SUDAHKAH
INDONESIA MERDEKA?
Oleh : Wasi’atul Amalia
Indonesia, adalah negara yang
memiliki berbagai macam julukan. Indonesia negara agraris, Indonesia zamrud
katulistiwa, negara seribu pulau, dan
masih banyak lagi. Indonesia ini sangat kaya. Kaya akan bahasa, budaya,
kuliner, tempat wisata. Wah, aku bahkan tak pernah menyesal menjadi seorang
pribumi. Tapi, akan sayang sekali katika kita menilik pendidikan di Indonesia
masih tertinggal jauh. Tapi, jangan khawatir. Masih banyak kok pemuda Indonesia
yang peduli akan pendidikan. Banyak dari mereka yang rela menjadi relawan untuk
mengajar di daerah pelosok, karena mereka ingin anak-anak Indonesia kelak
menjadi tombak perubahan untuk pendidikan Indonesia.
Untuk itu marilah kita sebagai
generasi muda membantu pendidikan di Indonesia ini. Caranya bagaimana? Mulailah
perhatian dengan lingkungan sekitar. Sudahkah kita tahu bahwa di lingkungan
kita telah mendapat pendidikan yang layak? Kalau sudah mari kita lihat saudara
kita di pelosok. Apakah anak-anak di sana melalui pendidikan yang mudah seperti
kita di kota atau desa yang aksesnya terjangkau. Bahkan di televisi dan
internet banyak yang mengangkat kisah perjuangan anak bangsa yang harus melalui
banyak sekali rintangan untuk menuju ke sekolah. Mulai dari mendaki gunung,
lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra (aish, penulis lagi ke inget
ninja Hatori, hehe oke balik lagi). Mereka menyebrangi sungai, melewati
jembatan yang tidak layak. Ah, miris sekali karena mereka harus menempuh jarak
yang jauh dengan medan yang terjal karena mereka ingin sekolah.
Perlu adanya kesadaran dari
masyarakat itu sendiri. Aku benar-benar takjub melihat mereka bersemangat untuk
sekolah. Dengan seksama ku dengarkan kisah seorang teman bernama Rizal yang
mengikuti “Indonesia Mengajar” di kampusnya. Ia di tempatkan di Pulau Bawean,
Gresik. Saat di tanya mengapa anak-anak itu mau bersusah payah sekolah, inilah
jawabannya.
“Dek, sekolahnya kan jauh. Sekitar 5
km dengan berjalan kaki dari pesisir kemudian mendaki gunung untuk sampai ke
sekolah, kenapa masih ingin sekolah?” tanya Rizal pada seorang anak di sana.
“Karena tidak ingin bodoh.” Simpel
memang jawabannya. Mereka tidak ingin bodoh. Bukan hanya bodoh dalam kategori
IQ tetapi juga moral. Ku pikir mereka punya semangat yang besar dan di harapkan
menjadi generasi penerus bangsa yang kuat karena telah melalui proses yang
rumit.
Tidak selesai di situ saja cerita
Rizal. Ia juga mengungkapkan pengalamannya itu benar-benar luar biasa. Karena
dengan adanya program relawan pengajar muda ini selain mengajar, juga
berinteraksi aktif untuk mengetahui kearifan lokal, hal tersebut otomatis akan
membentuk leadership skill, problem
solving, adaptasi masyarakat dan advokasi bagi pengajar muda. Seharusnya
Indonesia juga mulai memerhatikan pendidikannya ke seluruh Indonesia—sampai ke
pelosok-pelosokpun dan mengupayakannya. Seperti yang tertera dalam UUD 1945
terdapat kalimat, mencerdaskan kehidupan bangsa, maka janji itu harus dilunasi untuk setiap warga negara.
Akan tetapi tidak semua orangtua dan
masyarakat yang pro dengan pendidikan. Banyak dari mereka yang mengatakan ilmu
agama lebih penting daripada ilmu umum. Sebaiknya
memang harus ada beberapa orang—pintar yang mengkondisikan hal tersebut. Dimana
ilmu agama dan pendidikan sama-sama penting.
Rizal
juga bertemu dengan pak Waluyo. Beliau adalah warga Gresik yang penugasannya di
tempatkan di Pulau Bawean, kemudian ia memutuskan untuk menetap disana setelah
sepuluh tahun ia mengajar. Bersama pak Waluyo dan beberapa teman akhirnya mereka
ingin sebuah perubahan. Perubahan memerdekakan bangsa Indonesia dari kebodohan.
“Indonesia
memang sudah merdeka sejak hampir tujuhpuluh tahun lalu. Tapi, ku rasa kita
bahkan masih di jajah kebodohan!” ungkap Rizal saat itu.
***
Begitulah wajah pendidikan di
Indonesia. Masih perlu yang namanya suntikan semangat, dana dan partisipasi pemerintah
dan warga negara itu sendiri. Lalu apakah Indonesia sudah di katakan merdeka?
Selain pendidikan yang tertinggal,
Indonesia merupakan negara pengguna media sosial terbesar. Sayangnya semua
media sosial dan internet produk asing. Dimana negara dikenakan pajak untuk
setiap satu saja media sosial.
Tidak di pungkiri bahwa kita
termasuk pengguna aktif. Tapi tahukah kalian? Bahwa ternyata penggunaan
internet di Indonesia hampir mencapai devisit. Kenapa? Selain kita di jajah
oleh produk asing, produk itu sendiri menjadi candu. Karena kecenderungan
masyarakat Indonesia yang suka berkumpul, tegur sapa ataupun sarana
silaturrahmi.
Tapi, kalau kita menilik produk
lokal banyak sekali mahasiswa atau anak-anak bangsa ini yang aktif dan kreatif
membuat media sosial sendiri. Ada juga beberapa dari mereka yang membuat game, komik dan film animasi dan
lain-lain.
Saat itu, aku tak sengaja menonton
televisi yang membahas start up.
Disana mereka menciptakan sebuah media sosial karena prihatin dengan banyaknya
media sosial dari luar, bahkan setiap orang memiliki lebih dari dua akun. Hal
tersebut berarti menambah angka pajak negara.
Dari kumpulan mahasiswa IT(Ilmu
Teknologi) tersebut, maka lahirlah media sosial tersebut. Tujuannya adalah agar
warga negara sendiri mau menggunakan dan mencintai produk lokal, selain itu
dengan menggunakan media ini akan menambah penghasilan negara. Wah, bukankah menguntungkan?
Jadi, masihkah kita berpaling dengan produk asing?.
Dari satu ide, munculah suara,
kemudian share yang menghasilkan.
Kalau hal tersebut terus di kembangkan, akan tercipta lah produk-produk lokal
lain.
Maukah kita terus di jajah?
Pertanyaan tersebut beberapa kali menjadi pertanyaan yang sayup-sayup ku dengar
saat menjadi mahasiswa baru. Saat itu topiknya tentang pendidikan. Tentang
pembebasan negara dari pembodohan.
Lama-lama ku pikir yang namanya
merdeka selain terbebas dari penjajahan wilayah oleh orang asing, juga tentang
penjajahan pendidikan, dan penjajahan dari produk-produk asing.
Untuk
saat ini sudah banyak konten-konten lokal bermunculan. Selain dari dunia start up, juga dari produk-produk
sandang, pangan dan lain-lain yang tak kalah kualitasnya dengan produk asing.
Jika
pendidikan sudah mulai mengalami peningkatan, tentu akan muncul
perubahan-perubahan atau setidaknya negara mampu mengahsilkan segalanya sendiri
dan justru lebih banyak mengekspor produknya.
Bukankah
alam kita telah mendukung. Seperti palawija, perkebunan, peternakan, penghasil
minyak mentah. Tinggal pengolahannya saja yang terus di pelajari. Tentunya
dengan pendidikan. Kalau sudah mencintai produk lokal, dan segala sesuatu
berasal dari negara sendiri tentu kehidupan di Indonesia mampu bersaing dengan
negara-negara maju.
Jangan
sampai pasar bebas di tahun ini menghilangkan ciri khas Indonesia. Negara kita
kaya akan sesuatu yang di hasilkan. So?
Ini adalah PR bagi generasi muda sebagai penerus bangsa. Bahwa pendidikan itu
sangat penting, mencintai produk sendiri adalah salah satu bentuk apresiasi
terhadap negara. Dan kita harus menjaganya.
Saatnya
perubahan untuk Indonesia. Dan kuncinya adalah pada generasi muda. Untuk
Indonesia, setelah tujuh puluh tahun mendeka.
♫Coba
berdiri di puncak gunung tertinggi tersadar tlah semua kita miliki.
Dari mata sang Garuda memandang luas dari
langit yang tinggi.
Bersatulah untuk Indonesia kobarkan
semangatmu,
Kan ku bela sampai habis nafasku,
Jangan pernah menyerah sudah
terlalu lama kita terlelap.
Bangkit dan raih semua mimpi.
Jangan lupakan darah dan keringat, pemuda
pemudi.
Sebelum
kita tak kan tergantikan segala harta.
Jangan
biarkan mereka mencuri.
Segala
semua dari leluhur kita, buka mata hati dan telinga.
Sebelum semuanya, musnah.
Dari mata sang Garuda memandang
luas dari langit yang tinggi.
Merah putih kau selalu di hati.♫
(Dari
Mata Sang Garuda-Pee Wee Gaskins)
END

Tidak ada komentar:
Posting Komentar