Sekarang aku tak bisa lagi menempatkan posisiku seperti dulu lagi.
Aku sadar, dan aku juga tahu. Posisi bukanlah sebuah prioritas kita. Tapi?
Bukankah memang itu sudah kebiasaanku? Yeps, sebelum semuanya terjdi, lalu
lepas, lalu terjadi lagi, nyaman. Sebab bertemanpun kita butuh itu,walaupun ada
beberapa orang yang tak masalah dengan kenyamanan dalam berteman, namun aku
adalah termasuk. Kamu mungkin akan melihat mereka yang sepertiku adalah sombong
atau angkuh, percaya itu hanya perlu waktu saja untuk beradaptasi, sampai
akhirnya srek dan nyaman untuk saling berteman. Namun kalau kelewat nyaman?
Ahah entahlah, no coment, karena aku bahkan tak bisa mendiskripsikan ini. Jika
dengan banyak orang, jatuhnya adalah menjadi keluarga. Tapi bagaimana jika satu
orang? Aku sendiri juga gak tahu jawabannya. Tapi seenggaknya aku punya poin
poin yang bisa aku simpulkan, yah. Kalau kamu merasa nyaman berteman dengan
orang, its ok, pasti jalinan itu akan tetap ada, dan terjalin walau tidak
intens, setidaknya kamu pahami dia. Akan tetapi jika kelewat nyaman,
kemungkinan ada dua, yakni sama sama membuat jalinan hubungan semakin erat,
ataukah malah membuatnya semakin merenggang. Apasih bedanya jatuh cinta dengan
nyaman? Emm, menurutku jatuh cinta, segala keburukan doi gak masalah banget
buatmu,intinya semua tentangnya adalah indah, bahkan bau kentutnya, wkwk. Lalu
nyaman, kamu hanya merasa nyaman saat dia bersamamu, dan segala sesuatu yang
membutmu merasa terganggu dan mengusik kenyamananmu maka kamu akan tinggalkan,
kamu membutuhkannya saja saat kamu merasa nyaman, namun saat tiba-tiba kamu
merasa sudah tak nyaman lagi bahkan untuk mengobrol, semuanya menghilang begitu
saja. Lalu bagaimana jika nyaman itu bertahap mejadi jatuh cinta? Itu artinya
takdir, karena jatuh cinta bukan perkara kebetulan, banyak hati yang takut akan
ketidakpastian karena takut ditinggalkan. Eaa, apal banget nih sama quotes yang
di retweet Fariz hehe. Mungkin kalian pernah tahu atau mengalaminya sendiri,
dalam sebuah pertemanan yang singkat bisa saja membuat keakraban dalam sekejab,
namun tak saling memahami akibatnya adalah mereka akan pergi satu persatu. Namu
jika dimulai dari nol, yang awalnya bahkan tak saling akrab, lalu mencoba dan
memulai memahami karakter masing-masing secara perlahan, komunikassi yang terus
terjalin dan adanya sebuah keterbukaan pasif maupun aktif (karena beberapa
individu memiliki watak interfert yang tak bisa gampang menceritakan
privasinya) setidaknya tahu, apa yang di alami teman, maka timbullah rasa
simpati kemudian empati, dan jika di tahap sampai mengesampingkan ego untuk
kepentingan bersama, maka tentu setidaknya hubungan ini akan cenderung awet.
Akan tetapi, jika bahkan awet, sampai sekian tahun lamanya, dan dengan itu itu
saja, karena mengaggap seperti keluarga, akan tiba momen dimana kamu seakan tak
punya temen lagi selain mereka, lalu akan merasa hubungan mulai hambar dan
membosankan. Tentu akan sangat di sayangkan apabila itu terjadi, mengingat
hubungan yang sudah dibangun begitu lama, maka solusi terbaik adalah, mengurangi
intensitas bertemu, namun tetap berkomunikasi sewajarnya, dan sebaiknya juga
melihat sekeliling, dunia ini bukan hanya tentang kalian saja, tapi juga mereka
mereka yang bahkan mungkin ingin menjadi bagian dari kalian, namun kalian tidak
bisa menerima kehadiran orang baru. Atau memutuskan untuk break, lalu bertemu
dan merencanakan sebuah perjalanan impian, tentang kalian yang selama ini dari
throwback sampai ke zaman sekarang, nostalgia bahagia, susah, sedih, campur
aduk, semoga worth it.
JR, 5 Des 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar