Trip to Banyuwangi-Situbondo
Cast. : Vivi, Dela, Putri, Dana, Riza, Elok,
Arif, Wasik.
Koord :
All
Kameramen :
Wasik
Supir :
Dana, Riza
GPS :
Arif
Keuangan :
Putri
Konsumsi :
Putri
Trip Sama yang (Katanya) Udah Tua-tua
Sudah tidak terasa di awal semester 5 ini
tentu umur kita juga udah pada dibilang “dewasa”. Cara pemikiran, sikap dll
juga berubah. Seperti juga liburan kita kali ini. Yang katanya berubah menjadi
liburan mewah, liburan manja, liburan kelas lah. Haha, padahal serba “se**” :D.
Ssst.
Iya. Liburan yang harus di tunggu selama dua
bulan lebih, dan di fix-kan pada saat sebelum masuk kuliah, setelah krs-an dan
cukup di bilang mepet ini. Akhirnya membeludak juga dengan bajet yang lumayan
tapi menurutku gak seberapa ketimbang naik kendaraan umum.
Setelah pusing dengan anggota yang naik turun,
datang pergi silih berganti. Juga kendaraan yang silih berganti, akhirnya
mencapai kesepakatan pada H-1 dan alhamdulilah di beri kelancaran untuk anggota
dan kendaraannya.
Aku, Dana, Dela, Putri, Elok, Vivi, Riza dan
Arif—si orang-orang yang dibilang sudah tua, :3. Dan memang sudah saatnya kita
seperti ini, jadi jangan katrok, norak, atau apalah apalah :D.
Dengan agenda dan jadwal yang masih kasar ini,
kita memutuskan berangkat dan memutuskan segala sesuatu melihat dari kondisi
nanti di perjalanan.
Akhirnya diputuskan subuh berangkat. Tapi
dugaan mereka benar, paling lambat jam 7 baru berangkat. Biasa, orang Indonesia
emang molor dan ngaret. Okelah.
Perjalanan
ramai lancar, karena bertepatan dengan jam masuk sekolah. Di awal sempat di
buat tegang karena hampir menabrak seorang yang mau menyebrang, tapi sejauh
perjalanan sampai pulang alhamdulilah lancar.
Emang
enak sih naik kendaraan sendiri, tapi yang gak enak yang mabuk perjalanan kayak
Dela. Haha, yakin nih namanya my trip my
adventure? My trip my mabok ya Del? dia yang tadinya mengelu-elukan
kenyamanan ini harus puas dengan ketikdaknyamanan kondisinya yang mabuk, haduh.
Lalu kita istirahat di Gandrung dan memakan bekal yang di masak oleh mbak
Putri—tentunya di bantu kita-kita lah.
Sempat
terjebak macet di kota Banyuwangi karena ada acara. Riza yang notabenenya orang
Banyuwangi gak tahu jalan pintas, tapi untunglah ada GPS. Dan tau nggak sih
betawa bawelnya yang namanya Arif ini, apalagi yang nyetir Riza, tabah bawel
lah dia kayak emak-emak. Pelan tapi pasti melewati gang gang sempit dan jalan
yang pres. Tak ada yang pernah melewati
jalur setelah pelabuhan Ketapang, semua serba menurut insting dan GPS.
Kebetulan GPS Arif tidak berfungsi karena bukan ranahnya.
“Bos? Kapan sampainya? Masih jauh nggak?”
komentar Arif yang duduk di bangku paling belakang.
“Wah, kurang tau ya?” jawab Dana. Karena Riza
sedang sakit rempela dan kondisi tidak mood menjawab Arif.
“Wah, gimana ini orang Banyuwangi kok nggak
tahu?” komennya lagi.
“Kan ada GPS, insyaAllah sampai.” Jawab Dana
lagi.
“Bos, bos! Pelan. Santai aja tetap fokus ya?
Haha.” Ejek Arif melihat Riza yang mukanya udah ditekuk dan dilipet kecil gara
gara rempela.
“Eh, kamu ini jangan komen terus!” Dela yang
disebelahnya mulai gerah.
“Bos, jangan kenceng-kenceng aku gak mau mati
loh bos!” kata Arif masih bawel.
“Yaudah mati kita kan bareng-bareng, kok
repot!” jawab Riza final dan sukses membungkam mulut Arif.
Pantai
ujung timur Jawa ini terlihat begitu jelas dan keren. Okelah Banyuwangi sukses
kali ini. Perjalanan di temani birunya lautan, dan angin kering yang menerpa.
Untuk menikmati aroma laut di bukalah jendela. Setelah melewati Watudodol, 2 KM
kemudian setelah bertanya-tanya juga, sampailah kita di BUNDER(Bangsring Under
Water).
“Ini
adalah Bangsring under water.” Kataku merekam video.
“under
itu dimana?” tiba-tiba kata Arif yang nyahut.
“under
itu dibawah.”
“di
bawah mana?” katanya lagi GJ.
“ya
di bawah laut sana.” Yaelah ni anak.
Setelah sholat dzuhur—alhamdulilah,
selagi ada yang alim(katanya) ibadahnya gak di tinggalkan. Kita cuss “se-nor-keling”.
Iyups. Kapan lagi? Jauh-jauh kesini kok gak snorkling. Lumayan buat pemula
apalagi yang gak bisa renang. Dengan 30k saja sudah bisa sewa peralatan dan
nyebrang ke rumah apung dan berenang sama Hiu. Hiii....
Sebelum
menyebrang, sempat terjadi kendala dengan Gopro kita. Memory full. Ah, betapa
riwehnya aku, udah jauh-jauh sewong dan sampai tujuan tak bisa mengabadikan.
Untunglah di saat mefet gini otak ku langsung menemukan ide karena nih memory
pakai adapter, jadi bisa diisi memori kecil. Setelah rempong kembali ke mobil
akhirnya bisa juga. Iyalah, masak jauh-jauh dan bela-belain se** gak kepake?
Eman banget lah.
Dan,
its time to “byur”, nyemplung di laut yang dalam. Ih, ngeri sih. Tapi untung
ada pelampung dan pemandu. Yang enak nih yang bisa berenang—cowoknya. Tapi, tak
apalah yang penting juga bisa menikmati keindahan bawah laut dan nelen air laut
:D.
Dengan
mudah terbawa arus laut ketengah dan susah payah kembali ke rumah apung. Hanya
mereka yang pandai berenang yang banyak dokumentasinya :3.
Setelah
banyak yang merasa pusing, kita lalu cabut dan bilas. Alhamdulilah bisa sholat
ashar, lalu makan bekal lagi sebelum gas pol Situbondo.
Memasuki kawasan Taman Nasional Baluran.
Kupikir kita akan mampir, taunya udah kelewat kayaknya. Jadi di teruskan sampai
pantai Pasir-putih. Di pinggirnya sih, di tempat diving rekondisi karang
gitu(Lumayan gratis).
Di perjalanan ke Situbondo GPS Arif mulai
berfungsi. Dengan semangat dia menunjuk arah pada supir. Tapi... entah mengapa
dia berubah aneh saat sudah sampai di Situbondo.
“Rif
ini jalan kemana?” tanya Riza.
“Eh,
kuti plang jalan dah bos. Waduh di depan ada acara jadi ditutup. Ah, tau lah
ikuti mobil depan aja.” What? Apa-apaan
nih anak, wah...
“Udah
masuk kawasan wisata Pasirputih, mau berhenti di mana?” tanya teman-teman.
“Ah,
kita berhenti di dermaga baru di bawah jembatan aja. Gratis biasanya.”
“Oh,
yang baru itu? Iya tau.” Kata Dela.
“Bos,
pelan ya bos.” Kini Riza mulai memelankan laju kendaraan, seperkian menit tapi
belum juga menemukan lokasinya.
“Masih
jauh bos. Bablas jos sudah!” ha? Okelah.
“Masih
jauh kah?” tanya Vivi tak sabar.
“Kayaknya
sebentar lagi jembatan, pelan bos!” kali ini kendaraan dipelankan lagi. Tapi
juga tak nampak.
“Eh
masih agak jauh kayaknya, ngebut lah!” komennya lagi. Begitu terus sampai ke
bablas dan kembali lagi, akhirnya sampai juga.
Setelah
melepas penat, sampai jam 12 tengah malam kita langsung cabut untuk kembali
pulang. Jalanan begitu sepi. Kali ini GPS Arif yang agresif-pun snagat
berfungsi. Setelah sebelumnya harus menabung/setor dulu di Pom terdekat, karena
setelah itu daerah hutan dan gunung.
Dela,
Putri dan Riza sepertinya sudah K.O. GPS Arif benar-benar hafal betul daerah
itu. Sampai setiap tikungan dia tahu dan daerah rawan-rawan kecelakaan. Kondisi
jalan yang sangat sepi, gelap tak berlampu dan lalu berkelok naik turun gunung
membuat tegang. Tapi ahamdulillah lancar berkat GPS Arif walaupun waktu di
Situbondo tidak bisa di bilang sukses seperti Banyuwangi.
Memasuki
kota Jember pukul 3 pagi. Awalnya mau nongkrong di alun-alun, tapi ternyata gak
ada gorengan. Akhirnya beli nasi goreng di dekat GOR, lalu di makan di depan
kampus kita tercintah :3. Iya pas pagi-pagi jam setengah 4 itu. Sempat di kira
ngapain nih sama pak satpam. Dia gak tahu kalau kita juga penghuni nih kampus.
Iye.. pergi pagi pulang pagi.
Kapan
lagi liburan manja, kan emang sudah saatnya. Apalagi momen yang gak selalu kita
dapatkan sama sahabat-sahabat ini. Ahh, gak bayangin deh kalau harus pisah.
Terimakasih
buat liburan manjanya ini ya teman-teman. Juga obrolan selama di perjalanan dan
guyonannya.
Ku pikir kali ini Arif justru jadi
peran utama, padahal dia benar-benar pria cadangan loh*cieilehh, maksudnya ya
yang nggak seberapa kenal. Tapi karena kondisinya Riza sedang sakit rempela,
Dela yang mabuk, Vivi yang lagi rindu someone, Dana yang ayem aja, Putri yang
kena imbas si sakit Rempelo, dan aku sama Elok yah ikutin alur aja gitu. So,
selamat buat Arif yang sudah jadi pemeran utamanya.