Jumat, 16 Januari 2015

Satir Satir Cinta



SATIR-SATIR CINTA
Kisahku di mulai saat aku mention Fatin Shidqia Lubis, peserta X Factor RCTI.
RAG_SA@RafsaKeyboardist:
            Tunggu aku Fatin @Fshidqia,aku akan mengiringimu untuk tampil besokk!!! :*:*.
Yah, namaku adalah Rafsanjani, dan aku juga bersekolah di SMA Negeri di daerahku. Aku  punya mimpi yang menurut orang-orang aku itu hanyalah mimpi. Mimpiku adalah menjadi  jodoh Fatin. So what? Aku cowok, apa salah jika aku mengidamkan seorang Fatin? Teman-teman di sekolahku selalu mengira aku ini sedang mengigau. Yah tapi sudahlah apa kata, aku tak ingin berdebat hanya untuk masalah sepele.  
Tiba-tiba saat aku melamun di depan kamarku, mamaku malah panggi-panggil.
“Rafsaaaa! Udah belajar belum?”kata mamaku.
Aku terlonjak kaget dan sadar dari lamunanku.
“Iya ma… ini juga lagi belajar!” kataku yang langsung lari ke meja belajar, karena tadi cuma bengong.
“Oh, ya sudah! Awas saja kamu gak belajar lho, kamu kan sudah kelas 3!” omel mamaku di depan pintu kamar.
“Aduh, iya ma..! aku juga udah tahu kali,” teriakku dari dalam kamar.
Kemudian aku merasa ngantuk yang amat sangat, dan tak terasa aku tertidur di meja belajar.
            Keesokannya di sekolah, saat jam setelah istirahat  aku dan Beno,teman kelasku sedang asyik ngobrol karena tidak ada pelajaran.
“Ah.. Ben sekarang jam 11 ya?” kataku melirik arloji Gucci milikku.
“Iya, kenapa emang?” sahut Beno.
“Kayaknya gue harus pulang dulu deh!” jawabku.
“Emang loe mau kemana coba, buru-buru amat sih?” tanya Beno lagi yang mulai heran.
“Mau latihan band gue!” jawabku sekenanya.
“Ngapain? Lagi ada lomba ya?” tanya  Beno yang penasaran.
“Enggak, cuma latihan buat nanti kalo ketemu Fatin-nya nggak  kagok gitu” kataku asal.
“Ngehahahaha…. :D !Masih mimpi aja loe Raf!” Beno meledekku.
“Ah udah ah! Gue emang  bakal ikutan lomba Festival band, makanya gue latian. Tapi loe liat aja, satu setengah tahun lagi gue bakal dapetin Fatin! Camkan itu Ben.” aku berkata sok serius.
“Hahaha,,, iyee, iye, gue percaya kok!”terlihat  Beno menahan tawanya.
            Aku ini sebenarnya juga pemain band. Aku adalah keyboardist di The Curut Band. Lagi pula kata teman-temanku aku sudah seperti Kevin Aprilio,hehe. Jadi rasa kepercayaan diriku mulai tinggi ketika aku di bilang seperti Kevin. Nama bandku memang aneh. Tau lah itu inspirasi dari mana. Minggu depan kami akan mengikuti Festival band, makanya harus latihan keras.
Sepekan kemudian,
            Band kami sudah standby untuk tampil, tinggal menunggu giliran saja. Saat akhirnya band  kami sudah tampil ada rasa lega karena bisa melewati masa demam panggung tetapi deg-degan juga karena menunggu hasil pengumuman.
Akhirnya pengumuman-pun di sampaikan. Aku benar-benar kecewa, sedih, dan sedikit menyesal karena tidak memberikan yang terbaik untuk band. Mungkin ini bukan rezeki kita kali ya. Tapi yang nggak aku duga dan gak aku sangka. Aku di nobatkan sebagai “The Best Keyboardist Of The Year”. Aku benar-benar gak bisa ungkapkan dengan kata-kata. Ternyata  aku masih di beri kesempatan untuk berbahagia. Thank’s God.
            Tiba-tiba ada seseorang yang menghampriku .
“Selamat Rafsa, sudah jadi Best!”kata orang itu tiba-tiba.
“Iya, terima kasih. Anda siapa ya?” tanyaku.
“Saya Dedy, saya punya tawaran untuk kamu.” kata pak Dedy.
“Tawaran?” aku mengangkat alis kananku, heran.
“Iya, saya  tawarkan kamu untuk main keyboard di kafe saya, rewardnya terserah kamu sudah!” tawar pak Dedy.
“Beneran pak? Rewardnya terserah? Saya pengen Roland RD 700 Gx. Saya pengen banget !” jawabku yang memang pengen banget sama Roland RD 700 itu.
“Itu mudah, asal kamu main di kafe selama satu minggu.” pak Dedy mengelus-ngelus janggutnya.
“Tentu pak!” jawabku sumringah.
            Beberapa hari ini aku sudah mulai bekerja, atau lebih tepatnya jadi pemain keyboard di kafe pak Dedy. Tiba-tiba saat aku main ada seseorang yang mengagetkanku .
“Hey, permainanmu keren lho!”kata seorang cewek tiba-tiba di belakangku.
“Hah? Fahh.. Fahh.. FAATINN?”  aku  sedikit terperangah.
“Lho, kok kaget sih? Bener lho, kamu bagus mainnya. Mau dong aku di dampingi kamu saat nyanyi?”katanya lagi.
“Iiii.. ii. Iya..” kataku masih tidak percaya.
            Singkat cerita, akhirnya aku bisa dekat dengan Fatin dan aku gak lupa untuk pamer ke teman-temanku, terutama Beno.
RAG_SA@RafsaKeyboardist:
@BenoCa’em gue uda bisa ni ngedapetin Fatin yeyy.. J. G usah nunggu 1 ½ taon. Loe g bisa buat bully gue lg lhoo.. :D.
Seminggu ini aku deket banget sama Fatin. Benar-benar gak di sangka. Mimpi apa aku ini bisa dekat sama Fatin.
            Puncak acara, saat Fatin tampil di X Factor aku yang dampingi dia.  Aku seneng banget. Apalagi pas di komentarin aku juga di sebut, katanya permainanku bagus banget deh. Wah bener-bener seneng aku. Pokoknya hoki banget deh.


Pas di ruang ganti Fatin menemuiku.
“Rafsa! Sumpah kamu keren, padahal belum latihan sama sekali dan kamu bisa mix banget sama laguku.” tutur Fatin.
“Ah, biasa aja lagi. Lagian memang tugas seorang keyboardist harus bisa dong nge-mix segala macam lagu.” aku melengkungkan bibirku tersenyum semanis mungkin.
            Tidak terasa sudah seminggu aku mengisi jadwal keyboard di kafe pak Dedy. Hari ini adalah hari terakhir, dan terakhir pula untuk bersama Fatin. Haaahh, sedih juga sih karna aku harus kembali ke daerahku. Oh ya lupa, aku ini tinggal di daerah pinggiran kota di Banten. Karena kontrakku dengan pak Dedy juga sudah selesai artinya aku akan pulang ke Banten. Dan aku akan meninggalkan ibu kota tercinta, Jakarta. Aku juga sudah mendapatkan Roland RD 700 itu. Saat aku lihat twitterku, Fatin mention aku untuk ketemuan.
FatinSL@Fshidqia:
@RafsaKeyboardist pngen ktmu km, ktanya trakhir d JKT ya? Ktmuan d kafe aja ya, km jgn plg dlu. Aku mo ksana! J.
            Setelah baca mentionnya aku menunggunya sambil duduk di tempat pengunjung. Selama di kafe ini aku tak pernah duduk dan menikmati sebagai pengunjung. Layaknya pengunjung aku juga pesan minum sambil nunggu Fatin. Beberapa menit kemudian Fatin pun datang, dengan gayanya yang casual dan sederhana. Aku jadi makin seneng sama dia.
“Hey, Rafsa!”. Fatin melambai-lambai padaku.
“Hai!” balasku juga melambai.
“Aku kelamaan ya?” dia langsung menghambur ke tempat dudukku.
“Ah, nggak kok. Nyantai aja lagi !” jawabku yang gak mau buat dia kecewa tentunya.
“Hmm, ngomong-ngomong, kamu akan pulang hari ini juga?”wajahnya terlihat  kecewa. Aku jadi gak tega.
“Emm, iya. Aku pulang setelah bertemu denganmu!” aku meletakkan keyboard baruku di lantai.
“Kok terburu-buru banget sih?” Fatin mengerucutkan bibir mungilnya, lucu sekali.
Iya, mamaku udah telvon aja. Katanya jangan lama-lama liburannya soalnya udah kelas 3.jawabku.
“Oh iya kamu kelas 3 ya? Sekarang emang lagi liburan kah?” dia menyeruput minumannya yang baru datang.
“Iya, libur semester, dan aku habiskan liburanku di sini.”
“Kamu kan kerja di sini kok di bilang liburan sih, aneh kamu!”k ata Fatin yang heran.
“Haha, nggak tuh! Aku nggak merasa ini adalah pekerjaan, karena aku nganggapnya di buat enjoy  aja. Dan tentunya tambah seneng karena udah kenal kamu. Jujur ya, aku udah ngefans berat sama kamu dari dulu.” ceritaku yang mulai flashback.
“Oh ya? Kok bisa sih udah ngefans padahal aku kan cuma peserta!” Fatin  merendah.
“Bagiku kamu artisku Fatin!”aku sebenarnya tidak berbakat  gombal.
“Emm, Rafsa! Gak tau kenapa aku selalu nyaman deket sama kamu, padahal baru kenal. Dan aku tertarik untuk mengenal kamu karena kamu mainnya bagus”.dia menundukkan kepalanya seperti, malu?
“Ah,, kamu gitu deh, aku kan biasa aja mainnya. Masih banyak yang bagus seperti Kevin Aprilio. Sedangkan aku cuma keyboardist rendahan kelas daerahan.” tuturku merendah.
“Ye, bener lagi aku gak bohong!” sepertinya Fatin jujur.
            Setelah kami berbincang-bincang ria di kafe, gak terasa udah 2 jam kami di sana. Akupun bilang ke Fatin bahwa aku akan pulang 30 menit lagi. Akhirnya Fatin memberiku sebuah mainan piano yang kalau di buka akan terdengar bunyi-bunyian. Fatin juga mengantarku sampai di luar kafe, dia melambaikan tangannya kepadaku yang akan menyebrang dengan membawa keyboardku. Tiba-tiba karena kelalaianku aku lupa kalau aku sedang menyebrang, karena aku terfokus oleh Fatin. Fatin berteriak histeris,
“Rafsaaaaa  awaaaaassssssssss!!!!!” teriak Fatin.
Aku yang tak sempat menyelamatkan diri karena tiba-tiba truk besar menghantam tubuhku dan semuanya gelap.
“Braaaakkk.”
“Auuuuuhhh,, adduuuhhh. Sakit banget! Lho, kok gue ada di kamar sih? Bukannya tadi gue ketabrak truk ya? Terus Fatinnya mana? Aiiisshhh sakit banget kepala nih kepentok meja belajar! Ha? Meja belajar! Berartii,,, berarti ini semua mimpi??? Hah? Jam 7 pagi, gaawaaaatttt guee telaaaaaattttt!!! Mamaaaa.. kok gak bangunin Rafsaa !!!”.


The End

By: Wasi’atul Amalia (084131109) // 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar