Selasa, 16 Mei 2017

Masa Muda

MASA MUDA (Cinta Bertepuk Sebelah Tangan)
Inspired by Masa Muda
Maaf saja jika saya terus-terusan menggunakan ide dari sebuah sinetron. Bukannya karena tak punya ide yang fresh atau hanya ingin plagiat. Hanya saja saya menyukai alur cerita dan mungkin berhubungan dengan kehidupan kalian, mungkin loh ? so, don’t judge creating from “title”.
Back to stage.
            Seorang gadis bernama Safina memiliki sahabat-sahabat yang selalu ada dikala sedih maupun senang. Mereka terbentuk sejak SMP. Terdiri dari 4 orang. Safina, Ralin, Reza, dan Oskar. Safina adalah gadis baik dan periang, rajin ibadah dan pekerja keras. Ralin, sahabat Safina ia sangat feminim, glamour, dan sangat tegas. Reza, lelaki ini yang selalu famous dimanapun dia berada, kaya raya, hanya saja dia pemarah dan suka berantem. Yang terakhir Oskar, dia lucu, apa adanya, dan penakut. Mereka suka sekali melakukan kegiatan outdoor. Contohnya naik gunung. Sejak kuliah, mereka selalu mengagendakan waktu saat liburan untuk sekedar camping ceria atau muncak.
            Cerita masa muda mereka dimulai saat, liburan semester. Reza, Safina, Oskar, dan Ralin sepakat. Kali ini mereka harus muncak ke gunung Gede di Bogor.
***
            “gue yakin, perjalanan kali ini pasti seru banget! Ahh, gak sabar gue!” seru Reza yang membopong tas cariernya dan melakukan ritual highfive lalu ngedab bersama gengnya.
            “yooi man! Pastinya?” saut Oskar.
            “Lo semangat banget Za? Hehe.” Sahut Safina.
            “Ih, iya nih gak sabar ya Za?” kata Ralin.
            Di titik ini. Ada hawa yang berbeda diantara Ralin, Safina, dan Reza. Entah mengapa perasaan Safina tidak enak.
            “Lo kenapa Fin? Lo sehat kan?” kata Reza perhatian.
            “Eh, gak pa-pa kok. Beneran!” jawab Safina.
            “Apa’an sih lo Fin? Jangan manja deh! jangan ngacoin semuanya lo!” ketus Ralin.
            “Apa’an sih lo Lin. Kalau Safina kenapa-napa ntar lo yang mau tanggung jawab?” bentak Reza.
            “Enggak kok bener gue gak pa-pa.”
            “Udah, udah! Kenapa jadi pada rebut sih? Perjalanan ini gak main-main, wajar kalo Reza khawatir sama Safina, takutnya kan kenapa-napa. Udah sih sekarang Safina kan gak pa-pa jadi gak usah rebut aja, oke?” oskar mencoba menengahi.
            Perjalanan pun dimulai. Awalnya tidak ada kendala yang berarti. Namun entah mengapa di tengah-tengah, Ralin seperti sengaja untuk terus-terus mencelakai Safina tiap kali Reza mendekati Safina.
            Mereka pun berjalan pelan namun pasti, menuju puncak gunung. Berharap impian mereka tercapai, menancapkan bendera merah putih dan bendera persahabatan. Berharap juga menjadi “friendshipgoals” .
            Benar saja, beberapa jam kemudian, setelah melewati lelah berpeluh karena melewati medan yang lumayan. Sampailah mereka di puncak. Seketika keempatnya bersyukur. Lalu mereka berpelukan penuh haru. Oskar menancapka bendera. Keempatnya baris dan hormat. Setelah itu mereka foto-foto untuk mengabadikan momen langka itu.

            Keesokan harinya, setelah mereka camping, mereka memutuskan untuk turun gunung. Dengan manja dan sok cari perhatiannya, Ralin gandeng-gandeng Reza. Safina mulai curiga, hanya saja ia menepis segala prasangkanya.
            Sampailah mereka di post 1, kaki gunung. Semuapun beranjak untuk pulang. Akan tetapi Safina ingin ke toilet, Ralin mengantarnya.
Beberapa menit kemudian, Ralin kembali sendirian.
            “Safina mana Lin?” tanya Reza cemas.
            “Eh, itu Za. Fina mau pulang ke rumah saudara di dekat sini. Jadi dia gak ikut pulang kita,” Ralin terpatah-patah.
            “Masa sih? Lu yakin? Emang sih dia punya saudara disini,” kata Oskar.
            “Ah ngaco kali lu Lin.” Kata Reza gak percaya.
            “Suer!” Ralin mengacungkan dua jari membentuk huruf V.
            Dengan susah payah Ralin meyakinkan Reza dan Oskar, akhirnya mereka percaya dan segera meninggalkan parkiran wisata outdor itu.
            Disisi lain,
            “Lin, Ralin… lu dimana?” Safina baru keluar dari kamar mandi.
            “Teh! Teteh cari temannya ya?” seorang penjaga toilet menyahut.
            “Iya mang, mamang lihat?”
            “Tadi sih dia lari, buru-buru ditu, tapi gak tahu yah kenapa,”
            “Ya sudah mang, makasih…” Safina berlari menuju tempat parkiran.
            Dengan nafas masih terengah, ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, namun ia tak melihat mobil Reza.
            “Ya Allah. Pada kemana ya? Masa gue di tinggalin,” Safina mulai cemas. Ia menuju tukang parker dan menanyakan keberadaan temannya.
            “Mang, nuhun. Boleh tanya?”
            “Iya neng, kunaon atuh?”
            “Mamang lihat teman-teman saya nggak? Mereka bertiga, baru turun gunung. Mobilnya Honda jazz warna merah,”
            “Oh, barudak itu? Mereka sudah pergi. Barusan saja.”
            “Hah? Kok pergi sih, gue kan belum selesai kok ditinggal?” Safina mulai putus asa.
            “Kalau mau pulang bisa naik bis mini neng, tapi masih 1 KM dari sini. Ini kan jam 3 sore, jam setengah 5 udah terakhir.”
            “Ya sudah mang, makasih.” Safina segera cabut dan berjalan kaki menyusuri jalan yang mulai sepi, hawa pegunungan semakin terasa dingin. Beberapa saat ia hanya merasa takut. Kabut mulai turun menyelimuti. Sampai ada sebuah motor yang melintas. Niatnya safina ingin meminta bantuan, namun yang ada motor ini malah menyerempet dan membuatnya jatuh.
            “Auu!” mendengar teriakan itu, seorang pemuda yang naik motor trail itu berhenti, ia lari menuju kearah safina.

            Angin semilir menghantam tubuh keduanya, hembusannya sangat kencang. Sepersekian detik pemuda itu memancarkan karismanya. Pemuda berperawakan tinggi semampai, berkulit putih, mengenakan seragam trail, ia melepas helemnya dan menyibakkan rambut kerennya, Safina hanya melongo. Ia sampai lupa dengan sakitnya.

To Be Continue
Hem, kira-kira siapa pemuda berkarisma ini ya? Apa alasan Ralin kalau Reza sampai tahu ia berbohong tentang Safina, bagaimana kelanjutan kisah persahabatan mereka? Lalu bagaimana kisah Safina dan pemuda ini. Simak terus di blog saya kapan-kapan. :D
@wasik.aml

Selasa, 02 Mei 2017

MATASA



MATASA? Apa yang anda pikirkan mendengar kata itu? Mungkin hanya segelintir orang saja yang tahu ya? Yah wajar lah. Karena ini hanyalah singkatan dari sebuah sekolah, madrasah lebih tepatnya. Madrasah tsanawiyah satu jember. Yeps! Kali ini saya akan sedikit menceritakan pengalaman saya menjadi guru praktikan di sekolah yang katanya favorit ini. Yah namanya juga nomor satu, negeri lagi. Harusnya favorit dong! Awalnya sih minder, sumpah! Cuma setelah dijalani yah gak semenakutkan yang saya bayangin sebelumnya.
MATASA. Punya ciri khas. Aroma keringat siswa dan pengap lorong koridor kelas VIIIG, VIIIB, VIIIC, Perpus, dan entahlah menciptakan sebuah bau-bauan khas. Bukan bau busuk, tidak juga harum, hanya saja khas. Di peron(tempat duduk depan kelas) IXG beraroma pomade(minyak rambut) juga menjadikannya khas. Aroma laboratorium IPA (BaseCamp) dengan kipas yang bersua (Ssrrrhhh), sabun cuci tangan, dan para tengkorak yang setia menjadi penunggu, lorong ruang guru IPA yang menjadi tempat peristirahatan sementara dan ruang makeup dadakan, tempat melihat film horror juga. Peron depan ruang guru yang menjadi tempat nongkrong asyik untuk wifian, kadang harus menjadi tempat yang membuatmu pusing dengan keriuhan dan lalu lalang para guru. Parkiran khusus para praktikan yang harus di parkir di depan kelas, sehingga kala hujan harus kehujanan, dan kadang menjadi kejahilan para siswa yang iseng. Terkadang setiap kelas memiliki aroma berbeda-beda. Namun tetap satu jenis kepengapan, tapi ada beberapa kelas yang lumayan segar aromanya, entahlah, setiap masuk kelas itu hawanya segar, siswanya sedikit, dan gak begitu pengap.
Lalu apa lagi ya? Yah, tak lupa musholla yang saya namakan aliran kiri dan kanan. Kenapa? Karena musholla sebelah kiri lebih adem, luas, dan sejuk akan tetpai memiliki misteri yang belum terpecahkan. Sedangkan sebelah kanan, cenderung sempit, panas, dan menjadi lalu lalang siswa yang berwudlu.
Sekolah ini terlihat tidak terlalu luas. Namun, berkeliling ke seluruh sekolah lumayan membuat kakimu gempor, apalagi pakai highheels.
Jajanan favorit saya adalah sesuatu yang dilarang dan sangat berbahaya. Sosis, balado, boncabe. Yah, kami merasa masih sama dengan siswa di sekolah. Tahu bahwa sangat tidak sehat, namun masih saja digemari.
Mungkin tak banyak cerita yang ku ukir bersama siswa seperti teman yang lain. namun, saya bisa merasakan hawa euphoria sekolah. Seperti kembali lagi menjadi seorang siswa, namun tak bisa untuk ikut berpartisipasi hanya saja mengamati, menyimak.
Setiap orang memiliki kesannya sendiri. Memilih menjadi kaku atau lost control itu pilihan. Seharusnya dalam proses belajar, tak ada yang perlu dimasukkan kedalam hati. Yang baik-baik diambil, yang jelek di doakan semoga menjadi baik. Benar? Menjadi orang juga jangan terlalu naïf. Hanya saja berupaya menjadi objektif saja.
MATASA bagi kami adalah tempat baru yang memberikan pelajaran. Kenapa? Karena dalam praktek lapang, tentu tak hanya problem pembelajaran yang hadir, disini kamu akan menemukan problematika yang terjadi di dunia profesi, masyarakat, dan instansi. Yang mana ini hanya secuil sentilan bagi kami agar peka. Mana yang benar dan salah, dan cara agar bersikap dewasa dalam menghadapi sebuah problem. Selain itu belajar tentang tanggung jawab, konsekuen,dan tidak egois. Mengapa? Karena kami hidup berenambelas membawa satu bendera.
Saya rasa problem sosial yang dihadapi di praktek lapang ini masih belum seberapa dibanding kenyataannya, hanya saja disini tempatnya belajar. Semuanya tergantung cara pandang kamu.