Sabtu, 05 September 2015

Trip Ke BWI muter Situbondo




Trip to Banyuwangi-Situbondo
Cast. : Vivi, Dela, Putri, Dana, Riza, Elok, Arif, Wasik.
Koord   : All
Kameramen    : Wasik
Supir    : Dana, Riza
GPS      : Arif
Keuangan        : Putri
Konsumsi         : Putri

Trip Sama yang (Katanya) Udah Tua-tua
Sudah tidak terasa di awal semester 5 ini tentu umur kita juga udah pada dibilang “dewasa”. Cara pemikiran, sikap dll juga berubah. Seperti juga liburan kita kali ini. Yang katanya berubah menjadi liburan mewah, liburan manja, liburan kelas lah. Haha, padahal serba “se**” :D. Ssst.
Iya. Liburan yang harus di tunggu selama dua bulan lebih, dan di fix-kan pada saat sebelum masuk kuliah, setelah krs-an dan cukup di bilang mepet ini. Akhirnya membeludak juga dengan bajet yang lumayan tapi menurutku gak seberapa ketimbang naik kendaraan umum.
Setelah pusing dengan anggota yang naik turun, datang pergi silih berganti. Juga kendaraan yang silih berganti, akhirnya mencapai kesepakatan pada H-1 dan alhamdulilah di beri kelancaran untuk anggota dan kendaraannya.
Aku, Dana, Dela, Putri, Elok, Vivi, Riza dan Arif—si orang-orang yang dibilang sudah tua, :3. Dan memang sudah saatnya kita seperti ini, jadi jangan katrok, norak, atau apalah apalah :D.
Dengan agenda dan jadwal yang masih kasar ini, kita memutuskan berangkat dan memutuskan segala sesuatu melihat dari kondisi nanti di perjalanan.
Akhirnya diputuskan subuh berangkat. Tapi dugaan mereka benar, paling lambat jam 7 baru berangkat. Biasa, orang Indonesia emang molor dan ngaret. Okelah.
            Perjalanan ramai lancar, karena bertepatan dengan jam masuk sekolah. Di awal sempat di buat tegang karena hampir menabrak seorang yang mau menyebrang, tapi sejauh perjalanan sampai pulang alhamdulilah lancar.
            Emang enak sih naik kendaraan sendiri, tapi yang gak enak yang mabuk perjalanan kayak Dela. Haha, yakin nih namanya my trip my adventure? My trip my mabok ya Del? dia yang tadinya mengelu-elukan kenyamanan ini harus puas dengan ketikdaknyamanan kondisinya yang mabuk, haduh. Lalu kita istirahat di Gandrung dan memakan bekal yang di masak oleh mbak Putri—tentunya di bantu kita-kita lah.
            Sempat terjebak macet di kota Banyuwangi karena ada acara. Riza yang notabenenya orang Banyuwangi gak tahu jalan pintas, tapi untunglah ada GPS. Dan tau nggak sih betawa bawelnya yang namanya Arif ini, apalagi yang nyetir Riza, tabah bawel lah dia kayak emak-emak. Pelan tapi pasti melewati gang gang sempit dan jalan yang pres.  Tak ada yang pernah melewati jalur setelah pelabuhan Ketapang, semua serba menurut insting dan GPS. Kebetulan GPS Arif tidak berfungsi karena bukan ranahnya.
“Bos? Kapan sampainya? Masih jauh nggak?” komentar Arif yang duduk di bangku paling belakang.
“Wah, kurang tau ya?” jawab Dana. Karena Riza sedang sakit rempela dan kondisi tidak mood menjawab Arif.
“Wah, gimana ini orang Banyuwangi kok nggak tahu?” komennya lagi.
“Kan ada GPS, insyaAllah sampai.” Jawab Dana lagi.
“Bos, bos! Pelan. Santai aja tetap fokus ya? Haha.” Ejek Arif melihat Riza yang mukanya udah ditekuk dan dilipet kecil gara gara rempela.
“Eh, kamu ini jangan komen terus!” Dela yang disebelahnya mulai gerah.
“Bos, jangan kenceng-kenceng aku gak mau mati loh bos!” kata Arif masih bawel.
“Yaudah mati kita kan bareng-bareng, kok repot!” jawab Riza final dan sukses membungkam mulut Arif.

            Pantai ujung timur Jawa ini terlihat begitu jelas dan keren. Okelah Banyuwangi sukses kali ini. Perjalanan di temani birunya lautan, dan angin kering yang menerpa. Untuk menikmati aroma laut di bukalah jendela. Setelah melewati Watudodol, 2 KM kemudian setelah bertanya-tanya juga, sampailah kita di BUNDER(Bangsring Under Water).
            “Ini adalah Bangsring under water.” Kataku merekam video.
            “under itu dimana?” tiba-tiba kata Arif yang nyahut.
            “under itu dibawah.”
            “di bawah mana?” katanya lagi GJ.
            “ya di bawah laut sana.” Yaelah ni anak.
            Setelah sholat dzuhur—alhamdulilah, selagi ada yang alim(katanya) ibadahnya gak di tinggalkan. Kita cuss “se-nor-keling”. Iyups. Kapan lagi? Jauh-jauh kesini kok gak snorkling. Lumayan buat pemula apalagi yang gak bisa renang. Dengan 30k saja sudah bisa sewa peralatan dan nyebrang ke rumah apung dan berenang sama Hiu. Hiii....
            Sebelum menyebrang, sempat terjadi kendala dengan Gopro kita. Memory full. Ah, betapa riwehnya aku, udah jauh-jauh sewong dan sampai tujuan tak bisa mengabadikan. Untunglah di saat mefet gini otak ku langsung menemukan ide karena nih memory pakai adapter, jadi bisa diisi memori kecil. Setelah rempong kembali ke mobil akhirnya bisa juga. Iyalah, masak jauh-jauh dan bela-belain se** gak kepake? Eman banget lah.
            Dan, its time to “byur”, nyemplung di laut yang dalam. Ih, ngeri sih. Tapi untung ada pelampung dan pemandu. Yang enak nih yang bisa berenang—cowoknya. Tapi, tak apalah yang penting juga bisa menikmati keindahan bawah laut dan nelen air laut :D.
            Dengan mudah terbawa arus laut ketengah dan susah payah kembali ke rumah apung. Hanya mereka yang pandai berenang yang banyak dokumentasinya :3.
            Setelah banyak yang merasa pusing, kita lalu cabut dan bilas. Alhamdulilah bisa sholat ashar, lalu makan bekal lagi sebelum gas pol Situbondo.
Memasuki kawasan Taman Nasional Baluran. Kupikir kita akan mampir, taunya udah kelewat kayaknya. Jadi di teruskan sampai pantai Pasir-putih. Di pinggirnya sih, di tempat diving rekondisi karang gitu(Lumayan gratis).
Di perjalanan ke Situbondo GPS Arif mulai berfungsi. Dengan semangat dia menunjuk arah pada supir. Tapi... entah mengapa dia berubah aneh saat sudah sampai di Situbondo.
            “Rif ini jalan kemana?” tanya Riza.
            “Eh, kuti plang jalan dah bos. Waduh di depan ada acara jadi ditutup. Ah, tau lah ikuti mobil depan aja.” What? Apa-apaan nih anak, wah...
            “Udah masuk kawasan wisata Pasirputih, mau berhenti di mana?” tanya teman-teman.
            “Ah, kita berhenti di dermaga baru di bawah jembatan aja. Gratis biasanya.”
            “Oh, yang baru itu? Iya tau.” Kata Dela.
            “Bos, pelan ya bos.” Kini Riza mulai memelankan laju kendaraan, seperkian menit tapi belum juga menemukan lokasinya.
            “Masih jauh bos. Bablas jos sudah!” ha? Okelah.
            “Masih jauh kah?” tanya Vivi tak sabar.
            “Kayaknya sebentar lagi jembatan, pelan bos!” kali ini kendaraan dipelankan lagi. Tapi juga tak nampak.
            “Eh masih agak jauh kayaknya, ngebut lah!” komennya lagi. Begitu terus sampai ke bablas dan kembali lagi, akhirnya sampai juga.

            Setelah melepas penat, sampai jam 12 tengah malam kita langsung cabut untuk kembali pulang. Jalanan begitu sepi. Kali ini GPS Arif yang agresif-pun snagat berfungsi. Setelah sebelumnya harus menabung/setor dulu di Pom terdekat, karena setelah itu daerah hutan dan gunung.
            Dela, Putri dan Riza sepertinya sudah K.O. GPS Arif benar-benar hafal betul daerah itu. Sampai setiap tikungan dia tahu dan daerah rawan-rawan kecelakaan. Kondisi jalan yang sangat sepi, gelap tak berlampu dan lalu berkelok naik turun gunung membuat tegang. Tapi ahamdulillah lancar berkat GPS Arif walaupun waktu di Situbondo tidak bisa di bilang sukses seperti Banyuwangi.
            Memasuki kota Jember pukul 3 pagi. Awalnya mau nongkrong di alun-alun, tapi ternyata gak ada gorengan. Akhirnya beli nasi goreng di dekat GOR, lalu di makan di depan kampus kita tercintah :3. Iya pas pagi-pagi jam setengah 4 itu. Sempat di kira ngapain nih sama pak satpam. Dia gak tahu kalau kita juga penghuni nih kampus. Iye.. pergi pagi pulang pagi.
            Kapan lagi liburan manja, kan emang sudah saatnya. Apalagi momen yang gak selalu kita dapatkan sama sahabat-sahabat ini. Ahh, gak bayangin deh kalau harus pisah.
            Terimakasih buat liburan manjanya ini ya teman-teman. Juga obrolan selama di perjalanan dan guyonannya.
            Ku pikir kali ini Arif justru jadi peran utama, padahal dia benar-benar pria cadangan loh*cieilehh, maksudnya ya yang nggak seberapa kenal. Tapi karena kondisinya Riza sedang sakit rempela, Dela yang mabuk, Vivi yang lagi rindu someone, Dana yang ayem aja, Putri yang kena imbas si sakit Rempelo, dan aku sama Elok yah ikutin alur aja gitu. So, selamat buat Arif yang sudah jadi pemeran utamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar