TITIK
DUA TUTUP KURUNG
Bahagia
adalah hal yang di idamkan setiap orang. Begitupun aku. Aku selalu mencari cara
agar diriku bisa bahagia seperti orang-orang. Walaupun aku sadar, hidup itu gak
selamanya bahagia ataupun sedih. Kehidupan berputar seperti roda.
Setiap
hari saat berangkat kuliah, aku selalu mengembangkan senyumku ketika memandang hamparan
pemandangan hijau dan merasakan udara yang masih asri di daerah pegunungan
sekitar rumahku—kecuali saat siang dan terik tetapi hawanya masih sejuk. Setidaknya
tinggal di daerah pegunungan selalu membuatku tentram dan tak henti-hentinya
berdecak kagum pada ciptaan-Nya sambil tersenyum. Ah, aku jadi merasa GR kala
teman-temanku selalu menjuluki aku, si Manis yang humble.
Memang
benar, aku adalah orang yang mudah bergaul dan termasuk cerewet, hehe. Itulah
aku, tidak ada hari tanpa menyapa teman saat sekedar berpapasan atau bertemu.
Hal ini juga yang selalu di tanyakan Luna—teman dekatku di kampus ini.
“Hai Ndah, sini!” Luna memanggilku yang
baru sampai kampus untuk gabung duduk di sampingnya pas di kelas.
“Oke! Udah dari tadi Lun?” tanyaku
basa-basi.
“Ya, lumayan lah! Eh Lun, bentar lagi
pinjem duit buat bayar kas dan uang arisan ya? Please! Soalnya uangku ketinggalan. Hehe, Indah kan baaiiik...
banget!” teman-teman yang kenal dekat atau sekedar kenal emang gak pernah
sungkan minta tolong padaku. Akupun dengan senang hati dan sukarela nolongin
mereka, karena aku selalu berpikir—saat aku dalam keadaan tersebut, kan tega
kalau gak di tolongin.
“Iya, iya beres!” jawabku mengacungkan
jempol.
“Ih, Indah memang si Manis yang humble nan baik hati. Hehe,
ngomong-ngomong, kenapa sih kamu selalu nolongin mereka—termasuk aku gini,
karena gak semua orang mengiyakan, dan selalu bisa seperti kamu loh Ndah!”
“Ya, kita kan emang harus tolong
menolong bukan? Aku mikir aja, kalau pas aku diposisi itu bagaimana kalau tidak
ada yang menolong. Lagian selama aku bisa kenapa tidak? Kamu juga gitu dong
Lun. Jangan Cuma minta tolong terus!” jelasku dan sedikit menyinggung.
“Ye, iya... iya... nyindir nih
ceritanya!” ku lihat Luna memanyunkan bibir tipisnya, dan aku hanya membalasnya
dengan tertawa.
***
Beberapa
hari ini, keluargaku dalam masalah. Entah mengapa hari-hariku mulai terasa
berat. Aku membutuhkan support.
Bahkan, uang jajan bulananku tak diberikan. Aku mengerti orang tuaku dalam masa
sulit, jadi aku diam saja. Tapi, uang ditabunganku-pun menipis. Aku seperti
hampir kehilangan diriku yang ceria. Untuk saat ini, lagi-lagi hamparan pemandangan di sekitarku saja yang
membuatku tersenyum.
Ku
pikir, aku mungkin bisa curhat atau minta masukan dan nasehat pada teman-teman.
Aku-pun berangkat ke kampus, dengan harapan mendapat hiburan dan semangatku
menyala kembali. Tapi saat tiba disana, dan aku mulai bercerita hasilnya nihil.
Aneh,
awalnya mereka menanggapiku, tapi lama-lama mereka justru ninggalin aku begitu
saja. Ada yang bilang keburu masuk, ada yang bilang sibuk, ada juga yang
awalnya dengerin dengan seksama, tapi ujung-ujungnya bilang, ‘Sori ya Ndah,
kita gak ngerti harus gimana!’. Aku hanya
mendesah pelan, dan membalas mereka dengan senyuman, tak lupa aku bilang
terimakasih. Setidaknya ada yang mau mendengarkan masalahku.
Saat
berada pada keadaan yang seperti ini. Sedih sih, kecewa apalagi. Ternyata sulit
cari teman sejati. Teman yang bukan hanya ada saat butuhnya saja dan ngilang
saat teman yang lain butuh. Ah, benar-benar. Aku hanya bisa tersenyum kecut
seperti ini. Entahlah sampai kapan. Mungkin sampai keuangan keluargaku normal.
Menanggapi
masalahku sendirian seperti ini, aku kan jadi belajar. Bahwa, tidak semua orang
yang kita temui itu baik juga sebaliknya. Kita memang hanya manusia biasa yang
tak luput dari kesalahan. Sebisa mungkin aku hanya menanggapi mereka yang ada
saat butuh, hanya dengan senyum termanisku, hehe. Yang peduli sama aku? Ada kok
tenang aja, bu dosen wali-ku, orangtuaku, mereka ternyata masih mensupportku belakangan ini, dan selalu
berpesan, “Indah namamu, Indah parasmu, kamu-pun harus punya kepribadian yang
Indah. Berikan senyummu untuk dunia agar dunia ikut tersenyum bersamamu..”
intinya sih seperti itu pesan mereka.
Tidak
apa-apa kalau orang lain tak mau menolongku. Aku hanya akan membalasnya dengan
senyumanku, titik dua tutup kurung. Itu saja. Ketika mereka menolak secara
langsung atau bahkan dengan media, seperti SMS atau chatting. Tetep, aku selalu pakai emoji titik dua tutup kurung.
END

Tidak ada komentar:
Posting Komentar