Sabtu, 05 September 2015

Indonesia




SUDAHKAH INDONESIA MERDEKA?
Oleh    : Wasi’atul Amalia
            Indonesia, adalah negara yang memiliki berbagai macam julukan. Indonesia negara agraris, Indonesia zamrud katulistiwa, negara seribu pulau,  dan masih banyak lagi. Indonesia ini sangat kaya. Kaya akan bahasa, budaya, kuliner, tempat wisata. Wah, aku bahkan tak pernah menyesal menjadi seorang pribumi. Tapi, akan sayang sekali katika kita menilik pendidikan di Indonesia masih tertinggal jauh. Tapi, jangan khawatir. Masih banyak kok pemuda Indonesia yang peduli akan pendidikan. Banyak dari mereka yang rela menjadi relawan untuk mengajar di daerah pelosok, karena mereka ingin anak-anak Indonesia kelak menjadi tombak perubahan untuk pendidikan Indonesia.
            Untuk itu marilah kita sebagai generasi muda membantu pendidikan di Indonesia ini. Caranya bagaimana? Mulailah perhatian dengan lingkungan sekitar. Sudahkah kita tahu bahwa di lingkungan kita telah mendapat pendidikan yang layak? Kalau sudah mari kita lihat saudara kita di pelosok. Apakah anak-anak di sana melalui pendidikan yang mudah seperti kita di kota atau desa yang aksesnya terjangkau. Bahkan di televisi dan internet banyak yang mengangkat kisah perjuangan anak bangsa yang harus melalui banyak sekali rintangan untuk menuju ke sekolah. Mulai dari mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra (aish, penulis lagi ke inget ninja Hatori, hehe oke balik lagi). Mereka menyebrangi sungai, melewati jembatan yang tidak layak. Ah, miris sekali karena mereka harus menempuh jarak yang jauh dengan medan yang terjal karena mereka ingin sekolah.
            Perlu adanya kesadaran dari masyarakat itu sendiri. Aku benar-benar takjub melihat mereka bersemangat untuk sekolah. Dengan seksama ku dengarkan kisah seorang teman bernama Rizal yang mengikuti “Indonesia Mengajar” di kampusnya. Ia di tempatkan di Pulau Bawean, Gresik. Saat di tanya mengapa anak-anak itu mau bersusah payah sekolah, inilah jawabannya.
            “Dek, sekolahnya kan jauh. Sekitar 5 km dengan berjalan kaki dari pesisir kemudian mendaki gunung untuk sampai ke sekolah, kenapa masih ingin sekolah?” tanya Rizal pada seorang anak di sana.
            “Karena tidak ingin bodoh.” Simpel memang jawabannya. Mereka tidak ingin bodoh. Bukan hanya bodoh dalam kategori IQ tetapi juga moral. Ku pikir mereka punya semangat yang besar dan di harapkan menjadi generasi penerus bangsa yang kuat karena telah melalui proses yang rumit.
            Tidak selesai di situ saja cerita Rizal. Ia juga mengungkapkan pengalamannya itu benar-benar luar biasa. Karena dengan adanya program relawan pengajar muda ini selain mengajar, juga berinteraksi aktif untuk mengetahui kearifan lokal, hal tersebut otomatis akan membentuk leadership skill, problem solving, adaptasi masyarakat dan advokasi bagi pengajar muda. Seharusnya Indonesia juga mulai memerhatikan pendidikannya ke seluruh Indonesia—sampai ke pelosok-pelosokpun dan mengupayakannya. Seperti yang tertera dalam UUD 1945 terdapat kalimat, mencerdaskan kehidupan bangsa, maka janji itu harus dilunasi untuk setiap warga negara.
            Akan tetapi tidak semua orangtua dan masyarakat yang pro dengan pendidikan. Banyak dari mereka yang mengatakan ilmu agama lebih penting daripada ilmu umum.  Sebaiknya memang harus ada beberapa orang—pintar yang mengkondisikan hal tersebut. Dimana ilmu agama dan pendidikan sama-sama penting.
Rizal juga bertemu dengan pak Waluyo. Beliau adalah warga Gresik yang penugasannya di tempatkan di Pulau Bawean, kemudian ia memutuskan untuk menetap disana setelah sepuluh tahun ia mengajar. Bersama pak Waluyo dan beberapa teman akhirnya mereka ingin sebuah perubahan. Perubahan memerdekakan bangsa Indonesia dari kebodohan.
“Indonesia memang sudah merdeka sejak hampir tujuhpuluh tahun lalu. Tapi, ku rasa kita bahkan masih di jajah kebodohan!” ungkap Rizal saat itu.
***
            Begitulah wajah pendidikan di Indonesia. Masih perlu yang namanya suntikan semangat, dana dan partisipasi pemerintah dan warga negara itu sendiri. Lalu apakah Indonesia sudah di katakan merdeka?
            Selain pendidikan yang tertinggal, Indonesia merupakan negara pengguna media sosial terbesar. Sayangnya semua media sosial dan internet produk asing. Dimana negara dikenakan pajak untuk setiap satu saja media sosial.
            Tidak di pungkiri bahwa kita termasuk pengguna aktif. Tapi tahukah kalian? Bahwa ternyata penggunaan internet di Indonesia hampir mencapai devisit. Kenapa? Selain kita di jajah oleh produk asing, produk itu sendiri menjadi candu. Karena kecenderungan masyarakat Indonesia yang suka berkumpul, tegur sapa ataupun sarana silaturrahmi.
            Tapi, kalau kita menilik produk lokal banyak sekali mahasiswa atau anak-anak bangsa ini yang aktif dan kreatif membuat media sosial sendiri. Ada juga beberapa dari mereka yang membuat game, komik dan film animasi dan lain-lain.
            Saat itu, aku tak sengaja menonton televisi yang membahas start up. Disana mereka menciptakan sebuah media sosial karena prihatin dengan banyaknya media sosial dari luar, bahkan setiap orang memiliki lebih dari dua akun. Hal tersebut berarti menambah angka pajak negara.
            Dari kumpulan mahasiswa IT(Ilmu Teknologi) tersebut, maka lahirlah media sosial tersebut. Tujuannya adalah agar warga negara sendiri mau menggunakan dan mencintai produk lokal, selain itu dengan menggunakan media ini akan menambah penghasilan negara. Wah, bukankah menguntungkan? Jadi, masihkah kita berpaling dengan produk asing?.
            Dari satu ide, munculah suara, kemudian share yang menghasilkan. Kalau hal tersebut terus di kembangkan, akan tercipta lah produk-produk lokal lain.
            Maukah kita terus di jajah? Pertanyaan tersebut beberapa kali menjadi pertanyaan yang sayup-sayup ku dengar saat menjadi mahasiswa baru. Saat itu topiknya tentang pendidikan. Tentang pembebasan negara dari pembodohan.  
            Lama-lama ku pikir yang namanya merdeka selain terbebas dari penjajahan wilayah oleh orang asing, juga tentang penjajahan pendidikan, dan penjajahan dari produk-produk asing.
Untuk saat ini sudah banyak konten-konten lokal bermunculan. Selain dari dunia start up, juga dari produk-produk sandang, pangan dan lain-lain yang tak kalah kualitasnya dengan produk asing.
Jika pendidikan sudah mulai mengalami peningkatan, tentu akan muncul perubahan-perubahan atau setidaknya negara mampu mengahsilkan segalanya sendiri dan justru lebih banyak mengekspor produknya.
Bukankah alam kita telah mendukung. Seperti palawija, perkebunan, peternakan, penghasil minyak mentah. Tinggal pengolahannya saja yang terus di pelajari. Tentunya dengan pendidikan. Kalau sudah mencintai produk lokal, dan segala sesuatu berasal dari negara sendiri tentu kehidupan di Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara maju.
Jangan sampai pasar bebas di tahun ini menghilangkan ciri khas Indonesia. Negara kita kaya akan sesuatu yang di hasilkan. So? Ini adalah PR bagi generasi muda sebagai penerus bangsa. Bahwa pendidikan itu sangat penting, mencintai produk sendiri adalah salah satu bentuk apresiasi terhadap negara. Dan kita harus menjaganya.
Saatnya perubahan untuk Indonesia. Dan kuncinya adalah pada generasi muda. Untuk Indonesia, setelah tujuh puluh tahun mendeka.

♫Coba berdiri di puncak gunung tertinggi tersadar tlah semua kita miliki.
 Dari mata sang Garuda memandang luas dari langit yang tinggi.
Bersatulah untuk Indonesia kobarkan semangatmu,
Kan ku bela  sampai habis nafasku,
Jangan pernah menyerah sudah terlalu lama kita terlelap.
 Bangkit dan raih semua mimpi.
 Jangan lupakan darah dan keringat, pemuda pemudi.
Sebelum kita tak kan tergantikan segala harta.
Jangan biarkan mereka mencuri.
 Segala  semua dari leluhur kita, buka mata hati dan telinga.
 Sebelum semuanya, musnah.
Dari mata sang Garuda memandang luas dari langit yang tinggi.
Merah putih kau selalu di hati.♫
(Dari Mata Sang Garuda-Pee Wee Gaskins)
END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar