Minggu, 21 Juni 2015

Titik Dua Tutup Kurung



TITIK DUA TUTUP KURUNG

            Bahagia adalah hal yang di idamkan setiap orang. Begitupun aku. Aku selalu mencari cara agar diriku bisa bahagia seperti orang-orang. Walaupun aku sadar, hidup itu gak selamanya bahagia ataupun sedih. Kehidupan berputar seperti roda.
            Setiap hari saat berangkat kuliah, aku selalu mengembangkan senyumku ketika memandang hamparan pemandangan hijau dan merasakan udara yang masih asri di daerah pegunungan sekitar rumahku—kecuali saat siang dan terik tetapi hawanya masih sejuk. Setidaknya tinggal di daerah pegunungan selalu membuatku tentram dan tak henti-hentinya berdecak kagum pada ciptaan-Nya sambil tersenyum. Ah, aku jadi merasa GR kala teman-temanku selalu menjuluki aku, si Manis yang humble.
            Memang benar, aku adalah orang yang mudah bergaul dan termasuk cerewet, hehe. Itulah aku, tidak ada hari tanpa menyapa teman saat sekedar berpapasan atau bertemu. Hal ini juga yang selalu di tanyakan Luna—teman dekatku di kampus ini.
“Hai Ndah, sini!” Luna memanggilku yang baru sampai kampus untuk gabung duduk di sampingnya pas di kelas.
“Oke! Udah dari tadi Lun?” tanyaku basa-basi.
“Ya, lumayan lah! Eh Lun, bentar lagi pinjem duit buat bayar kas dan uang arisan ya? Please! Soalnya uangku ketinggalan. Hehe, Indah kan baaiiik... banget!” teman-teman yang kenal dekat atau sekedar kenal emang gak pernah sungkan minta tolong padaku. Akupun dengan senang hati dan sukarela nolongin mereka, karena aku selalu berpikir—saat aku dalam keadaan tersebut, kan tega kalau gak di tolongin.
“Iya, iya beres!” jawabku mengacungkan jempol.
“Ih, Indah memang si Manis yang humble nan baik hati. Hehe, ngomong-ngomong, kenapa sih kamu selalu nolongin mereka—termasuk aku gini, karena gak semua orang mengiyakan, dan selalu bisa seperti kamu loh Ndah!”
“Ya, kita kan emang harus tolong menolong bukan? Aku mikir aja, kalau pas aku diposisi itu bagaimana kalau tidak ada yang menolong. Lagian selama aku bisa kenapa tidak? Kamu juga gitu dong Lun. Jangan Cuma minta tolong terus!” jelasku dan sedikit menyinggung.
“Ye, iya... iya... nyindir nih ceritanya!” ku lihat Luna memanyunkan bibir tipisnya, dan aku hanya membalasnya dengan tertawa.
***
            Beberapa hari ini, keluargaku dalam masalah. Entah mengapa hari-hariku mulai terasa berat. Aku membutuhkan support. Bahkan, uang jajan bulananku tak diberikan. Aku mengerti orang tuaku dalam masa sulit, jadi aku diam saja. Tapi, uang ditabunganku-pun menipis. Aku seperti hampir kehilangan diriku yang ceria. Untuk saat ini, lagi-lagi  hamparan pemandangan di sekitarku saja yang membuatku tersenyum.
            Ku pikir, aku mungkin bisa curhat atau minta masukan dan nasehat pada teman-teman. Aku-pun berangkat ke kampus, dengan harapan mendapat hiburan dan semangatku menyala kembali. Tapi saat tiba disana, dan aku mulai bercerita hasilnya nihil.
            Aneh, awalnya mereka menanggapiku, tapi lama-lama mereka justru ninggalin aku begitu saja. Ada yang bilang keburu masuk, ada yang bilang sibuk, ada juga yang awalnya dengerin dengan seksama, tapi ujung-ujungnya bilang, ‘Sori ya Ndah, kita gak ngerti harus gimana!’.  Aku hanya mendesah pelan, dan membalas mereka dengan senyuman, tak lupa aku bilang terimakasih. Setidaknya ada yang mau mendengarkan masalahku.
            Saat berada pada keadaan yang seperti ini. Sedih sih, kecewa apalagi. Ternyata sulit cari teman sejati. Teman yang bukan hanya ada saat butuhnya saja dan ngilang saat teman yang lain butuh. Ah, benar-benar. Aku hanya bisa tersenyum kecut seperti ini. Entahlah sampai kapan. Mungkin sampai keuangan keluargaku normal.
            Menanggapi masalahku sendirian seperti ini, aku kan jadi belajar. Bahwa, tidak semua orang yang kita temui itu baik juga sebaliknya. Kita memang hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Sebisa mungkin aku hanya menanggapi mereka yang ada saat butuh, hanya dengan senyum termanisku, hehe. Yang peduli sama aku? Ada kok tenang aja, bu dosen wali-ku, orangtuaku, mereka ternyata masih mensupportku belakangan ini, dan selalu berpesan, “Indah namamu, Indah parasmu, kamu-pun harus punya kepribadian yang Indah. Berikan senyummu untuk dunia agar dunia ikut tersenyum bersamamu..” intinya sih seperti itu pesan mereka.
            Tidak apa-apa kalau orang lain tak mau menolongku. Aku hanya akan membalasnya dengan senyumanku, titik dua tutup kurung. Itu saja. Ketika mereka menolak secara langsung atau bahkan dengan media, seperti SMS atau chatting. Tetep, aku selalu pakai emoji titik dua tutup kurung.
END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar