SATIR-SATIR CINTA
Kisahku di mulai saat aku mention Fatin Shidqia Lubis, peserta X Factor RCTI.
RAG_SA@RafsaKeyboardist:
Tunggu aku Fatin @Fshidqia,aku akan
mengiringimu untuk tampil besokk!!! :*:*.
Yah, namaku adalah Rafsanjani, dan aku juga bersekolah di
SMA Negeri di daerahku. Aku punya mimpi yang menurut orang-orang aku itu
hanyalah mimpi. Mimpiku adalah menjadi
jodoh Fatin. So what? Aku
cowok, apa salah jika aku mengidamkan seorang Fatin? Teman-teman di sekolahku
selalu mengira aku ini sedang mengigau. Yah tapi sudahlah apa kata, aku tak
ingin berdebat hanya untuk masalah sepele.
Tiba-tiba
saat aku melamun di depan kamarku, mamaku malah panggi-panggil.
“Rafsaaaa!
Udah belajar belum?”kata
mamaku.
Aku
terlonjak kaget dan sadar dari lamunanku.
“Iya
ma… ini juga lagi belajar!” kataku yang langsung lari ke meja belajar, karena
tadi cuma bengong.
“Oh,
ya sudah! Awas saja kamu gak belajar lho, kamu kan sudah kelas 3!” omel mamaku di depan
pintu kamar.
“Aduh,
iya ma..! aku juga udah tahu kali,”
teriakku dari dalam kamar.
Kemudian
aku merasa ngantuk yang amat sangat, dan tak terasa aku tertidur di meja
belajar.
Keesokannya di sekolah, saat jam
setelah istirahat aku dan Beno,teman
kelasku sedang asyik ngobrol karena tidak ada pelajaran.
“Ah..
Ben sekarang jam 11 ya?” kataku melirik arloji Gucci milikku.
“Iya,
kenapa emang?” sahut
Beno.
“Kayaknya
gue harus pulang dulu deh!” jawabku.
“Emang
loe mau kemana coba, buru-buru amat sih?” tanya
Beno lagi yang mulai heran.
“Mau
latihan band gue!” jawabku sekenanya.
“Ngapain?
Lagi ada lomba ya?” tanya Beno yang penasaran.
“Enggak,
cuma latihan buat nanti kalo ketemu Fatin-nya nggak kagok
gitu” kataku asal.
“Ngehahahaha….
:D !Masih mimpi aja loe Raf!” Beno meledekku.
“Ah
udah ah! Gue emang bakal ikutan lomba
Festival band, makanya gue latian. Tapi loe liat aja, satu setengah tahun lagi
gue bakal dapetin Fatin! Camkan itu Ben.” aku
berkata sok serius.
“Hahaha,,,
iyee, iye, gue percaya kok!”terlihat Beno menahan tawanya.
Aku ini sebenarnya juga pemain band.
Aku adalah keyboardist di The Curut Band. Lagi pula kata teman-temanku aku
sudah seperti Kevin Aprilio,hehe. Jadi rasa kepercayaan diriku mulai tinggi
ketika aku di bilang seperti Kevin. Nama bandku memang aneh. Tau lah itu
inspirasi dari mana. Minggu depan kami akan mengikuti Festival band, makanya
harus latihan
keras.
Sepekan
kemudian,
Band kami sudah standby untuk tampil, tinggal menunggu
giliran saja. Saat akhirnya
band kami sudah tampil ada rasa lega
karena bisa melewati masa demam panggung tetapi deg-degan juga karena menunggu
hasil pengumuman.
Akhirnya pengumuman-pun di sampaikan. Aku
benar-benar kecewa, sedih, dan sedikit menyesal karena tidak memberikan yang
terbaik untuk band. Mungkin ini bukan rezeki kita kali ya. Tapi yang nggak aku
duga dan gak aku sangka. Aku di nobatkan sebagai “The Best Keyboardist Of The Year”. Aku benar-benar gak bisa
ungkapkan dengan kata-kata. Ternyata aku
masih di beri kesempatan untuk berbahagia. Thank’s
God.
Tiba-tiba ada seseorang yang
menghampriku .
“Selamat
Rafsa, sudah jadi Best!”kata orang itu
tiba-tiba.
“Iya,
terima kasih. Anda siapa ya?” tanyaku.
“Saya
Dedy, saya punya tawaran untuk kamu.” kata
pak Dedy.
“Tawaran?”
aku mengangkat alis kananku, heran.
“Iya,
saya tawarkan kamu untuk main keyboard
di kafe saya, rewardnya terserah kamu
sudah!” tawar pak Dedy.
“Beneran
pak? Rewardnya terserah? Saya pengen
Roland RD 700 Gx. Saya pengen banget !” jawabku yang memang pengen banget sama
Roland RD 700 itu.
“Itu
mudah, asal kamu main di kafe selama satu minggu.” pak Dedy mengelus-ngelus janggutnya.
“Tentu
pak!” jawabku sumringah.
Beberapa hari ini aku sudah mulai
bekerja, atau lebih tepatnya jadi pemain keyboard di kafe pak Dedy. Tiba-tiba
saat aku main ada seseorang yang mengagetkanku .
“Hey,
permainanmu keren lho!”kata
seorang cewek tiba-tiba di belakangku.
“Hah?
Fahh.. Fahh.. FAATINN?” aku sedikit terperangah.
“Lho,
kok kaget sih? Bener lho, kamu bagus mainnya. Mau dong aku di dampingi kamu
saat nyanyi?”katanya
lagi.
“Iiii..
ii. Iya..” kataku
masih tidak percaya.
Singkat cerita, akhirnya aku bisa
dekat dengan Fatin dan aku gak lupa untuk pamer ke teman-temanku, terutama
Beno.
RAG_SA@RafsaKeyboardist:
@BenoCa’em
gue uda bisa ni ngedapetin Fatin yeyy.. J.
G usah nunggu 1 ½ taon. Loe g bisa buat bully gue lg lhoo.. :D.
Seminggu
ini aku deket banget sama Fatin. Benar-benar gak di sangka. Mimpi apa aku ini
bisa dekat sama Fatin.
Puncak acara, saat Fatin tampil di X
Factor aku yang dampingi
dia. Aku seneng banget. Apalagi pas di
komentarin aku juga di sebut, katanya permainanku bagus banget deh. Wah
bener-bener seneng aku. Pokoknya hoki banget deh.
Pas
di ruang ganti Fatin menemuiku.
“Rafsa!
Sumpah kamu keren, padahal belum latihan sama sekali dan kamu bisa mix banget sama laguku.” tutur Fatin.
“Ah,
biasa aja lagi. Lagian memang tugas seorang keyboardist harus bisa dong nge-mix segala macam lagu.” aku melengkungkan bibirku tersenyum semanis mungkin.
Tidak terasa sudah seminggu aku
mengisi jadwal keyboard di kafe pak Dedy. Hari ini adalah hari terakhir, dan
terakhir pula untuk bersama Fatin. Haaahh, sedih juga sih karna
aku harus kembali ke daerahku. Oh ya lupa, aku ini tinggal di daerah pinggiran
kota di Banten. Karena kontrakku dengan pak Dedy juga sudah selesai artinya aku
akan pulang ke Banten. Dan aku akan meninggalkan ibu kota tercinta, Jakarta.
Aku juga sudah mendapatkan Roland RD 700 itu. Saat aku lihat twitterku, Fatin
mention aku untuk ketemuan.
FatinSL@Fshidqia:
@RafsaKeyboardist
pngen ktmu km, ktanya trakhir d JKT ya? Ktmuan d kafe aja ya, km jgn plg dlu.
Aku mo ksana! J.
Setelah baca mentionnya aku menunggunya sambil duduk di tempat pengunjung.
Selama di kafe ini aku tak pernah duduk dan menikmati sebagai pengunjung.
Layaknya pengunjung aku juga pesan minum sambil nunggu Fatin. Beberapa menit
kemudian Fatin pun datang, dengan gayanya yang casual dan sederhana. Aku jadi makin seneng sama dia.
“Hey,
Rafsa!”. Fatin
melambai-lambai padaku.
“Hai!”
balasku juga melambai.
“Aku
kelamaan ya?” dia
langsung menghambur ke tempat dudukku.
“Ah,
nggak kok. Nyantai aja lagi !” jawabku yang gak mau buat dia kecewa tentunya.
“Hmm,
ngomong-ngomong, kamu akan pulang hari ini juga?”wajahnya terlihat kecewa. Aku jadi gak tega.
“Emm,
iya. Aku pulang setelah bertemu denganmu!”
aku meletakkan keyboard baruku di lantai.
“Kok
terburu-buru banget sih?” Fatin
mengerucutkan bibir mungilnya, lucu sekali.
“Iya, mamaku udah telvon
aja. Katanya jangan lama-lama liburannya soalnya udah kelas 3.” jawabku.
“Oh
iya kamu kelas 3 ya? Sekarang emang lagi liburan kah?” dia menyeruput minumannya yang baru datang.
“Iya,
libur semester, dan aku habiskan liburanku di sini.”
“Kamu
kan kerja di sini kok di bilang liburan sih, aneh kamu!”k ata Fatin yang heran.
“Haha,
nggak tuh! Aku nggak merasa ini adalah pekerjaan, karena aku nganggapnya di buat enjoy aja. Dan tentunya tambah seneng karena udah
kenal kamu. Jujur ya, aku udah ngefans
berat sama kamu dari dulu.” ceritaku
yang mulai flashback.
“Oh
ya? Kok bisa sih udah ngefans padahal
aku kan cuma peserta!” Fatin merendah.
“Bagiku
kamu artisku Fatin!”aku sebenarnya
tidak berbakat gombal.
“Emm,
Rafsa! Gak tau kenapa aku selalu nyaman deket sama kamu, padahal baru kenal.
Dan aku tertarik untuk mengenal kamu karena kamu mainnya bagus”.dia menundukkan kepalanya seperti, malu?
“Ah,,
kamu gitu deh, aku kan biasa aja mainnya. Masih banyak yang bagus seperti Kevin
Aprilio. Sedangkan aku cuma
keyboardist rendahan kelas daerahan.” tuturku
merendah.
“Ye,
bener lagi aku gak bohong!” sepertinya
Fatin jujur.
Setelah kami berbincang-bincang ria
di kafe, gak terasa udah 2 jam kami di sana. Akupun bilang ke Fatin bahwa aku
akan pulang 30 menit lagi. Akhirnya Fatin memberiku sebuah mainan piano yang
kalau di buka akan terdengar bunyi-bunyian. Fatin juga mengantarku sampai di
luar kafe, dia melambaikan tangannya kepadaku yang akan menyebrang dengan
membawa keyboardku. Tiba-tiba karena kelalaianku aku lupa kalau aku sedang
menyebrang, karena aku terfokus oleh Fatin. Fatin berteriak histeris,
“Rafsaaaaa awaaaaassssssssss!!!!!” teriak Fatin.
Aku
yang tak sempat menyelamatkan diri karena tiba-tiba truk besar menghantam
tubuhku dan semuanya gelap.
“Braaaakkk.”
“Auuuuuhhh,,
adduuuhhh. Sakit banget! Lho, kok gue ada di kamar sih? Bukannya tadi gue
ketabrak truk ya? Terus Fatinnya mana? Aiiisshhh sakit banget kepala nih
kepentok meja belajar! Ha? Meja belajar! Berartii,,, berarti ini semua mimpi???
Hah? Jam 7 pagi, gaawaaaatttt guee telaaaaaattttt!!! Mamaaaa.. kok gak bangunin
Rafsaa !!!”.
The End
By:
Wasi’atul Amalia (084131109) // 2012
