Sabtu, 28 Maret 2015

Senja di Sudut Pesarean Sunan Prapen

SENJA DI SUDUT PESAREAN KANJENG SUNAN PRAPEN
Seperti biasa, momen liburan setelah ujian di gunakan untuk berlibur tentunya. Aku sudah ada rencana akan berkeliling kota Malang bersama teman-temanku. Kami sudah prepacking  walaupun terjadi kendala-kendala perbedaan pendapat dan sulit mencapai mufakat, karena alasan finansial.
Pada akhirnya, dihari terakhir kumpul—hanya ada sekitar empat orang saja dari belasan temanku yang akan ikut. Kami yang gak tahu harus ngapain hanya diam dan menunggu, setelah itu Dana salah satu teman yang kami anggap leader menelponku.
“Halo, assalamu’alaikum?” jawabku.
“Wa’alaikumsalam, gimana Lia? Apa anak-anak sudah kumpul semua?”
“Wah, gimana Dan. Ini Cuma berempat. Yang lain kemana? Di telepon gak ada yang jawab. Kamu kesini kan?”
“Maaf banget Li, aku gak bisa kumpul. Kemungkinan juga aku gak bisa ikut liburan, apalagi kondisinya kita touring pakai sepeda motor dan trekking...” kemudian aku meloud speaker agar yang lain mendengar.
“Kemarin aku habis operasi kaki, jadi sementara seminggu ini harus diam dirumah..” aku memberi kode gimana? Pada teman-teman. Mereka mengiyakan.
“Ya sudah Dan, gak papa. Kamu cepat sembuh ya?”
“Iya, maaf banget. Salamin ke yang lain ya?”
“Oke. Assalamu’alaikum..” setelah terdengar jawaban salam dari seberang sana, aku menutup panggilannya.
            Mereka yang datang-pun memutuskan untuk mengcancel liburang kali ini, alasannya selain banyak cowoknya yang gak ikut, kendala akomodasi dan finansial juga. Aku-pun dengan berat harti dan mau gak mau ya memang harus membatalkan rencana liburan kali ini.
***
            Hari-hari hanya ku lewati di rumah menonton film kesukaan, tidur dan makan saja. Sampai suatu pagi, saudara sepupuku menelpon dan mengajakku wisata religi—tepatnya ke ziarah makam Wali 5. Karena gratis, dan gak ada kerjaan aku mengiyakan.
            Sebenarnya aku sudah sangat sering ziarah Wali 9. Tapi, entah mengapa aku tak pernah bosan—walaupun pergi dengan para orang tua dan bahkan kakek nenek. Selalu saja terbesit rindu ketika aku sudah lama tak berziarah.
            Hari ketika kami berangkat—aku beserta saudara-saudaraku memutuskan berangkat malam hari, sekitar jam 21.00 WIB. Mas Baihaqi sendiri yang menyetir mobil. Biasanya malam hari jalan kota akan sedikit lengang dari pada biasanya.
            Seperti biasa, tujuan awal kami dari yang jauh dahulu. Kami sampai di Tuban—Sunan Bonang pada jam 03.00 WIB, setelah melaksanakan sholat subuh. Kami langsung berdo’a ke makam.
            Karena melewati jalur pantai utara, sepanjang perjalanan menuju ke Lamongan—Sunan Drajat adalah pantai. Kali ini kami berhenti sejenak di depan pantai pantura untuk menikmati sarapan, ditemani sunrise pagi. Betapa nikmatnya, walaupun sedikit mendung tapi tidak mengurangi sedikitpun kenikmatan yang diberikan oleh Sang Kuasa.
            Setelah menikmati sarapan, dan berjalan-jalan sebentar di pantai. Kami langsung melanjutkan perjalanan ke Lamongan. Akhirnya sekitar jam 11.00 WIB kami tiba di makam Sunan Drajat, sekitar 30 menit dari kota Lamongan.
            Hawa panas begitu menyengat waktu itu. Setelah kami bersantai di mushola, kami lalu melanjutkan perjalanan ke makam selanjutnya—makam Sunan Maulana Malik Ibrahim-Gresik.
            Kami tiba disana pada jam 14.30 WIB. Lokasinya berada di perkotaan Gresik. Mas Baihaqi memang selalu penasaran dengan hal-hal yang mistis. Setiap ke makam selalu bermeditasi menyendiri—entahlah ngapain, aku tidak mengerti. Yang jelas, dia punya kekuatan untuk melihat dan merasakan adanya makhluk astral. Sampai saat ini, yang bisa dirasakan Mas Baihaqi adalah di tempat Sunan Drajat tadi, karena memang suasananya cukup seram dengan makam-makam berbatu dan berbukit serta beberapa pohon beringin.
            Jam 16.00 kami meninggalkan pesarean Sunan Maulana Malik Ibrahim dan langsung tancap gas ke pesarean Sunan Giri, di Gresik juga—tepatnya Desa Giri.
            Setelah 30 menit berlalu, sampailah kami ke makam Sunan Giri. Lokasinya juga berbukit. Kami harus melewati trap trap berundak. Konon mitosnya, setiap orang yang mengitung anak tangga dari awal gapura, sampai di gapura masuk pesarean, jumlahnya akan berbeda. Begitupun saat kita menghitung lagi di lain waktu, hasilnya akan beda.
            Aku melakukannya—menghitung anak tangga itu bersama saudaraku. Setelah sampai puncak. Hasilnya-pun selisih. Aku menghitung ada 200 anak tangga, sedangkan saudaraku mengatakan ada 198 anak tangga. Entahlah. Itu adalah mitos yang beredar bagi kalangan orang yang pernah berziarah Wali 9.
            Sampai di puncak—gapura makam, aku melihat pemandangan didepanku. Betapa indahnya sore hari di Giri,Gresik ini. Dari atas sini, terlihat hamaparan perkotaan dan bukit-bukit kapur—biasanya dibuat batu bata atau semen, mentari sore-pun kala itu bersinar mengguratkan warna kuning terang. Cuacanya begitu cerah. Lagi-lagi Kau menunjukkan kebesaranMu, batinku pun tak henti-hentinya bersyukur dengan nikmat-Nya itu.
            Tentu kami berdo’a bukan pada penghuni makam—tetapi mendo’akan sang penghuni makam, dan mengharap ridho Allah, juga mengharap mendapat suatu berkah kedepannya.
            Setelah berdo’a ke makam. Lagi-lagi mas Baihaqi penasaran dengan aura-aura mistis. Dia bilang, dia ingin berziarah ke makam Sunan Prapen—penerus keempat dari Sunan Giri,  sebagai tokoh yang berpengaruh, Sunan Prapen disebut-sebut paus Islam dari VOC. Begitulah yang sempat aku baca dari buku sejarah Wali 9.
            Makamnya tak jauh dari Sunan Giri. Sekitar 200 m ke barat. Saat itu terlihat sepi. Memang jarang peziarah yang sekaligus berziarah ke makam Sunan Prapen ketika di Sunan Giri. Terlihat makam-makan di atas perbukitan, hawanya juga sepi dan sedikit mistis memang—pohon-pohon bambu menambah aksen mistis, apalagi langit terlihat mulai gelap.
            Sampailah di area makam Sunan Prapen—masih harus menanjak melewati anak tangga. Kami memutuskan untuk menunggu setelah sholat maghrib, sesaat aku terpana kala melihat kearah barat. Mega di langit Gresik. Betapa indahnya mega di kala senja itu, matahari terlihat sudah hampir tenggelam meninggalkan bumi untuk beristirahat—dan digantikan bulan yang menerangi malam disini. Sambil aku tak henti-hentinya berdecak kagum oleh lukisan alam yang gratis ku nikmati ini—aku teringat surah “ar-Rohman” di Alqur’an. Dimana selalu disebutkan di ayat-ayatnya. “Sungguh, nikmat mana yang engkau dustakan?”. Benar-benar keren. Setelah itu, suara adzanpun bergema. Kudengar selain di mushola samping-ku ini, dari bawah juga terdengar adzan maghrib yang seperti bersaut-sautan. Menambah nikmat yang kurasakan. Senja di sudut pesarean Sunan Prapen. Senja yang bisa ku nikmati di tempat dan kesempatan yang beda—di tempat aku harus mengingatNya selalu, ditempat dimana semua yang bernyawa akan mati pada waktunya kelak. Aku merasa selalu mengingat kematian jika sudah berada di pesarean, untuk itu aku akan termotivasi untuk menjadi lebih baik.
             Setelah sholat maghrib berjamaah kami langsung menuju ke pesarean. Saudara sepupuku yang sudah lama menikah tapi belum juga punya momongan, mencoba duduk diatas sebuah batu—batu yang berada ditengah-tengah dasar tangga, konon juga dipercayai bagi pasangan yang sulit dikaruniai anak jika duduk di batu tersebut, akan di mudahkan jalannya untuk mendapatkan anak.
            Akhirnya sampailah kami di pesarean Sunan Kanjeng Prapen. Suasana gelap, sepi dan hanya ditemani lampu sorot di area makam, terdapat juga lampu yang biasa di jalan-jalan raya. Kesan awal, begitu mistis—khidmad, sesekali aku tolah toleh melayarkan pandanganku keseluruh areal, benar-benar gelap dan sepi. Aku bergidik ngeri. Tapi begitupun tahlil dibacakan, kami mulai hanyut dengan do’a masing-masing dan pengharapan masing-masing.
            Perjalanan pulang, jalan menuju parkiran mobil. Mas Baihaqi bercerita.
“Gimana Bay? Udah ketemu Sunan Prapennya?” kata saudara sepupuku.
“Haha, sst.. ya jelas ada mbak. Tapi gak mau keluar. Tadi itu kan makam seorang raja, dan para prajurit-prajuritnya. Rata-rata dari mereka mati karena perang.”
“Terus?” kata saudara sepupuku lagi.
“Wah, hawanya begitu keras penuh amarah. Mereka seperti bersikap selalu waspada pada setiap kehadiran orang. Jadi sebaiknya kita jangan banyak bicara. Ya sudahlah.” Mas Baihaqi mengakhiri topik dengan berjalan cepat menuju mobil dan keramaian.
            Setelah di Gresik, kami langsung menuju Surabaya—Sunan Ampel, makam terakhir yang akan kita ziarahi, dan shoping-shoping, karena disana lebih lengkap.
***
            Begitulah aku menyimpan momen yang beda saat berziarah Wali 5. Begitu eloknya mega yang terpancar di kala senja itu. Warna jingga kemerah-merahan, sudut makam Sunan Prapen yang mistis, bukit-bukit kapur menjulang dan hamparan perkotaan Gresik kala itu, apalagi menikmatinya sambil mendengar gema adzan, ah.. subhanallah.
THE END
oleh : Wasik :*





The Hell of High School



THE HELL OF HIGH SCHOOL
Ini adalah sekolah terburuk yang mungkin pernah gue rasain. Yah, murid-murid disini patuh peraturan, disiplin, harus rapi, tidak ada Handphone atau yang lainnya yang berhubungan dengan sarana elektronik. Di sini bukanlah kehidupan gue, hidup bebas, tak di kekang, kemanapun gue mau gue bakal lakuin. Tapi disini ?? ini adalah penjara bagi gue! Sekolah Menengah Atas Panduwinata, hh!! Seperti nama artis saja! Dan gue bakal di masukkan asrama sama papa!. Yeaaahh, gue di pindahin dari sekolah gue yang dulu. Mungkin terlalu banyak kasus yang udah gue buat di sana, karena disana gue bebas ngelakuin apa aja! Haha! Hari ini juga gue resmi jadi murid di SMA Panduwinata Surabaya.
“Anak-anak, hari ini ada murid baru pindahan dari Jakarta, silahkan perkenalkan dirimu!”perintah Bu Maya .
“Yahh, Hallo namaku Elisia Maurina dari SMU Bhima Jakarta!”
“Yeah, silahkan duduk Elis! Kau bisa duduk di sebelah Dhirgo.!”
“Baik!”
Satu hal lagi, walaupun gue urak-urakan dan dulu gue brutal, tapi gue termasuk murid pintar. Karena gue masuk di program IPA,baru setelah masuk di Semester ke 2 di kelas XI ini gue pindah ke Surabaya. Papa ada pekerjaan di sini.
            “Hai, kenalin gue Elis. Lo siapa?” gue melonjorkan tangan.
“Dhirgo!” jawabnya singkat.
“Ooh.“ ya ampuunn,nih cowok songong banget deh! Udah dari tadi gue di cuekin mulu, gak banget kan ??gue lagi chattingan sama hati gue.
Gue menoleh ke belakang.
“Heyy. gue Elis, kalian ??” mengulurkan tangan.
“Oh, gue Sasa”
“Aku Anisa.”
“Gue Dewa, dan ini Jefri. “
“Hey, Jefri ? apa yang lo lakukan ?”
“Sssstt.. Dilarang mengobrol di saat pelajaran !”
“Yah, beginilah Jefri, dia tidak mau di ganggu!” kata Dewa.
“Ooh ya salam kenal yaa ?”gue basa basi. “Emm, kalian tau nggak? Si Dhirgo ini songong banget ?”. gue nyerocos aja, dan ngebuat Dhirgo meliriknya.
“Emang gitu kok orangnya,cuek!” jelas Anisa.
Di asrama…
“Elis ini adalah kamarmu, dan mereka adalah teman-temanmu. Jangan macam-macam disini ya? Karena kalau tidak, kau akan tahu akibatnya !kata Bu Pia pengasuh asrama.
“Baaik.
“Hei, Sasa, Anisa ? Kamar kalian disini?”
“Yaah,, kami akan jelaskan peraturan-peraturan disini!”
Lalu Anisa dan Sasa menjelaskan betapa buruknya tinggal di asrama.
“Oohh, rasanya gue gak sanggup, ini bukan dunia gue!”
“Dengar Elis, lo udah masuk ke lubang harimau, dan sekali masuk lo gak bakal bisa balik lagi !”
“Ya, Sasa bener, sekuat apapun kita pernah mencoba untuk kabur dari sini, tapi hasilnya nihil “
“lo tau siapa pemilik asrama ini ?” kata Sasa.
Enggak
“Miss Bob. Ibu Dhirgo!”
“What? Ibunya Dhirgo!”
“Dia lebih buruk dari Dhirgo !”
“Hah? Lebih buruk?”
            Karena merasa bosan gue jalan-jalan aja ke sekitar asrama, asrama ini cukup luas dan besar, rumah Miss Bob juga bergandengan dengan asrama, dan katanya rumahnya sangat mewah. Jika ingin melihat ruang dalam rumahnya maka harus buat kasus, agar di sidang. Oh ya satu lagi, di asrama ini ada seorang cewek yang nguasai asrama ini. Namanya  Jo. Sekarang gue melihatnya menyiksa temannya. Sungguh keterlaluan. Ternyata ada orang yang lebih buruk dari gue. Pas gue ngelewatin dapur. Gue ngeliat pintu besar. Gue penasaran, lalu gue coba buka pintunya dan, Uwaaawww…! Besarr, megahhh. tidak salah lagi ini pasti rumah Miss Bob. Nggak tau setan apa yang ada dalam pikiran gue, gue nyelonong aja masuk. Padahal gak sopan. Gue terkesima dengan rumah Miss Bob. Gue liat foto-fotonya. Saat itu gue liat foto anak kecil lucu banget, pasti itu foto Dhirgo waktu kecil. Lucu sekali dia, nggak kayak sekarang songong!. Tiba-tiba.
“Heyy, siapa itu ?” tanya seseorang.
Wahh, gawat. Gue ketahuan.
“Maling lo ya? Jangan kabur !” berlari mendekati gue dan memegang pundak gue.
Pas gue berbalik badan, “Dhiirr.. Dhirgo ?”
“Ellooo ?? ngapain lo disini??”
“Gue, gue tinggal di asrama ini, dan pas gue di dapur gue liat ruang ini terus penasaran.”
“tapi lo sudah gak sopan tau gak ?”
“Ya, maaf please jangan kasih tau Miss Bob ya? Please! Gue bener gak tau. Soalnya gue baru masuk kemaren !”
“Kembalilah, gak bakalan gue aduin kok!”.
Aaahh, sambil meluk-meluk. “Thank you,, thank you! Lo baek banget dahh.
“Lepasin gue !”
“Eh, sory-sory gue balik dulu ya?”lari ninggalain Dhirgo.

            “Elis ? ada apa dengannya? dia beda. Kenapa dia buat gue luluh dengan tatapannya?”kata Dhirgo dalam hati.
Disekolah…………………………………………
“Eh lo! Thanks banget ya tadi malem, kalo gak ada elo mungkin gue bakal di cincang sama Miss Bob, dia kan terkenal kejam !”
“Apa lo bilang?” Dhirgo melototi gue,sepertinya dia tersinggung.
Eehh (Dalam Hati:gue lupa lagi kalo Miss Bob emaknya), Ohh nggk,, bukan bukan apa-apa kok !”
“Laen kali masuk rumah orang ya permisi dulu. “kata Dhirgo mulai lembut.
“Iya… maaf deh!
“Oh ya, ayo ikut gue !” menarik tangan gue.
“Kem… Kemanaaa ??”
“Lo kan baru 3 hari disini. Gue bakal nganter lo keliling sekolah” sambil jalan terus.
“(DH:Tumben banget nih anak kagak songong ama gue, kesambet apa’an yah?) Tumben lo baek ??”
“Gue emang baik, lo nya aja yg gak tau gue !”
“Oohh… “
            Tiba-tiba pas gue lagi asyik berdua sama Dhirgo, Jo datang dan langsung menggandeng tangan Dhirgo.
“Eh, Dhirgo lo kok disini sih?? Sama cewek brutal ini lagi! Lo jangan bergaul sama dia, ntar ikut brutal lagi. Trus Miss Bob bakal marah besar sama lo! Mending ngikut gue yuk! Anterin gue makan! Ayooo… !!!” gandeng Jo pada Dhirgo yang di eratkan.
“Lepas! kata Dhirgo yang mencoba melepas tangan Jo.
“Elo harus ikut gue, ataaauu? kata Jo sedikit berbisik pada Dhirgo.
Dan anehnya Dhirgo lebih milih ninggalin gue daripada bersama gue, dia nyelonong gitu aja. “Iiiihhh sebeelll,, eerrrrggggghhh!! Katanya mau nemenin gue sekarang malah sama cewek gatel itu? Huuhhhh…. !” gue mengerang marah.
Di dapur asrama………….
“Eh, abis makan kita ngapain nih??”kata Sasa.
“Belajar!!”seru Anisa
“Hahh.. Belajar mulu !!”
“Iya,, lagian besok gak ada Pe er Nis!” kata Sasa.
“Oh gitu yaa ???”
“Gimana kalo kita cerita-cerita aja? Gue pengen cerita soal Dewa nih Nis.” usul Sasa.
“Emm,,, iya aku juga pengen cerita Jefri ke kamu” jawab Anisa.
“Eh,, lo ikutan gak Lis? “
“Emm,, kalian duluan aja, aku mau disini!”
“Yaudah, kita tinggal!”.
            Gue selalu penasaran sama rumah Miss Bob, rasanya ada yang mendorong gue buat masuk kesana,, tap, gue juga takut kalo Miss Bob sampai liat gue. Aahhh masa bodo dah!.  Akhirnya saat gue mau masuk, tiba-tiba ada Miss Bob. Mampuss gue!.
“Heeyy,, apa yang kamu lakukan malam-malam di depan pintu rumah ku?” kata Miss Bob.
“Maaf sebelumnya Miss, saya adalaah…. “ belum selesai ngomong langsung di potong.
“Ooh.. kamu anak asrama yang mau mengajari Dhirgo cara main piano ya?” tebak Miss Bob.
“Ahhh.. iya Miss, bener. “(DH: Ha? Jadi pengajar? Gak salah gue??)
“Ayo masuk, Dhirgo udah nunggu lhooo.“
“Iya Miss. “
“Dhirgoooo…. Ini anak yang ngajari kamu udah datang !!”.
“Iya maa!
“Oh ya nama kamu siapa? Miss sampai lupa Tanya nama?”
“Elis Miss.”
“Ya sudah silahkan ajari Dhirgo ya? Miss tinggal.”
            “Elis,, perasaan yang bakal ngajar gue bukan lo deh!” kata Dhirgo heran.
“Eh…eeeh.. Sebenernya emang bukan gue, tapi tadi gue ada di depan pintu rumah lo, dan ada Miss Bob, dia ngira gue yang bakal ngajari lo.”
“Gue gak percaya lo bisa lakuin ini, nanti kalau ketahuan gimana? Dan apakah lo bisa main piano??’
“Ya, gak tau. Tapi gue bisa kok main piano sedikit-sedikit,
“kalo gitu lo coba nih !”.
Dengan santai gue memainkannya, sampai-sampai gue gak sadar kalo lagi main di depan Dhirgo.
Weiidiihhh.. bagus juga “. Dhirgo bertepuk tangan.
“Haahh,, sory gue lupa kalo ada lo, gue terbawa arus tadi,,udah lama juga gue gak main.”
“Berarti lo resmi jadi pengajar piano gue sekarang.”
“Trus yang asli ??”
“Itu sih gampang, bisa gue cancel kok.
“(DH:Wahh.. kok gue jadi seneng gini sih bisa deket sama Dhirgo)  senyum-senyum.”
Di kantin Sekolah…………
            Pas gue makan-makan nih sama sahabat-sahabat gue(Pastinya, Anisa,Sasa,Dewa,and Jefri). Dhirgo nyamperin gue, nah lo. Gue jadi malu-malu gitu deh pas Dhirgo muji-muji gue di depan temen-temen. Gue jadi terpesona sama dia. Dan gue malu ketika pipi gue jadi merona merah pas gue senyum-senyum sendiri gitu.
“Eh,, Lis! Muka lo kok jadi kayak udang rebus sih? Hahahah” kata Dewa
“Hahaha..” semua ketawa.
“Sialan lo Wa!”
Semua pada ngetawain gue. Gue jadi malu banget. Akhirnya gue mutusin buat pindah dan balik ke kelas.
Di kelas………………………
“Lo kenapa sih Lis? Lo marah ya??” kata Dhirgo.
“Oohh.. Nggk kok (DH:Gue gak bisa marah sama lo Dhirgo!! Tapi kenapa yah?? Aduhh… nih jantung gue kenapa deg-degan gini ya..”)
“Terus kenapa dong?”
“Gue malu.”
Ngapain malu, seharusnya mereka ngaca dong? Gak semua orang punya bakat kaya elo”.
“….(Senyum..)..”
Di kamar Dhirgo…………..
Pas gue ngajarin dia, posisi kita duduk bareng! Saat itu jemari tangannya dengan lentik memijat not-not pada piano, lalu gue mengikutinya, aahhh so sweet banget kalo lagi ngerasain mah, dengan lagu romantic, tiba-tiba Dhirgo ngliatin gue. Lalu tangannya megangin tangan gue.
“Eliss,, lo… punya mata yang indahh,,,lo beda” kata Dhirgo sambil megang tangan gue.
“Aaaa.. (hanya bisa terpana)”.
“Elis,, gue.. suka sama lo! Lo mau gak jadi pacar gue?”
“Hahh.. (DH:gak salah nih?? Apa nggak terlalu terburu2 ya ???)
“Lo gak perlu jawab sekarang kok, gue bisa nunggu ?”.
“Gimana dengan Jo? Bukannya dia itu pacar lo?”.
“Bukan, dia itu murid mama ter kaya, sehingga dia semena-mena sama penghuni asrama dan suka ngatur-ngatur hidup gue, gue benci banget sama dia”
“Ooh.. maaf Dhir, kasih gue waktu ya ?”
“Oke,, I will always waiting for you
Thank’s.
Sepekan kemudian....
            Jo, ketahuan menyiksa murid-murid lemah, dan semua murid-murid yang pernah di siksanya ber demo dan melaporkan perbuatannya pada Miss Bob. Gue seneng, setan di sekolah ini benar-benar telah musnah. Julukan anak asrama tentang sekolah ini akhirnya berganti. Yang dulunya The Hell Of High School, menjadi The Cleaning School. Ya, sekolah yang bersih, bersih dari setan-setan itu tentunya. Hubungan gue dengan Dhirgo? Hari ini gue bakal jawab pertanyaannya.
“Dhir,” gue melihat dia menunggu seseorang di balik pintu dapur.
“Elis? Akhirnya Jo keluar juga! Itu semua pasti berkat lo, gue semakin kagum sama lo!” gue makin tersipu.
“Ah, tidak juga. Dia keluar karena sepantasnya dia harus di singkirkan.”
“Lis? Bagaimana soal pertanyaan gue pekan lalu?”
“Sebelumnya, maafin gue udah buat lo menunggu, jujur gue juga suka sama lo...” Dhirgo tersenyum mendengar jawaban gue.
“Tapi,”
“Tapi apa Lis?”
“Gue mau jadi pacar lo, gue sayang sama lo!” gue tersenyum senang.
“Oh, God thank’s!” lalu Dhirgo memeluk gue seneng, akhirnya.
Sekolah dengan julukan neraka karena banyak setan-setan seperi Jo, akhirnya bersih. Gue turut seneng, dan sebenarnya sekolah ini gak buruk. Apalagi ada Dhirgo.



THE END
oleh : Wasik