinya sambil mendengar gema adzan, ah.. subhanallah.
THE END
oleh : Wasik :*





Tidak ada komentar:

Posting Komentar