Senin, 14 Agustus 2017

TENTANG EXO

TENTANG EXO


Hola!!! Anyeonghaseo! Neaga Lia imnida. Hoho. Baru kali ini nih chingu gue bakal mengulas tentang KURIYAH*Korea. Hehe padahal dari SMP juga udah tertarik sama dunia enterteinnya sana, Cuma gak terlalu hectic. Ya ada saat-saat gue bakal heboh sih, heheh… mianhaeo.

Oke balik lagi, langsung aja ya chingu… kita bakal bahas EXO yah kayaknya udah telat banget setelah mereka debut beberapa tahun silam. Yups, boyband dari SM Ent. Ini adeknya Super Junior yang sudah hengkang karena kesibukan personelnya. Gue udah tahu EXO ini sejak awal tahun 2014-an sih, Cuma biasa aja nih ching… banyak temen gue yang EXO-L (Fansgirlnya EXO) suka ngerekomendasikan boyband ini, tapi selama itu gue Cuma suka sesaat dan hanya menikmati drama-dramanya, no music. Sampai akhirnya, sekitar tahun 2015 temen gue menyodorkan webdrama judulnya EXO NEXT DOOR, and then exactly gue langsung jatuh cintrong sama yang namanya CHANYEOL oppa*sarangeo :* :P. karena suka pada pandangan pertama, kalau ada EXO yang di cari pasti Chanyeol, heheh*jinjjaru. Semua/ eh gak juga sih, beberapa acara yang di ikuti Chanyeol gue tonton. Contohnya, Roomates 1, Law of Jungle, Returs Superman, Running man*walau sekedar bintang tamu sih. Sampai temen gue nawarin drama-daramanya D.O member EXO yang lain yang jago acting. Kalau D.O sih gue gak begitu suka, soalnya dia agak cupu, polos, dan pendek*upps mian oppa. 

Sampai akhirnya gue juga di tawari drama-dramanya si Baekhyun, ya ampun ni orang imut kali kek, kayak cabe*emang cabe kan yaa?. Pada akhirnya member yang paling gue inget pastinya Chanyeol, D.O, dan Baekhyun aja. Waktu itu EXO udah yang ot. 9. Karena katanya member EXO-M tinggal Lay doang.
Sampai di tahun 2016 temen KKN gue EXO-L juga hectic terus update tentang EXO, Cuma gue gak begitu respon, nah, dari sini gue tahu sama member yang bernama SEHUN*Sehunnie cuuwayoo. Gue lihat okelah, ganteng. Cuma biasa aja.
Beberapa bulan kemudian, di tahun 2017 gue ketemu temen gue SMA yang EXO-L juga. gue tanya, kenapa banyak yang suka EXO apa bagusnya, sampai murid-murid gue PPL hectic buat beli merchennya. Dia bilang, wah coba lo buka youtube, nonton video music atau pas konsernya, bagus di jamin bakal ketagihan, coba deh. gitu katanya, cuman gue gak ngecek sih, ehheh*mian chingu.
Akhirnya bulan Juli 2017 EXO resmi comeback dan rilis album ke 4 nya dengan judul THE WAR. Dan semua pada update KO KO BOB. And then, gue yang suka nongkrongin channel Korea  macam SBS dan KBS World akhirnya mendengarkan dengan telinga gue sendiri, tanpa suruh dan tanpa paksa performance si EXO dengan judul THE EVE. Oke fix, lagunya kereennn parah…. Gue Cuma bisa angguk-angguk. Setelah beberapa kali tidak sengaja mendengar di TV lagunya THE EVE juga KO KO BOB, gue pun stalking ignya mereka*khusus Chanyeol gue udah follow dari dulu.
Gue stalking-stalking mereka, and then, gue udah suka sama lagu lagu di album THE WAR ini. Akhirnya setiap gue lihat mereka performance fakus gue gak lagi Chanyeol, tapi malah ke Sehun. Nah lo, ternyata dia juga kuat auranya chingu. Jadi deh lama-lama gue stalking semua membernya yang sekarang ot.8 alias EXO-K doang karena Lay tidak ikut comeback di album ini.
Oke deh chingu, kita bahas para member yang ternyata ganteng semua*barusadar#plak!mian. ini mereka versi yang gue liat ya!


1.        CHANYEOL. Namanya Park Chanyeol, lahir tanggal 27 November 1992. Posisinya di EXO adalah sebagai main rapper. Chayeol punya telinga yang kayak kurcaci, para fans memanggilnya CY kadang Duda(gue gak tahu juga). Setelah di tinggal EXO-M Chanyeol jadi member tertinggi*daebak oppa!. Gue kira dia kagak bisa nyanyi krn suaranya rendah dan nge-bass banget gimana ya? Ternyata dia membuktikan kalo dia bisa jadi rapper yang keren krn banyak kemajuan di suaranya*sekarang serak-serak basah. Chanyeol ini orangnya sangat humble dan happy virus, dia ceria dan rame, cerewet banget juga. jadi siapapun yang berteman dengannya akan merasa bahagia*mau dong bertemen oppa. Selain di EXO Chanyeol sering main drama dan film, aktingnya bagus. Pokoknya mah Chanyeol itu si ceria yang ramah. 



2.       SEHUN. Nama aslinya Oh Sehun. Lahir tanggal 12 April 1994. Posisinya adalah dancer dan rapper. Sehun jadi member tertinggi kedua setelah Chanyeol. Sehun merupakan maknae*anggota termuda di EXO, namun karena posturnya yang semampai tak jarang para fans menjulukinya sebagai maknae rasa hyung*kakak. Awalnya gue tahu Sehun di drama EXO NEXT DOOR, dia biasa aja—kalah sama D.O. tapi sekarang, Wuiihh*ngiler gue liatnya oppa. Oh ya, Sehun ini yang dulu jadi trending topic di Indonesia karena pake sandal swallow warna ijo, katanya sih karena kakinya cedera dan tidak bisa pakai sepatu*Kamsahamnida oppa. Berkat Sehun sandal swallow jadi viral lho. Sehun ini cadel*wkwkwkwk thenun pakai thandal thwallow warna ijo. Jadi dia agak susah melafalkan huruf ‘S’, padahal namanya berawal dari ‘S’. dia adalah member baby face. Tapi menurut gue dia cool dan hot*weeeh anaknya dispenser dong?. Suaranya rendah dan sangat berat. Sehun juga member yang gak bisa nyanyi kata netizen, baru-baru ini gue sadar—suaranya biasa saja—masih mending si Chanyeol, tapi karena pesonanya, orang ganteng mah bebas. Maknae satu ini lebih pendiam dan pemalu, makanya dia gak rame kayak hyung-hyungnya macam Chayeol dan Baekhyun. Selain di EXO yang gue tahu Sehun juga sering jadi model. Tapi kalo acting kayaknya jarang deh. Sehun yang tinggi semampai, putih mulus, wajah ganteng, membanggakan Indonesia* Pas performance kokobob pakai batik*uuhhhseneng, sayangnya suara pas-pasan.


3.       SUHO. Nama aslinya Kim Junmyeon. Lahir tanggal 22 mei 1991. Posisinya adalah leader*dari awal sampai sekarang dan vocal. Suho di EXO mengurus anak buahnya layaknya anak-anaknya. Suho ini dikabarkan menjadi member terkaya di EXO, makanya para netizen menjulukinya ‘SUHONGONG/HOLANG KAYA/HOLKAY’. Padahal di banding Suho, D.O lebih kaya. Suho sering mentraktir member lainnya. Suho memiliki suara yang baik dan wajah rupawan*kelihatan holkay-nya bro. Suho juga ber acting selain menyanyi. Dia beberapa kali jadi cameo. Wajah yang rupawan itu seperti malaikat kata gue, kelihatan baik banget deh gak terlihat SUHONGONG sama sekali dan keibuan*kata member lain. 



4.       KAI. Nama aslinya Kim Jong In. lahir tanggal 14 Januari 1994. Posisinya dancer machine dan rapper, kadang vocal. Maknae kedua di EXO. Kai juga member tertinggi ketiga setelah Sehun, kalau mereka*member tinggi(Chanyeol, Sehun, dan Kai) di gabung para fans menamai mereka dengan “geng bangsad”. Kai merupakan sebutan dari kata kamjjong*item. Karena Kai adalah member yang paling Item, pesek, dan juga paling yadong*mesum kata member lain. selain itu Kai juga di bilang rakyat jelata*rakjel, karena wajahnya yang kusam*yaampun kasihan banget oppa. Netizen sering membully Kai yang rakjel dan Suho yang holkay, katanya Kai itu pembantunya si Holkay(Suho)*kasiankasiankasian. Walaupun begitu, Kai merupan visual utama di EXO. Padahal mah semua member itu VISUAL menurut gue sih. Banyak netizen yang mengkritik hubungannya dengan Krystal f(x), tapi mereka sudah putus. Kai juga terlihat maknae rasa hyung. Dia juga jadi model dan acting di luar EXO. 


5.       BAEKHYUN. Nama aslinya Byun Baekhyun. Lahir tanggal 6 mei 1992. Posisinya adalah lead vocal. Baekhyun adalah member terberisik dengan Chanyeol, karena mereka sekamar di asrama sehingga virus berisik itu menjadi doble-doble. Baekhyun suka memakai eyeliner saat performance. Suara Baekhyun itu indah banget setelah D.O, dari semua member sih. Baekhyun itu hyung rasa cabe, haha netizen mengatakan kalo Baekhyun ini kaya cabe—soalnya centil banget dan kayak cewek, mukanya juga imut banget*gue jadi emess pengen nyubit. Walaupun begitu Baekhyun ahli masalah percintaan, bahkan Chanyeol*yang cowok tulen kalah. Haha. Baekhyun juga merambah ke dunia ackting, dia juga pengen jadi model. 



6.       D.O. Nama aslinya Do Kyung Soo. Lahir tanggal 12 Januari 1993. Posisinya adalah main vocal. D.O ini sebenarnya orang kaya karena orangtuanya, namun ia bersikap rendah diri dan tidak sombong, penampilannya juga tidak terlihat mentereng. D.O memiliki suara emas, aktingnya juga keren di banding Chanyeol. D.O punya bakat yang sempurna. Dia kaya, suara emas, acting total, dan rendah diri. Namun, ia terlihat sensitive—kalo menurut gue sih, D.O juga terlihat polos dan kadang di bully member lain.  wajahnya tidak terlihat kaya sih. Cita-citanya adalah jadi petani*what the? Gue aja pengen jadi artis oppa, lu kok pengen jadi petani. D.O juga suka memasak.


7.       CHEN. Nama aslinya Kim Jong Dae. Lahir tanggal 21 September 1992. Posisinya adalah lead vocal. Suara Chen tak kalah dengan Baekhyun, karena ia pernah isi OST DoTS. Chen merupakan member yang pekerja keras. Tak banyak yang gue ketahui tentang Chen, tapi yang jelas Chen pernah sedih dan curhat—kalau dirinya jarang di jadikan bias oleh para fans EXO yang notabennya memiliki bias yang mereka idolakan*poor Chen. Sampai saat ini Chen lebih sering menjadi bintang tamu reality show bersama EXO.


8.       XIUMIN. Nama aslinya Kim Min Seok. Lahir tanggal 26 maret 1990. Posisinya sebagai vocalist. Xiumin memiliki pipi yang chubby, terkadang di panggil Umin dan sebutannya saat kecil adalah Baozi (semacam bakpau di China). Xiumin adalah fake maknae di EXO. Xiumin sangat takut akan ketinggian. Xiumin orang yang sangat bersih, ia tak dapat berbagi ruangan dengan member lain di dorm karena menjaga kebersihannya dan dia cenderung pendiam. Xiumin merupakan member yang juga suka pakai eyeliner saat performance. Suaranya tak kalah dengan Suho. Xiumin merupakan member tertua di EXO.

9. LAY. Nama aslinya Zhang Yixing. lahir tanggal 7 oktober 1991. Posisinya sebagai dance machine, rapper, vocalist. Lay adalah satu-satunya member dari China yang tersisa.  Lay sebenarnya cerdas, namun karena raut wajahnya yang terlihat lelah dan mudah mengantuk, membuat member lainnya memanggil Lay yang artinya tempat tidur, para fans juga menjulukinya "ogeb" karena wajahnya dan cara berbicara Koreanya yang aneh. di luar itu, Lay memiliki kemampuan dance yang menakjubkan dan pandai menulis bahkan mengcompose lagu.

Oke chingu. Thanks sudah baca curcol gue yang lagi hectic sama boyband ini—yang mendadak suka setelah album the war, mohon maaf apabila tidak sesuai, semua itu berdasar dari apa yang saya baca dan lihat di laman lainnya.

MASA MUDA 14 (LAST)




MASA MUDA EP. 14


            Dengan beraninya Adam mencium pipi Safina mebuat Safina hilang kesadaran. Dia benar-benar gila. Keduanya gila. Ingin rasanya saat itu juga Safina memuntahkan sumpah serapah, menampar, menjitak, menjambak, bahkan menendang bokong lelaki jangkung itu. Tapi tubuhnya kaku, mulutnya terkunci, ia seperti patung. Aliran darahnya berdesir, suhu tubuhnya panas-dingin, dan jantungnya berdegub kencang. Setelah ia cukup sadar, Safina mencari sosok yang kurang ajar itu. Namun, hatinya menghangat kala melihat lelaki itu.
            “A-pakah ini namanya aku juga mencintainya?” gumam Safina sambil memegang pipinya, ia tersenyum menyadarinya.
            Safina pun segera beranjak menemui lelaki itu, ia tak habis pikir, apakah keputusannya tepat? Namun hatinya sudah sangat amat yakin—karena beberapa hari ini sudah uring-uringan.
            Melihat Safina yang terus tersenyum membuat Adam yang awalnya canggung pun ikut tersenyum malu-malu. Dengan cepat Safina menautkan jari-jarinya ke jari-jari Adam. Adam yang sadar mengeratkan genggaman itu, mereka berjalan sambil terus tersenyum dan menggoyang-goyangkan gandengannya. Sesekali Adam menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia masih belum mengerti dengan Safina.
            Setelah pulang dari coffeshop waktu sudah menjelang malam, mereka memutuskan untuk segera berkemas dan memanggil taksi untuk ke bandara Auckland. Yah nanti jam 12 malam mereka harus sudah take off. Saat taksi itu datang, Safina menarik kuping Adam yang tinggi itu, Adam pun membungkuk.
            “Denger ya? Gue ngomong sekali dan gak akan gue ulangi lagi, jadi denger baik-baik!” cetus Safina lalu membisikkan kata-kata itu di telinga Adam.
            “Ha? A-apa!” pekik Adam masih syok dengan bisikan Safina dan membuatnya melamun.
            “Lo mau pulang ke Indonesia apa masih mau disini?” titah Safina yang sudah masuk taksi dan dibarengi dengan delikan matanya. Adam-pun segera memasuki taksi dan tersenyum.
            “Makasih ya Fin!” Adam pun menarik tangan Safina dan menggenggamnya.
            Yah, rupanya bisikan tadi adalah jawaban pernyataan Adam saat bungee. Safina mengatakan kalau dirinya juga memiliki rasa yang sama dengan Adam, itu yang membuat Adam terus tersipu malu dan tak henti-hentinya menebar senyum. Ternyata New Zealand mampu memberikan cerita cinta dan menaburkan bunga-bunga buat keduanya.
            Bagaimana dengan Reza? Safina telah menyiapkan jawaban terbaiknya untuk Reza. Karena yang dirasakannya adalah sayang bukan cinta.
***
Jakarta,
            Seperti yang diduga, Safina ternyata telah ditunggu ketiga sahabatnya itu—Reza, Ralin, Oskar. Safina langsung menghambur—awalnya sih, namun ia melupakan sesuatu, masalah Reza, Ralin. Ia bingung harus bersikap seperti apa, apakah ia harus berpura-pura.
            Tanpa sadar Adam yang berada di belakang Safina merangkul bahunya, ia meremas bahu Safina, maksudnya bahwa semua akan baik-baik saja.
            Safina memeluk ketiga sahabatnya sekaligus—kangen, pasti. Namun masalahnya cukup memberi benteng—mungkin hanya Oskar yang menyadarinya.
            “Gila, Fina lo enak banget bisa liburan ke NZ, gue juga pengen kali,” celetuk Oskar.
            “Ah lo kan bisa nabung kalo lo mau,” Jawab Safina asal.
            “Lo capek kan? Gimana kalau kita langsung pulang?” tawar Reza.
            “Iya langsung pulang aja deh,” Jawab Safina, melirik Adam yang masih di belakangnya.
            “Lo pulang bareng kita kan Fin?” tanya Ralin, kali ini Ralin tak menatapnya sinis, ia seperti Ralin yang dulu—sebelum terobsesi dengan Reza. Rupanya banyak yang ia lewatkan selama di NZ—itu karena HP nya tidak bisa digunakan karena tidak menggunakan mode internasional.
            “Em, gimana?” tanya Safina pada Adam—karena Adam hanya diam dan mengikuti mereka, hal itu pun tak lepas dari pandangan Reza yang jengah.
            “Ya udah, lo pulang bareng mereka aja, gue bisa naik taksi, okey?” Safina hanya mengangguk dan say good bye, lalu segera masuk ke mobil Reza dengan meninggalkan Adam.
            Di balik kemudi, Reza terus menatap spion dalam mobilnya, ia melihat Safina yang gelisah di belakang—Oskar mengajaknya mengobrol, tapi malah dia tak menyahuti.
            Setelah mengantar Safina pulang, Reza mengantar Oskar ke kantor bokapnya. Kini tinggal Ralin dan Reza, Reza masih mendengus kesal.
            “Sepertinya… tadi itu sudah sangat jelas, apa jawaban Safina buat lo. Gue benar-benar gak bisa bantu lo, karena…” Ralin menggantung kalimatnya, Rezapun mendecih.
            “Ck! Gue udah siap. Sangat siap. Dan maaf, gue udah nyakitin perasaan lo. Maaf…” Reza menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, mereka telah sampai di rumah Ralin.
            “Ya udah Za gue balik, oh ya. Gue berat banget sih terima ini semua, tapi… persahabatan kita nggak pantes buat di korbanin Za, inget itu!” Ralin beranjak dan masuk ke rumahnya. Kini tinggal Reza seorang, apa benar ia siap dengan jawaban Safina, itu berat. Bagaimana dengan Ralin—yang menyukainya, sedangkan dirinya malah menyukai Safina dengan terang-terangan.
***
            Tiga hari setelah kepulangan Safina, akhirnya Safina menghubugi Reza dan mengajaknya bertemu. Sudah lama sekali sejak pernyataannya itu. Hati Reza serasa mati rasa.
            Mereka tiba di sebuah taman dekat kampus mereka, Safina telah menunggunya, Reza dengan berat melangkah mendekati gadis itu.
            “Hai Fin, apa kabar?” sapa Reza, Safina awalnya diam namun segera tersenyum kecut, terlihat dari bibirnya saja yang di tarik, namun matanya tidak.
            “Za, lo baik-baik aja kan?” tanya Safina yang tampak khawatir. Reza hanya mengangguk dan menggaruk rambutnya yang tidak gatal, pertanyaan itu benar-benar bodoh, batinnya.
            “Duduk dulu Za!” cetus Safina, Reza pun duduk disamping Safina dan memandang lurus saat ngobrol.
            “Lo ngajak gue ketemu, ada yang ingin lo sampaikan kan? Ya udah katakan!” perintah Reza—kini ia merasa dingin dengan sikapnya itu.
            “Ya, lo bener. Gue mau jawab pernyataan lo,” lidahnya kelu, namun ia harus segera mengatakannya—mengingat ia telah menerima perasaan Adam.
            “Gue… gue gak bisa terima perasaan lo, maaf! Persahabatan emang yang nomer satu, tapi alasan lainnya adalah karena gue tidak memiliki rasa lebih dari sekedar sayang—pada sahabat,” kini Safina menunduk menyesal—itu bukan jawaban terbaik—batinnya. Reza menghembuskan napas panjang seakan tahu alasannya, ia memalingkan pandangannya dan memandang Safina.
            “Karena lo suka Adam?” sontak pertanyaan itu membuat Safina tersentak, bagaimana Reza tahu.
            “Oke cukup! Sikap lo sudah menjawab segala kegundahan gue selama ini.” Reza memalingkan pandangannya, Safina masih tak percaya itu, ia makin menundukkan pandangannya.
            “Maaf… maaf banget…”
            “Mungkin ini memang takdir, Tuhan sedang menguji persahabatan kita bukan?” Reza segera beranjak, ia pamit untuk pergi. Ia bisa merelakan Safina untuk bersama Adam—tapi ia tak merelakan persahabatan mereka hancur.
            “Lo harus janji, kalau kita—gue, lo, Ralin, dan Oskar adalah sahabat—ah lebih dari itu, kita saudara, jadi jangan saling menyakiti lagi, oke?” itu permintaan Reza yang saat ini masih bisa dituruti oleh Safina.
            “Tentu, gue janji!” kata Safina, Reza say goodbye pamit untuk pergi. Safina memandangi punggung lebar sahabatnya itu—ia merasa bersalah sekaligus lega, ia tak tahu jika akhirnya bakal begini.
***
            Adam berada di tempat biasa mereka melakukan balapan mobil. Ia sedang menunggu seseorang, seseorang yang tak pernah lelah menantangnya, padahal dirinya sudah sangat lelah.
            Tiba-tiba orang yang ia pikirkan tiba,
            “Lo udah lama?” tanya Reza—orang itu basa basi.
            “Ck! Lo mau nantang gue lagi?” tanya Adam ketus.
            “Of course! Gue ajak lo balapan sekali lagi, kalo lo menang… kita berhenti—semuanya. Gue gak bakal ganggu lo, semua persaingan ini selesai, gue gak bakal iri-iri an lagi sama lo, dan… lo… boleh miliki Safina,” mendengar pernyataan terakhir Reza membuat Adam tersentak, Adam tahu jika Reza menyukai Safina—karena saat Reza menembak Safina, Adam tak sengaja melihatnya, makanya saat itu ia tak pulang dan menunggu Safina yang malah justru terlihat sedih.
            “Oke! Deal!” Adam mengulurkan tangannya tanda deal.
            “Lalu kalau gue menang?” tanya Reza mengangkat satu alisnya.
            “Gue bakal menyerahkan semua nya sama lo, terserah lo mau apa.” Tawar Adam.
            “Kalau jauhin Safina, lo mau?” tanya Reza hati-hati. Air muka Adam berubah pias. Ini pilihan berat.
            “Oke, fine!” akhirnya Adam memutuskan pilihan bodoh itu, ia mendengus kesal. Reza hanya mendecih.
            Adam memasuki mobilnya. Reza hanya tersenyum kecut, bagaimana jika Reza menang—artinya pasti Adam benar-benar menjauhi Safina—karena Adam dan dirinya selalu supportif, dan itu artinya membuat sedih Safina bukan? Reza yakin, pasti Adam berusaha untuk menang sekarang, Reza tak perlu mengoyo—ini adalah caranya berdamai dengan rival nya agar tak terlihat lemah.
            Mereka pun mulai menginjak pedal gas dan mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh. Tak ada yang mengalah—mereka terlihat kompetitif, namun di jarak hampir finish—Reza mulai mundur dan memelankan mobilnya sedikit, sampai akhirnya Adam berhasil ke finish terlebih dahulu. Mereka keluar dari mobil dengan tatapan curiga Adam.
            “Lo enggak sengaja ngalah kan?” tanya Adam penuh selidik.
            “Buat apa gue ngalah? Bukannya semua itu merugikan gue?” jawab Reza. Adam hanya mengangguk paham, semua yang ia tawarkan mungkin merugikannya.
            “Selamat! Lo udah menang. Dan pasti gue bakal janji sama pernyataan gue tadi,” Reza menyakukan kedua tangannya pada celananya.
            “Oke, janji adalah janji kalo lo lelaki sejati!” Adam mengulurkan tangannya tersenyum sumringah—tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba berdamai. Reza mengeluarkan tangan kanannya hendak menjabat, tapi.
BUGH!
            Satu pukulan telak. Reza menghajar Adam sampai terhuyung. Lalu menolongnya.
            “Sorry! Ini yang terakhir, dan juga buat Safina. Lo udah bisa sama Safina, gue terima—tapi inget, Safina dan yang lain sahabat gue—jangan sampai lo sakitin dia, atau berusaha buat ngejauhin Safina dari kita-kita, oke?” kini Reza menjabat tangan Adam. Adam hanya meringis menahan sakit, dan tersenyum. Ia memeluk Reza.
            “Thanks Bro!” jawab Adam maih berpelukan, Reza melepasnya.
            “Ih, kok kita jadi menye-menye gini?” Reza dan Adam pun saling tertawa sampai terbahak-bahak, mereka asik mengobrol dan bercerita dari awal mula mereka jadi rival sampai persaingan-persaingan tak berujung dan selalu merasa banyak yang di saingin. Kadang mereka menemukan titik dimana ternyata mereka salah paham, kadang juga saling ngerjain dan merekapun saling toyor menoyor, terus lama-lama mereka saling meminta maaf. Mereka mengobrol sampai lupa waktu.
            “Ternyata tanpa kita saingan gini, gue merasa lega. Nggak terbebani ya?” kata Reza.
            “Ye, gue juga udah capek banget musuhan sama lo. Lo nya aja keras kepala.” Jawab Adam apa adanya.
            “Gue emang keras kepala, dan Safina telah memukul gue sehingga gue sadar, janji lo harus buat Safina bahagia!” cetus Adam tersenyum miring.
            “Gue janji kok! Thanks banget Za!” mereka pun saling berpelukan lagi dan pamit untuk pulang.
            “Oh iya, minggu depan kita mau camping. Gimana kalo lo gabung?” tawar Reza yang di iyakan oleh Adam.
***
            Satu minggu kemudian, seperti yang sudah di rencanakan. Mereka melakukan camping ceria di Cibodas. Reza, Ralin, Oskar, Safina dan Adam. Semua sudah tahu jika si Adam dan Safina sudah jadian di New Zeland, itu membuat mereka iri. Namun turut berbahagia atas keduanya. Reza dan Ralin masih malu-malu dan canggung karena pengakuan Ralin tapi Oskar selalu di tengah-tengah mereka.
            Akhirnya mereka memutuskan, bahwa camping ini sebagai kembalinya persahabatan Reza, Ralin, Oskar, dan Safina dan berdamainya Reza dan Adam sekaligus jadiannya Safina dan Adam, jadi waktu harus di maksimalkan untuk seru-seruan.
            Di mulai dari mendirikan dua tenda, membuat api unggun, memasak berbequean, sampai main truth or dare. Dimana si Reza lebih sering dare, dan Adam akan selalu truth. Walaupun Adam dan Reza berdamai namun jiwa saingan mereka masih melekat, terbukti dari berbagai permainan mereka menjadi rival dan bersaing ketat lalu di akhiri tawa dari kelimanya.
            Sampai tengah malam, mereka masih di depan api unggun, kini Adam mulai memetikkan gitar kesayangannya, menyanyikan lagu-lagu mellow lalu diikuti oleh kelimanya yang ikutan bernyanyi. Mereka menghabiskan malam sambil terus bermain.
            Kini semua memiliki kelegaan di hatinya masing-masing. Tidak ada tawa terpaksa atau dikulum. Semuanya tulus. Mereka lega, untuk saat ini semua masalah yang berlarut telah terpecahkan. Mereka membawa suasana hangat di tengah dinginnya pegunungan—sesuatu yang jarang terjadi—setelah sekian lama, di malam cerah, di dinginnya Puncak, Bogor, di antara cahaya kuning api unggun, merajut asa.

T A M A T

PS: Uwaaa… akhirnya bisa menyelesaikan cerbung ini setelah beberapa kali buntu, dengan ending yang harus bagaimana. Hehe, tunggu cerita cerita saya selanjutnya. Terimakasih sudah membaca. Gomawoyo.