Sabtu, 28 Maret 2015

Comfortable Jilboobs

Jilbab atau Hijab?

Bukan masalah nyaman, gak nyaman, dapat panggilan hidayah atau enggaknya kalau pakai hijab. Tapi, memakai hijab adalah kewajiban umat muslim di dunia. Kan sudah sangat jelas tuh sama firman Allah di surah Al-Ahzab:59 dan An-nuur:31. Ini juga yang sempat membuatku sangat dilema beberapa tahun lalu. Ayah Ibuku adalah Islam, alhamdulilah bisa di bilang sangat menjaga amar ma’ruf nahi munkar. Jadi, gak salah kalau anaknya di gembleng untuk mengikuti jejak orang tuanya. Dan kini aku sadar, yang menjaga orang tua dari api neraka adalah do’a anak yang soleh dan solehah, insyaallah.
Namaku, Khadijah. Harapannya agar aku bisa se tegar dan se kuat Siti Khadijah istri Nabi, Aamiin. Pakai hijab, kalau jamanku dulu nggak keren. Ya, jarang sekali ada anak SMP pakai hijab. Dan aku sempat berontak gara-gara gak mau pakai hijab. Tapi, dengan terpaksa akupun tetap harus memakainya. Lama-lama aku sadar kalau nggak belajar, kapan lagi? Nunggu ada hidayah? Umur manusia gak bisa di prediksi kan.
Ku awali pagi ini dengan semburat senyum saat berangkat kuliah. Yah, aku sekarang seorang mahasiswa baru tahun ini, di salah satu Perguruan Tinggi Negeri. Karena dari SD-SMA aku sekolah di taraf Islam, pas Kuliah di umum rasanya agak canggung, dengan mereka yang tak berhijab, pakaian yang kurang sopan, mereka yang pacaran dalam Kampus, astaghfirullah. Apalagi saat tahu sekelas banyak cowoknya dan duduknya mepet. Kalau dulu duduk pasti di pisah cewek cowok. Jurusan yang ku ambil nih yang memaksa aku untuk selalu nyebut karena lebih banyak cowoknya. Iya, aku ambil Design and Art, eh bukanya sama aja ya? Tau ah!.
Saat kelas bubar, aku buru-buru keluar. Tiba-tiba, seseorang menabrakku dari belakang dan sukses bikin aku muter-muter gak seimbang gara-gara di tabrak.
“Eh... maaf, maaf,maaf!” dengan spontan yang ku dengar suara cowok itu langsung memeluk memegangku, mungkin agar aku tak terjatuh. Aku yang kaget bukan main di peluk langsung mendorongnya dan memaki-makinya.
“Kamu! Kurang ajar ya!” dan cowok itu sukses tersungkur di lantai. Tiba-tiba Maryam yang melihatku langsung menolong si cowok itu. Maryam adalah teman baikku di kelas ini. Dia juga pakai jilbab sepertiku, tapi nggak se kaku aku.
“Ya ampun Khadijah! Kamu apa-apaan? Di tolongin malah di dorong sih! Alif kamu gak papa kan?” dan aku hanya menggigit bibir bawahku diam.
“Eh neng! Aku tuh ya gak maksud cari kesempatan. Maksudku Cuma mau nolongin biar gak jatuh!” terlihat nadanya kesal.
“Maaf mas, kirain!” aku langsung keluar, karena aku baru sadar kalau tadi buru-buru karena kebelet.
“Ckckck.. maafin temanku ya Lif, dia emang kaku banget. Biasa cewek solehah!” kudengar ocehan Maryam sayup-sayup saat aku sudah mulai jauh dari kelas.
Kelas hari ini adalah Seni Lukis, karena Dosen ada urusan, tapi gak mau absen kosong jadi di isi ke ruang seni dan mahasiswanya di suruh ngelukis bebas di sana. Saat jalan tiba-tiba ada seorang yang tiba-tiba nyenggol sengaja dan ngomong gak jelas banget.
“Eh man! Kamu tahu gak? Kemarin itu aku gak sengaja nabrak cewek, tuh cewek mau jatuh, terus aku nolongin, eh malah di gampar man!” oceh cowok yang ternyata Alif sama Adam yang sengaja nyindir aku.
“Oh ya? Aneh banget tuh cewek. Seharusnya untung dong, bisa di peluk kamu ya kan Lif? Cewek lain padahal lomba-lomba buat deket sama kamu!” sahut Adam. Maryam yang di sebelahku menyuruhku diam dan tak menanggapi. Aku hanya cemberut, dan Alif tertawa.
“Udah Khadijah! Alif emang jail banget dari SMA. Dan harap maklum, pengetahuan tentang ke agamaannya emang gak se kental kamu.”
“Hem, iya Mar. Aku juga ogah ngeladenin dia. Ya udah yuk jalan!”.
            Sesampainya di kelas, astagfirullah! Kenapa teman-teman bukannya ngelukis, malah berdua-duaan? Rasanya gak kuat kalau tiap hari liat ginian. Emang gak semua sih, tapi lumayan. Kira-kira separuh dari teman kelasku malah duduk berdua, mesra-mesraan dan aku gak tau mereka lagi PDKT atau udah pacaran, bodo amat.
“Neng kenapa bengong? Pengen ya liatin temen-temen!” tiba-tiba suara Alif megagetkanku.
“Astagfirullah! Kirain siapa! Apasih kamu!” kataku sedikit kaget.
“Oh.. iya, ustadzah gini paling gerah ya liat ginian? Haha.. coba deh di bacain ayat-ayat suci, kali aja mereka kepanasan!” dengan santai dia berkata dan bersandar pada pintu dan membuat jarak yang sangat dekat dengan ku. Lalu aku maju untuk menghindarinya.
“Apasih kamu, jangan ngaco deh!” kemudian aku mengedarkan mataku mencari tempat yang jauh dari jangkauan mereka yang ‘maksiat’.
            Melukis, melukis, dan melukis. Ku fokuskan diriku pada lukisan ini. Yah, walaupun gak jago. Namanya juga belajar. Saat aku asyik sendiri, gak sengaja aku memandang pada arah Alif di depanku, dia juga sedang ngelukis, tapi kenapa malah lihat aku? Apa aku yang ke GR-an? Ah, aku langsung saja memalingkan pandanganku berpura-pura mencari sesuatu. Tapi, sekilas ku intip Alif dari balik kanvasku, dia masih saja melihat ke arahku sambil melukis. Aneh.
            Karena sebenarnya aku dapat tugas dari koordinator kelas yang izin sakit tadi untuk mengumpulkan tugas ini setelah jam selesai. Maka, setelah jam selesai aku menyuruh teman-teman untuk mengumpulkannya.
“Teman-teman! Mohon perhatian sebentar ya? Tadi saya dapat tugas dari dosen kita untuk ngumpulin lukisannya. Jadi diharapkan lukisannya bisa di taruh di depan sini lalu absen!” tapi, reaksi teman-teman justru menyuruhku agar tak usah dikumpulkan karena mereka belum selesai.
“Eh Ijah! Kita-kita belum selesai, jadi gimana kalau gak usah dikumpulin aja! Bilang aja gak keburu gitu!” celetuk salah seorang teman.
“Gak bisa! Ini perintah!”
“Eh, kamu itu sok banget sih! Emang kamu koordinator? Ngatur-ngatur? Udah yuk teman-teman kita pulang!” sahut Bianca, cewek yang obsesi banget jadi primadona kampus.
“Alif! Mau kemana? Kita pulang aja, ngapain sih di kumpulin!” Bianca mencegah Alif yang mau mengumpulkan lukisannya.
“Kenapa Bi? Ini kan tugas. Aku gak mau nilaiku merah. Em.. teman-teman, kalau emang lukisannya selesai di kumpulin aja ke depan, tapi kalau belum tetep aja di kumpulin yang penting bikin. Kalau sama sekali gak buat di tanggung sendiri ya!” kata Alif bijak. Tumben. Namun di tanggapi dengan sorakan oleh teman-teman yang belum buat.
            Beberapa mulai ngumpulin, tapi yang gak aku duga Bianca CS malah neriakin aku. Astagfirullah hal’adzim. Sabar-sabar.
“Huu.. dasar sok banget si Ijah ini! Mentang-mentang di kasih tugas koordinator aja belagu dan gak mau kompak. Gak setia kawan banget. Kejam, yang belum sama sekali gimana coba?” kemudian dia melempariku dengan kertas, kuas, cat, dan lain-lain.
“Stop Bi. Bukan begitu maksudku!” kataku sambil melindungi dengan menyilangkan tanganku.
“Bianca stop! Kamu gila apa?” kata Maryam membelaku.
“Bi, kamu keluar Bi! Atau, aku panggilkan petugas keamanan?” tiba-tiba Alif berdiri didepanku dan merentangkan kedua tangannya agar aku gak kena timpuk Bianca CS. Lalu Bianca dan teman-teman lain pergi.
            Kini tinggal aku yang terpaku bingung, Maryam yang menemaniku, juga Elsa teman Bianca yang masih terdiam disana dan Alif di depanku.
“Khadijah, gak papa kan?” kata Maryam khawatir.
“Gak papa kok Mar, bagaimana ini? Aku tak bisa menjalankan amanah.”
“Khadijah!” Alif menyadarkanku.
“Lif.. makasih ya?” kataku.
“Yah!” sahutnya cuek, lalu pergi setelah memastikan aku tak apa.
“Khadijah!” Elsa yang sejak tadi di depan langsung ke arahku.
“Ada apa El? Kok kamu kayak takut banget?”
“Sebenarnya.. aku belum bikin lukisan. Aku takut..!”
“Loh, emang kenapa?” kata Maryam penasaran.
“Bianca menyuruh kita buat gak ngelukis, dan malah disuruh santai-santai kayak dia. Padahal, aku ingin sekali dapat nilai yang baik. Aku gak mau IP ku nanti jelek gara-gara gak pernah bikin tugas!” cerita Elsa.
“Ya udah, mending sekarang kamu bikin, masih ada waktu 30 menit sebelum kelas lain ke sini, aku tungguin!” kataku.
Thanks banget Khadijah!”
            Hari ini, di gazebo kampus, aku berdua sama Elsa. Dia menceritakan semua masalahnya dengan Bianca.
“Aku tetap ingin berteman dengan Bianca, tapi aku gak mau kalau harus mengikuti semua perintahnya, yang aku rasa justru menyesatkanku. Aku gak mau!”
“Apa kamu takut sama dia?”
“Aku gak takut, tapi.. aku takut dia gak mau berteman denganku lagi!”
“Ha? Ya ampun seperti itu. Aku rasa, bertemanpun gak pakai syarat. Dan kalau dia aja nentuin syarat agar bisa berteman sama kamu, artinya dia gak ikhlas. Kamu punya pilihan hidupmu sendiri, kenapa nurutin aturannya.”
“Terus aku harus gimana Khadijah?”
“Begini ya El, kamu tetep baikin dia, kamu bersikap layaknya kamu teman baiknya. Tapi, jangan lakukan hal yang negative melanggar aturan kampus, atau bahkan di larang sama agama kamu!” jelasku pada Elsa.
“Tapi..”
“Eh, gak ada tapi. Kamu harus bisa. Mindset nya jangan di block! Pikir aja kamu bisa, bisa, bisa. Dan ingat, komitmen!”
“Makasih Khadijah! Oh iya, aku ingin sekali berhijab. Tapi, aku minder! Pengetahuan agamaku kurang, kalau kelakuanku gak sesuai malu sama hijabnya!”
“Subhanallah, itu keinginan bagus banget El. Ngapain minder, justru dengan kamu berhijab asal niatnya untuk belajar, insyaallah bisa mendatangkan syafa’at. Lama-lama kamu juga bisa mendalami tentang Islam, insyaallah. Yang jelas, niatnya di mantapkan dulu. Jangan nunggu ada hidayah. Dapt hidayahnya kapan? Kan umur manusia gak ada yang tahu. Hal baik jangan di tunda-tunda. Ntar nyesel loh.” paparku.
“Wah, makasih sekali lagi ya Khadijah! Sekarang aku ada kelas lain nih! Next time aku masih butuh bantuan kamu soal hijab ya!” kemudian pamit pergi.
“Oke siap! Langsung ke aku aja kalau ada yang di perlukan!” aku mengacungkan jempolku.
            Hari ini rasanya senang bisa bantu teman untuk berhijab. Setelah Elsa keluar kelas, dia langsung menemuiku untuk tanya-tanya soal hijab, dan insyaallah sudah mulai bisa memakainya. Subhanallah, akhirnya temanku di beri petunjuk.
Setelah kelas usai, Adam menemuiku, aneh. Ada apa?
“Khadijah, kamu di tunggu Alif di gazebo sebelah kantin!”
“Loh, ada apa? Kok dia gak bilang sendiri?” kataku heran. Tapi Adam hanya mengedikkan bahunya, lalu pergi. Saat aku beranjak, Maryam sempat menjegal lenganku.
“Khadijah, kamu mau menemuinya?”
“Aku rasa.”
“Yah, oke lah!”
            Kulihat hari ini Elsa sudah berhijab, walaupun Bianca CS mencibir, setidaknya Elsa sudah berani pada Bianca, dan bersikap tegas dan wibawa. Hem, sekarang aku benar-benar penasaran dengan Alif.
            Sesampainya di ujung jalan, ku lihat gazebo kata Adam. Tapi, di mana Alif? Karena penasaran, aku pun langsung menuju gazebo. Tapi, yang ku lihat hanya tas Alif. Tiba-tiba, ku dengar seseorang menyanyikan sebuah lagu. Yang ku tahu itu lagu romantis. Yah, itu lagunya Christina Perry soundtrack film Twilight. Walaupun aku gak pernah lihat tuh film.
“Alif...” kataku terkejut saat tahu Alif lah sang penyanyi. Suaranya bagus.
“Khadijah, selama ini.. kamu.. selalu membuat hatiku adem. Kamu yang sabar, periang, kadang nyebelin sama ceramah kamu, tapi bikin hati ini tentram.. aku...”
“Em, Alif.. maaf! Apa yang ingin kamu katakan sebenarnya?” aku merasa tak sabar, jangan sampai Alif menyukaiku. Masyaallah harus bagaimana aku?
“Aku, mengagumimu! Aku mencintaimu Khadijah!”
“Tapi Lif, aku.. Terimakasih atas pengakuanmu, tapi.. alangkah lebih baik kita berteman saja. Aku gak mau terjebak dalam maksiat. Na’udzubillah. Sampai kita, sudah benar-benar siap..”
“Tapi, kita kan udah kuliah. Udah bisa di bilang dewasa.”
“Maaf banget Lif, aku bukannya gak nerima kamu atau gak mau pacaran sama kamu. Tapi, aku benar-benar menjaga hati aku..”
“Tapi, seenggaknya kamu jujur padaku, apakah kamu juga menyukaiku?”
“Em.. entahlah, kalaupun iya.. biarkan aku ber istiqomah sampai waktu itu tiba, dan tetap menjaga hati ini.. untuk kamu, selama masih di beri jodoh. Insyaallah.” Kataku lalu tersenyum.
“Terimakasih Khadijah, kalau begitu aku akan berjanji, untuk tetap mencintaimu dan berusaha jadi seorang Muslim yang lebih baik lagi!” katanya mantap.
“Mencintailah karena Allah, jalankan dengan ikhlas, semoga kamu selalu di rahmati Allah SWT, semoga kamu dapat petunjuk-Nya. Aamiin..”
“Aamiin..”
            Awalnya aku kaget saat Alif menyatakan cintanya, semoga niat untuk berubah jadi lebih baik itu tulus Lillahita’ala. Dan.. kalau memang aku dan dia ber jodoh kelak, jagalah hati ini.
            Kali ini Bianca mendatangiku bukan untuk marah-marah, atau jahilin aku. Tapi, dia mulai tertarik dengan hijab. Tapi dia bilang, belum bisa memakainya karena merasa belum ada panggilan hati. Setidaknya dia ingin mengubah sikapnya lebih baik lagi, nanti pelan-pelan ke tahap menutup aurat insyaallah, jalannya selalu mendapat petunjuk Allah. Aamiin.
            Jilbab, hijab, kerudung adalah kain penutup aurat perempuan. Fungsinya menutup bagian rambut dan dada.dan hanya melihatkan wajah saja. Selain itu berhijab mampu menghindari kita dari perbuatan jahat, maksiat, dan lain-lain. Isyaallah, kalau niatnya untuk memperbaiki diri, selalu dapat syafaat. Kalaupun sudah berhijab tapi kelakuan masih tidak baik, dan sudah diperingatkan tapi tetap itu sudah urusannya sama Allah. Intinya berhijab adalah kewajiban. Untuk itu, kita sebagai seorang muslimin untuk men ta’atinya. Yassarallahu...


THE END
BY : Wasi'atul Amalia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar