Senin, 26 September 2016

Na No Na NO saja

Ini sih ceritanya curhat colongan alias ngocol nya mbak Wasik



jadi gini men, oke. cuma mau curhat sedikit, sisanya adalah nggugat, hahah.
banyak hal yang ku rasakan sejak april. dan sekarang sudah september. intinya sih perang batin. waw? perang mulu, merdeka kapan yaw? ahh sudahlah. intinya sampai sekarang nih perang dunia gak kelar-kelar men! aku cuma pengen nyanyi...


And I want to get free
Dan aku ingin bebas

Talk to me
Bicaralah padaku

I can feel you falling
Bisa kurasakan kau kecewa

And I wanted to be
Dan aku ingin menjadi

All you need
Yang kau butuhkan

Somehow here is gone
Entahlah, semuanya kini tlah hilang



ohh, rasanya.. jatuh itu sakit kan gaes? bagaimana kalau sudah jatuh tertimpa tangga pula? yah, itulah yang aku rasakan men! sakit. campur aduk lah pokoknya men! capek men. menunggu harga yang harus di bayar.

Selasa, 13 September 2016

Tempe Restoran III




TEMPE RESTORAN III (Mengapa Begini?)

Cerita ini masih berlanjut, yah… bukankah memang belum kelar? Apalagi kegiatan KKN fix ngebuat cerita ini masih kusut. Seberapa besar menyangkal seberapa kuat berpaling, dan seberapa besar menepis rasa yang dengan sendirinya muncul itu, susah men! Lu kira segampang ngebalikin tempe ?
Harapan tinggalah harapan, kenangan ya biarkan menjadi kenangan. Karena tak akan ada yang terjadi setelah ini.
***
        KKN minggu awal. Masih setia dia menemani kesendirianku ini. Yah, dia yang ku pikir meperlakukanku special masih setia. Setia menjadi teman chating. Setia berbagi pengalaman dan curhatan. Tapi masih dalam batas batas koridor “teman”. Lalu aku hanya masih bisa menunggu.
        Sampai suatu ketika di awal minggu ke dua. Dengan ringan ia berkata. “aku mau main ke poskomu.” Yah, seneng sih pas di sambang. Hehe. Tapi ternyata, apa yang aku pikir sebelumnya salah besar. Aku malah tidak merasa senag apalagi lega. Malah terkesan marah, dan gak lega. Ada sesuatu yang mengganjal. Yah, sesuatu yang terus-terus ia tutupi yang gak pernah aku tahu, atau berhubungan sama temanku satunya lagi yang katanya punya rahasia juga?
        Ah, pusing, kesel. Aku makin gak suka karena mereka main rahasia-rahasiaan seperti itu.
        Someday di akhir minggu ke dua. Aku dan teman-teman berencana ke teman-teman di posko lain, nyatanya ibuku mau menjengukku. Namun ku paksakan, setidaknya kalau ibuku mau sampai aku akan pulang dulu.
        Eng ing eng… sampailah aku ke tempatnya. Ah, baru masuk saja sudah bikin keki. Gak tau kenapa hawanya panas saja. Bikin gak kerasan sama orang-orangnya. Apalagi sindiran sindiran sarkas membuatku muak. Lagi-lagi main rahasia-rahasiaan.
        Sebentar kemudian, kita cabut ke tempat temenku juga yang katanya biangnya rahasia. Sampai di sana suasana malah lebih rame, malah lebih bikin gak kerasan dengan “pemanasan” social nya. Ha? Apa coba maksudnya?
        Banyak hawa-hawa negative di areal sana, di tambah kerahasiaan itu belum terungkap. Tiba-tiba ibuku telfon. Mau tak mau aku harus pulang duluan. Tapi kok yao, nelangsa hati ini. Akhirnya mereka mengantarku sampai di jalan raya. Dan sayang sekali gak bisa datang di tempat temanku yang terakhir.
        Sepanjang perjalanan yang ada hati ini menelan amarah dan kekesalan. Apalagi melihatnya, bukan aku cemburu tapi ada rasa mengganjal yang tak tertahankan. Apa sih yang coba dia sembunyikan atau, apa sih maksudnya selama ini?
        Sejak saat itu, gak ada yang berubah sih. Kita tetap chatingan. Sempat waktu itu aku marah besar sama dia. Cuma balasannya apa? Supaya aku gak khawatir. Hello, gue di anggap apa sama elo selama ini? Ya sudah setelah itu, aku mencoba tak menggannggu dia yang katanya lagi bermasalah.
        Di sisi lain. masku tiba-tiba nembak. Ya ampun gaes, ini waktu perang bathin malah gak selesai selesai. Dengan tanpa pikir panjang ku tolak mentah-mentah dan histeris. Namun pembawaanya yang santai justru membuatku menoleh, melihat sisi baiknya dan memikirkannya lagi sampai waktu yang telah di tentukan.
        Sudah jarang komunikasi lagi sama dia kalau gak ada yang penting, makin dekat saja sama masku ini. Sempat mimpi juga. Siapa yang harus aku perjuangkan? Jelas-jelas, seseorang yang ada di hati ini.
        Tepat tanggal 17 agustus deadline jawaban masku. Dengan masih bimbang juga, dengan beberapa kemungkinan. Teman sendiri dan kakak sendiri. Kalau aku pilih kakakku, maka kemungkinan dia yang kecewa—kalau dia suka aku :p, kalau enggak ya gak ada yang di kecewakan. Kedua kalau aku pilih dia, aku ngecewain kakakku, ya kalau aku jadi sama dia—nah kalo enggak, aku juga yang sakit. Yang ketiga, kalau aku enggak milih dua duanya ya gak ada resiko, atau malah sakit semua. Wah repot kan?
***
        Dan pada batas waktu yang di tentukan, dengan sepenuh hati dan keyakinanku. Aku, menolak lagi masku. Tapi apa responnya? Mas suruh aku mikir lagi, dan memberiku waktu sampai idhul adha. Katanya, “tidak ada yang bisa ngelarang orang yang punya niat tulus.” Kalau ku jawab kok terkesan keburu-buru. “bukan keburu-buru, kalau enggak sekarang, kapan lagi? Keburu di ambil orang.” Gitu lah jawabannya. “tak perlu takut tentang segala keputusan, di yakinkan lagi karena kesempatan tak pernah datang kedua kali.” Itu juga kata kata mas yang bikin aku terhenyak, dan memutuskan tuk memikirkannya lagi. Oh men! Perang bathin masih berlanjut.
        Setelah itu, si dia tiba-tiba ngubungin. Kalau banyak hal yang ingin ia jelasin. Kita perlu face to face, dan bilang kalau selama ini dia coba cari jalan keluar. Jalan keluar ada kalau kamu cerita, dan katakan apa yang sebenarnya terjadi, bukan malah cari sendiri mengesampikan apa yang aku alami atau terjadi, dimana dia bukan lagi satu satunya orang yang ada dalam pikirku. dan mau ajakin aku jalan-jalan(ini janjinya). Aku pun setuju. Ku pikir akan dia lakukan minggu2 terakhir ini, terakhir KKN. Nyatanya? Fail!. Gak ada apa-apa.
        Terakhir dia bilang habis jatuh. Tiba-tiba dia mampir lagi ke posko. Bukan hubungin aku, tapi orang lain. aku yang lagi makan enak(karena lapar-laparnya) menjadi gak mood dan gak enak makan sama sekali. Ku temui dia dengan muka ogah-ogahan. Entah mengapa hari itu rasanya emosi sekali. Melihatnya selalu buatku nelangsa. Mukanya yang sayu, apalagi kondisinya yang habis jatuh. Ahh.. entahlah.
        Walau ngobrol berdua, bahkan ia tak sedikitpun menyentil masalah pribadi kita(kata si manja sih dia mau lihat keadaanku sekarang, dia masih bingung mau lakukan apa, apalagi respon negatifku seperti itu).
        Setelah kejadian itu, yang ada aku malah makin dekat sama mas. Mas yang notabene anak sana, pastilah menjadi tempat curhatanku selama ini. Mas yang emang di bilang bandel ini sudah ku kenal sejak kecil. Cuma gak pernah dekat saja.
***
        Sampai KKN pun berakhir. Dia telfon aku, ah tumben sekali. Kata-kata terakhir sebelum pulsanya habis, yang sangat aku ingat adalah. “ kenapa kok nangis. Udah jangan nangis ya. Jangan nangis.” Saat itu aku gak sedang nagngis, tapi baru bangun tidur. Cuma kata-kata itu membuatku makin nelangsa.
***
        Eng ing eng… sudah kuliah lagi seperti biasa. Perasaanku saat ini… meluntur pelan pelan kali ya. Karena sikapnya yang menurutku sangat pengecut ini membuatku mundur. Menyerah, dan pasrah. Aku sekarang sudah dekat sama mas. Walau orangnya jauh. Emang sama mas belum ada status.
        Lalu sikapku yang masih dengan keki sama dia emang gak bisa di ilangin, sampai si manja ngewanti-wanti untuk bersikap santai dan seperti biasanya kayak belum terjadi atau belum ngerti apa apa. Huuh, susah deh kalau lagi sebel sama orang gak bisa nutupin, gak jago nih!
        Bahkan sampai sekarang masih belum ada kejelasan dan kepastian. Ini yang paling aku gak suka dari dia. Gak jelas. Bukan apa-apa sih. Hanya saja gak mau kejadian 2 tahun lalu terulang, aku bahkan gak menganggapnya sebagai selingan. Gak juga bermaksud memanfaatkannya, namun nyatanya di persulit. Aku rasa kesabaranku dan perjuanganku sudah cukup. Karena aku juga melihat orang yang mau perjuangin aku, aku tak bisa mengabaikan itu. Ibarat nya ku payungi dia yang sedang lari kehujanan, ku biarkan diriku basah kehujanan, lalu ada orang lain yang  care denganku yang mau memayungiku yang rela kehujanan demi aku. Di situlah aku mulai berfikir matang-matang.
        Pengecut apakah selamanya bertindak sebagai pengecut? Kapan mau menang kalau gitu. Seorang pemenang adalah yang berani kalah duluan. Bukan ia yang nunggu di belakang seperti seorang pengecut. Apapun alasannya. Ku sudahi sampai disini segala yang tak pasti. Biarlah jika ada penyesalan itu sudah resikonya. Karena dia yang kalah pasti yang akan menyesali. Apalagi sampai dua kali seperti ini, itu semua karena kesalahan fatal yang di lakukan. Nanyanya juga hidup. Pasti terjal, ada batu cadas, batu besar, batu kerikil, dan apapun itu. Segala prosesnya di nikmati saja, sabar. Semua pasti indah pada waktunya, indahnya kapan? Yaa.. sabar saja :D. []

Oleh : Wasi’atul Amalia

Minggu, 11 September 2016

katanya sih KKN (Kuliah Kerja Nyata)



KKN (Kuliah Kerja Nyata) POSKO 33
Oleh : Wasi’atul Amalia
     Jember, 22 Juli 2016—the begin of comfortable adv. Di mulai dengan keberangkatan yang menyimpang dan beda dengan yang lain. yakni setelah dzuhur. Padahal yang lain sudah start dari jam 7 pagi.
     Masih dengan kebingungan tempat yang sudah tersurvei dua kali namun tetap miss. Alhamdulillah saat hari H sudah bisa menemukan tempat stay, meskipun keadaannya cewek dan cowok harus berpisah.
     Masih juga kurang mengenal teman-teman satu kelompok. Perkenalkan, ketua coordinator kita, Dian Sugiarto—yang belum pernah atau belum berpengalaman menjadi ketua, bahkan kuliah saja asal-asalan. Tapi dilihat saja sudah cukup bertanggung jawab terhadap anggota kelompoknya, well endingnya kita bisa merasakan buah hasil koordinasi pak Dian. Thanks buat kerja kerasnya pak Dian.
     Diah Erlina Pratiwi—adalah wakil coordinator alias driving coordination. Dimana dia yang katanya sudah pengalaman dengan dunia organisasi mencoba memberi arahan-arahan pada koor yang katanya belum pengalaman. Sedikit banyaknya juga yang paling sering ngomong dalam acara forum maupun luar forum. Terima kasih telah mewakili untuk berorasi bagi kaum cewek, haha.
     Sekretaris kita ada bu Ria Rosdiyana Dewi. Ria yang K-Popers banget. Cenderung suka menyendiri tapi sekalinya berpendapat keluar semua apa yang ia pengen usulkan. Katanya sih moody jadi susah deh kalau gak mood pada kena imbasnya. Gomawo juga buat bu Ria yang sudah kerja keras menulis apapun untuk posko 33.
     Ibu bendahara kita ada Nur Imamah Megawati—katanya sih ning. Ning Ima ini telaten banget, cocok deh buat di jadikan bendahara. Dimana dia harus bedakan beberapa dana yang masuk maupun keluar. Padahal kalau dilihat saja sudah mumet. Hehe. Ning Ima ini juga akan tegas saat nagih uang, wah pas banget kan? Syukron katsir ning Ima sudah mau menjaga, mengelola, dan bermumet ria dengan uang.
     Anggota pertama kita ada Nurul Iftitah—yang ngakunya banyak argument yang ingin di orasikan tapi terhalang oleh sebutan “anggota” membuatnya tak bisa berbuat lebih, ah.. sabar ya jeh Itak. Tukang kentut dan doyan makan. Dia bisa menginfluence temen-temen buat suka jajan, wahh bahaya bagi yang gendut.
     Ada aku, Wasi’atul Amalia—entah apa yang orang sebutkan tentangku. Yang jelas, buat yang baru kenal pasti bilangnya pendiem/sombong/cuek. Entahlah, lalu cenderung tak hati-hati, ini sudah aku sadari dari dulu. Tapi tak bisa sembuh gaes, suwerr!.
     Si unyil ini namanya Siti Mariatu Ulva—suaranya melengking dan tentu saja unyil. Paling kecil makanya suka di bully, hehe. Tapi jago main rebana lho, sholawatan juga jago. Walau kecil, tapi doyan banget jajan. Herannya kok gak gede-gede ya? Haha.
     Muhammad Chanif—yang gak bisa dan gak ngerti Madura sama sekali ini, dengan bahasa jawa-banyuwangi kidul yang medok membuatnya kayak bapak-bapak muda, haha. Jago silat, dan pembocor foto. Kalau sudah main foto-foto, pasti di bocorin sama nih orang.
     Ada Oktavia Dewi, dia juga pendiam plus penyendiri. Suaranya kalem banget, tapi kalau kumat ya tengil. Gara-gara giginya, jadi gagal makan enak terus, duh kasian ya. Haha. Sempat kena musibah, tapi Alhamdulillah sudah tertangani, dan semoga bisa jadi pelajaran ya Via.
     Siti Maulidatun Nafisah—eng ing eng, si cempreng, si rempong, si most popular girl  in Sidodadi. Gimana enggak, pesonanya membuat nya cinlok sama Robi anak Sidodadi, ciee ciee. Cenderung ke kanak-kanakan dan untungnya jago kalo di suruh ngeMC.
     Bahrul Ulum—si trouble maker. Banyak hal yang sudah dilakukan tanpa kordinasi membuat kita kadang salah tompo sama si cebong “nama kesayangan yang di kasih pak Dian untuk Ulum” ini. Mungkin gak asyik kalau gitu-gitu aja, dan Ulum bisa membuat posko 33 berguncang karena isu mendirikan sekolah. Wah salut.
     Muhammad Anwari—anggota yang hampir tiap hari pulang karena bekerja, satu-satunya yang sudah punya istri, jadi sudah terlihat ke bapak-bapak’an (bos juragan manisa). Tapi sangat royal karena setelah pulang juga pasti bawa sayuran. Juga ngajakin kita jalan-jalan. Makasih pak Anwari.

To Be Continued—
Jember, 4 September 2016.