Sabtu, 05 September 2015

Surat Untuk Indonesia






Mari Indonesia Berkarya
Indonesia, ibu yang telah melahirkan-ku di tanah merahmu. Engkau memang negeri yang “Gemah Ripah Loh Jinawi”. Tanahmu subur, alam membentang menyediakan segala kebutuhan penghunimu. Engkau kaya akan budaya, bahasa, suku dan bahkan keyakinan. Tapi engkau membuatnya bersatu dengan “Bhineka Tunggal Ika”. Aku ikut bangga menjadi putra Indonesia.
            Indonesia, kalau boleh aku berkeluh kesah, kalau boleh aku memberi saran. Aku ingin mereka—pemuda generasi penerus agar berkarya. Usiamu memang masih di bilang muda untuk suatu Bangsa, akan tetapi tak ada salahnya mencoba untuk lebih maju bukan?
            Indonesia, aku ingin sedikit bercerita boleh? Rasanya aku mulai bisa tersenyum saat ini sudah mulai banyak pemuda dan warga yang mulai berkreasi. Yah, mereka menciptakan karya untuk negeri, atas namamu. Mari kita support dan apresiasi kegiatan seperti ini. Banyak juga orang-orang yang mulai menyadari bahwa produkmu—buatan anak Bangsa tak kalah dan mampu bersaing secara kualitas dengan produk asing.
            Dan seharusnya pemerintah turut andil dalam hal seperti ini karena memacu semangat para pemuda dan warganya yang lain untuk ikut menghargai produk sendiri, sukur-sukur bisa berkarya juga.
            Semoga semangat berkarya mereka tak pernah pudar ya? Semoga orang-orang yang belum sadar akan nasionalisme di bukakan hati, agar Indonesia mampu menjadi negara yang maju.
            Untukmu Indonesia, aku berjanji untuk selalu menghargai dan mensupport apapun bentuk karya anak Bangsamu. Mari kita bersama-sama membuat sebuah mahakarya agar menjadi Bangsa yang termasuk dalam kategori “maju” dan negara yang recomanded di kunjungi. Untukmu Indonesiaku tercinta, selamat hari ulang tahun yang ke-70. Ku tunggu karya-karya anak Bangsamu J.
           





Indonesia




SUDAHKAH INDONESIA MERDEKA?
Oleh    : Wasi’atul Amalia
            Indonesia, adalah negara yang memiliki berbagai macam julukan. Indonesia negara agraris, Indonesia zamrud katulistiwa, negara seribu pulau,  dan masih banyak lagi. Indonesia ini sangat kaya. Kaya akan bahasa, budaya, kuliner, tempat wisata. Wah, aku bahkan tak pernah menyesal menjadi seorang pribumi. Tapi, akan sayang sekali katika kita menilik pendidikan di Indonesia masih tertinggal jauh. Tapi, jangan khawatir. Masih banyak kok pemuda Indonesia yang peduli akan pendidikan. Banyak dari mereka yang rela menjadi relawan untuk mengajar di daerah pelosok, karena mereka ingin anak-anak Indonesia kelak menjadi tombak perubahan untuk pendidikan Indonesia.
            Untuk itu marilah kita sebagai generasi muda membantu pendidikan di Indonesia ini. Caranya bagaimana? Mulailah perhatian dengan lingkungan sekitar. Sudahkah kita tahu bahwa di lingkungan kita telah mendapat pendidikan yang layak? Kalau sudah mari kita lihat saudara kita di pelosok. Apakah anak-anak di sana melalui pendidikan yang mudah seperti kita di kota atau desa yang aksesnya terjangkau. Bahkan di televisi dan internet banyak yang mengangkat kisah perjuangan anak bangsa yang harus melalui banyak sekali rintangan untuk menuju ke sekolah. Mulai dari mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra (aish, penulis lagi ke inget ninja Hatori, hehe oke balik lagi). Mereka menyebrangi sungai, melewati jembatan yang tidak layak. Ah, miris sekali karena mereka harus menempuh jarak yang jauh dengan medan yang terjal karena mereka ingin sekolah.
            Perlu adanya kesadaran dari masyarakat itu sendiri. Aku benar-benar takjub melihat mereka bersemangat untuk sekolah. Dengan seksama ku dengarkan kisah seorang teman bernama Rizal yang mengikuti “Indonesia Mengajar” di kampusnya. Ia di tempatkan di Pulau Bawean, Gresik. Saat di tanya mengapa anak-anak itu mau bersusah payah sekolah, inilah jawabannya.
            “Dek, sekolahnya kan jauh. Sekitar 5 km dengan berjalan kaki dari pesisir kemudian mendaki gunung untuk sampai ke sekolah, kenapa masih ingin sekolah?” tanya Rizal pada seorang anak di sana.
            “Karena tidak ingin bodoh.” Simpel memang jawabannya. Mereka tidak ingin bodoh. Bukan hanya bodoh dalam kategori IQ tetapi juga moral. Ku pikir mereka punya semangat yang besar dan di harapkan menjadi generasi penerus bangsa yang kuat karena telah melalui proses yang rumit.
            Tidak selesai di situ saja cerita Rizal. Ia juga mengungkapkan pengalamannya itu benar-benar luar biasa. Karena dengan adanya program relawan pengajar muda ini selain mengajar, juga berinteraksi aktif untuk mengetahui kearifan lokal, hal tersebut otomatis akan membentuk leadership skill, problem solving, adaptasi masyarakat dan advokasi bagi pengajar muda. Seharusnya Indonesia juga mulai memerhatikan pendidikannya ke seluruh Indonesia—sampai ke pelosok-pelosokpun dan mengupayakannya. Seperti yang tertera dalam UUD 1945 terdapat kalimat, mencerdaskan kehidupan bangsa, maka janji itu harus dilunasi untuk setiap warga negara.
            Akan tetapi tidak semua orangtua dan masyarakat yang pro dengan pendidikan. Banyak dari mereka yang mengatakan ilmu agama lebih penting daripada ilmu umum.  Sebaiknya memang harus ada beberapa orang—pintar yang mengkondisikan hal tersebut. Dimana ilmu agama dan pendidikan sama-sama penting.
Rizal juga bertemu dengan pak Waluyo. Beliau adalah warga Gresik yang penugasannya di tempatkan di Pulau Bawean, kemudian ia memutuskan untuk menetap disana setelah sepuluh tahun ia mengajar. Bersama pak Waluyo dan beberapa teman akhirnya mereka ingin sebuah perubahan. Perubahan memerdekakan bangsa Indonesia dari kebodohan.
“Indonesia memang sudah merdeka sejak hampir tujuhpuluh tahun lalu. Tapi, ku rasa kita bahkan masih di jajah kebodohan!” ungkap Rizal saat itu.
***
            Begitulah wajah pendidikan di Indonesia. Masih perlu yang namanya suntikan semangat, dana dan partisipasi pemerintah dan warga negara itu sendiri. Lalu apakah Indonesia sudah di katakan merdeka?
            Selain pendidikan yang tertinggal, Indonesia merupakan negara pengguna media sosial terbesar. Sayangnya semua media sosial dan internet produk asing. Dimana negara dikenakan pajak untuk setiap satu saja media sosial.
            Tidak di pungkiri bahwa kita termasuk pengguna aktif. Tapi tahukah kalian? Bahwa ternyata penggunaan internet di Indonesia hampir mencapai devisit. Kenapa? Selain kita di jajah oleh produk asing, produk itu sendiri menjadi candu. Karena kecenderungan masyarakat Indonesia yang suka berkumpul, tegur sapa ataupun sarana silaturrahmi.
            Tapi, kalau kita menilik produk lokal banyak sekali mahasiswa atau anak-anak bangsa ini yang aktif dan kreatif membuat media sosial sendiri. Ada juga beberapa dari mereka yang membuat game, komik dan film animasi dan lain-lain.
            Saat itu, aku tak sengaja menonton televisi yang membahas start up. Disana mereka menciptakan sebuah media sosial karena prihatin dengan banyaknya media sosial dari luar, bahkan setiap orang memiliki lebih dari dua akun. Hal tersebut berarti menambah angka pajak negara.
            Dari kumpulan mahasiswa IT(Ilmu Teknologi) tersebut, maka lahirlah media sosial tersebut. Tujuannya adalah agar warga negara sendiri mau menggunakan dan mencintai produk lokal, selain itu dengan menggunakan media ini akan menambah penghasilan negara. Wah, bukankah menguntungkan? Jadi, masihkah kita berpaling dengan produk asing?.
            Dari satu ide, munculah suara, kemudian share yang menghasilkan. Kalau hal tersebut terus di kembangkan, akan tercipta lah produk-produk lokal lain.
            Maukah kita terus di jajah? Pertanyaan tersebut beberapa kali menjadi pertanyaan yang sayup-sayup ku dengar saat menjadi mahasiswa baru. Saat itu topiknya tentang pendidikan. Tentang pembebasan negara dari pembodohan.  
            Lama-lama ku pikir yang namanya merdeka selain terbebas dari penjajahan wilayah oleh orang asing, juga tentang penjajahan pendidikan, dan penjajahan dari produk-produk asing.
Untuk saat ini sudah banyak konten-konten lokal bermunculan. Selain dari dunia start up, juga dari produk-produk sandang, pangan dan lain-lain yang tak kalah kualitasnya dengan produk asing.
Jika pendidikan sudah mulai mengalami peningkatan, tentu akan muncul perubahan-perubahan atau setidaknya negara mampu mengahsilkan segalanya sendiri dan justru lebih banyak mengekspor produknya.
Bukankah alam kita telah mendukung. Seperti palawija, perkebunan, peternakan, penghasil minyak mentah. Tinggal pengolahannya saja yang terus di pelajari. Tentunya dengan pendidikan. Kalau sudah mencintai produk lokal, dan segala sesuatu berasal dari negara sendiri tentu kehidupan di Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara maju.
Jangan sampai pasar bebas di tahun ini menghilangkan ciri khas Indonesia. Negara kita kaya akan sesuatu yang di hasilkan. So? Ini adalah PR bagi generasi muda sebagai penerus bangsa. Bahwa pendidikan itu sangat penting, mencintai produk sendiri adalah salah satu bentuk apresiasi terhadap negara. Dan kita harus menjaganya.
Saatnya perubahan untuk Indonesia. Dan kuncinya adalah pada generasi muda. Untuk Indonesia, setelah tujuh puluh tahun mendeka.

♫Coba berdiri di puncak gunung tertinggi tersadar tlah semua kita miliki.
 Dari mata sang Garuda memandang luas dari langit yang tinggi.
Bersatulah untuk Indonesia kobarkan semangatmu,
Kan ku bela  sampai habis nafasku,
Jangan pernah menyerah sudah terlalu lama kita terlelap.
 Bangkit dan raih semua mimpi.
 Jangan lupakan darah dan keringat, pemuda pemudi.
Sebelum kita tak kan tergantikan segala harta.
Jangan biarkan mereka mencuri.
 Segala  semua dari leluhur kita, buka mata hati dan telinga.
 Sebelum semuanya, musnah.
Dari mata sang Garuda memandang luas dari langit yang tinggi.
Merah putih kau selalu di hati.♫
(Dari Mata Sang Garuda-Pee Wee Gaskins)
END

Trip Ke BWI muter Situbondo




Trip to Banyuwangi-Situbondo
Cast. : Vivi, Dela, Putri, Dana, Riza, Elok, Arif, Wasik.
Koord   : All
Kameramen    : Wasik
Supir    : Dana, Riza
GPS      : Arif
Keuangan        : Putri
Konsumsi         : Putri

Trip Sama yang (Katanya) Udah Tua-tua
Sudah tidak terasa di awal semester 5 ini tentu umur kita juga udah pada dibilang “dewasa”. Cara pemikiran, sikap dll juga berubah. Seperti juga liburan kita kali ini. Yang katanya berubah menjadi liburan mewah, liburan manja, liburan kelas lah. Haha, padahal serba “se**” :D. Ssst.
Iya. Liburan yang harus di tunggu selama dua bulan lebih, dan di fix-kan pada saat sebelum masuk kuliah, setelah krs-an dan cukup di bilang mepet ini. Akhirnya membeludak juga dengan bajet yang lumayan tapi menurutku gak seberapa ketimbang naik kendaraan umum.
Setelah pusing dengan anggota yang naik turun, datang pergi silih berganti. Juga kendaraan yang silih berganti, akhirnya mencapai kesepakatan pada H-1 dan alhamdulilah di beri kelancaran untuk anggota dan kendaraannya.
Aku, Dana, Dela, Putri, Elok, Vivi, Riza dan Arif—si orang-orang yang dibilang sudah tua, :3. Dan memang sudah saatnya kita seperti ini, jadi jangan katrok, norak, atau apalah apalah :D.
Dengan agenda dan jadwal yang masih kasar ini, kita memutuskan berangkat dan memutuskan segala sesuatu melihat dari kondisi nanti di perjalanan.
Akhirnya diputuskan subuh berangkat. Tapi dugaan mereka benar, paling lambat jam 7 baru berangkat. Biasa, orang Indonesia emang molor dan ngaret. Okelah.
            Perjalanan ramai lancar, karena bertepatan dengan jam masuk sekolah. Di awal sempat di buat tegang karena hampir menabrak seorang yang mau menyebrang, tapi sejauh perjalanan sampai pulang alhamdulilah lancar.
            Emang enak sih naik kendaraan sendiri, tapi yang gak enak yang mabuk perjalanan kayak Dela. Haha, yakin nih namanya my trip my adventure? My trip my mabok ya Del? dia yang tadinya mengelu-elukan kenyamanan ini harus puas dengan ketikdaknyamanan kondisinya yang mabuk, haduh. Lalu kita istirahat di Gandrung dan memakan bekal yang di masak oleh mbak Putri—tentunya di bantu kita-kita lah.
            Sempat terjebak macet di kota Banyuwangi karena ada acara. Riza yang notabenenya orang Banyuwangi gak tahu jalan pintas, tapi untunglah ada GPS. Dan tau nggak sih betawa bawelnya yang namanya Arif ini, apalagi yang nyetir Riza, tabah bawel lah dia kayak emak-emak. Pelan tapi pasti melewati gang gang sempit dan jalan yang pres.  Tak ada yang pernah melewati jalur setelah pelabuhan Ketapang, semua serba menurut insting dan GPS. Kebetulan GPS Arif tidak berfungsi karena bukan ranahnya.
“Bos? Kapan sampainya? Masih jauh nggak?” komentar Arif yang duduk di bangku paling belakang.
“Wah, kurang tau ya?” jawab Dana. Karena Riza sedang sakit rempela dan kondisi tidak mood menjawab Arif.
“Wah, gimana ini orang Banyuwangi kok nggak tahu?” komennya lagi.
“Kan ada GPS, insyaAllah sampai.” Jawab Dana lagi.
“Bos, bos! Pelan. Santai aja tetap fokus ya? Haha.” Ejek Arif melihat Riza yang mukanya udah ditekuk dan dilipet kecil gara gara rempela.
“Eh, kamu ini jangan komen terus!” Dela yang disebelahnya mulai gerah.
“Bos, jangan kenceng-kenceng aku gak mau mati loh bos!” kata Arif masih bawel.
“Yaudah mati kita kan bareng-bareng, kok repot!” jawab Riza final dan sukses membungkam mulut Arif.

            Pantai ujung timur Jawa ini terlihat begitu jelas dan keren. Okelah Banyuwangi sukses kali ini. Perjalanan di temani birunya lautan, dan angin kering yang menerpa. Untuk menikmati aroma laut di bukalah jendela. Setelah melewati Watudodol, 2 KM kemudian setelah bertanya-tanya juga, sampailah kita di BUNDER(Bangsring Under Water).
            “Ini adalah Bangsring under water.” Kataku merekam video.
            “under itu dimana?” tiba-tiba kata Arif yang nyahut.
            “under itu dibawah.”
            “di bawah mana?” katanya lagi GJ.
            “ya di bawah laut sana.” Yaelah ni anak.
            Setelah sholat dzuhur—alhamdulilah, selagi ada yang alim(katanya) ibadahnya gak di tinggalkan. Kita cuss “se-nor-keling”. Iyups. Kapan lagi? Jauh-jauh kesini kok gak snorkling. Lumayan buat pemula apalagi yang gak bisa renang. Dengan 30k saja sudah bisa sewa peralatan dan nyebrang ke rumah apung dan berenang sama Hiu. Hiii....
            Sebelum menyebrang, sempat terjadi kendala dengan Gopro kita. Memory full. Ah, betapa riwehnya aku, udah jauh-jauh sewong dan sampai tujuan tak bisa mengabadikan. Untunglah di saat mefet gini otak ku langsung menemukan ide karena nih memory pakai adapter, jadi bisa diisi memori kecil. Setelah rempong kembali ke mobil akhirnya bisa juga. Iyalah, masak jauh-jauh dan bela-belain se** gak kepake? Eman banget lah.
            Dan, its time to “byur”, nyemplung di laut yang dalam. Ih, ngeri sih. Tapi untung ada pelampung dan pemandu. Yang enak nih yang bisa berenang—cowoknya. Tapi, tak apalah yang penting juga bisa menikmati keindahan bawah laut dan nelen air laut :D.
            Dengan mudah terbawa arus laut ketengah dan susah payah kembali ke rumah apung. Hanya mereka yang pandai berenang yang banyak dokumentasinya :3.
            Setelah banyak yang merasa pusing, kita lalu cabut dan bilas. Alhamdulilah bisa sholat ashar, lalu makan bekal lagi sebelum gas pol Situbondo.
Memasuki kawasan Taman Nasional Baluran. Kupikir kita akan mampir, taunya udah kelewat kayaknya. Jadi di teruskan sampai pantai Pasir-putih. Di pinggirnya sih, di tempat diving rekondisi karang gitu(Lumayan gratis).
Di perjalanan ke Situbondo GPS Arif mulai berfungsi. Dengan semangat dia menunjuk arah pada supir. Tapi... entah mengapa dia berubah aneh saat sudah sampai di Situbondo.
            “Rif ini jalan kemana?” tanya Riza.
            “Eh, kuti plang jalan dah bos. Waduh di depan ada acara jadi ditutup. Ah, tau lah ikuti mobil depan aja.” What? Apa-apaan nih anak, wah...
            “Udah masuk kawasan wisata Pasirputih, mau berhenti di mana?” tanya teman-teman.
            “Ah, kita berhenti di dermaga baru di bawah jembatan aja. Gratis biasanya.”
            “Oh, yang baru itu? Iya tau.” Kata Dela.
            “Bos, pelan ya bos.” Kini Riza mulai memelankan laju kendaraan, seperkian menit tapi belum juga menemukan lokasinya.
            “Masih jauh bos. Bablas jos sudah!” ha? Okelah.
            “Masih jauh kah?” tanya Vivi tak sabar.
            “Kayaknya sebentar lagi jembatan, pelan bos!” kali ini kendaraan dipelankan lagi. Tapi juga tak nampak.
            “Eh masih agak jauh kayaknya, ngebut lah!” komennya lagi. Begitu terus sampai ke bablas dan kembali lagi, akhirnya sampai juga.

            Setelah melepas penat, sampai jam 12 tengah malam kita langsung cabut untuk kembali pulang. Jalanan begitu sepi. Kali ini GPS Arif yang agresif-pun snagat berfungsi. Setelah sebelumnya harus menabung/setor dulu di Pom terdekat, karena setelah itu daerah hutan dan gunung.
            Dela, Putri dan Riza sepertinya sudah K.O. GPS Arif benar-benar hafal betul daerah itu. Sampai setiap tikungan dia tahu dan daerah rawan-rawan kecelakaan. Kondisi jalan yang sangat sepi, gelap tak berlampu dan lalu berkelok naik turun gunung membuat tegang. Tapi ahamdulillah lancar berkat GPS Arif walaupun waktu di Situbondo tidak bisa di bilang sukses seperti Banyuwangi.
            Memasuki kota Jember pukul 3 pagi. Awalnya mau nongkrong di alun-alun, tapi ternyata gak ada gorengan. Akhirnya beli nasi goreng di dekat GOR, lalu di makan di depan kampus kita tercintah :3. Iya pas pagi-pagi jam setengah 4 itu. Sempat di kira ngapain nih sama pak satpam. Dia gak tahu kalau kita juga penghuni nih kampus. Iye.. pergi pagi pulang pagi.
            Kapan lagi liburan manja, kan emang sudah saatnya. Apalagi momen yang gak selalu kita dapatkan sama sahabat-sahabat ini. Ahh, gak bayangin deh kalau harus pisah.
            Terimakasih buat liburan manjanya ini ya teman-teman. Juga obrolan selama di perjalanan dan guyonannya.
            Ku pikir kali ini Arif justru jadi peran utama, padahal dia benar-benar pria cadangan loh*cieilehh, maksudnya ya yang nggak seberapa kenal. Tapi karena kondisinya Riza sedang sakit rempela, Dela yang mabuk, Vivi yang lagi rindu someone, Dana yang ayem aja, Putri yang kena imbas si sakit Rempelo, dan aku sama Elok yah ikutin alur aja gitu. So, selamat buat Arif yang sudah jadi pemeran utamanya.