Jumat, 22 Januari 2016

Negeri di Atas Awan



DI ATAS 2929 MDPL
Sejenak alunan musik dari Nidji ini menemaniku saat sedang prepare untuk traveling. Yah, rencananya siang nanti, aku dan teman-temanku akan melakukan perjalanan alam ke “Negeri di Atas Awan” atau puncak B29, sebuah kampung suku Tengger yang saat melihat lokasinya kamu akan langsung bilang, “Keren! Kita ada di sebuah kampung yang terasa melayang di atas awan.” Letaknya di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.
Untuk persiapannya yang perlu di perhatikan adalah logistik, jaket tebal dan fisik kuat serta persiapan mental yang di butuhkan saat harus treking di gunung. Saat aku sedang asyik packing ada SMS dari koordinator perjalanan, Dana.
1 pesan dari Dana :
“Gaes! Jangan lupa bawa air mineral, air gula, camilan atau makanan, jaket yang banyak, plastik kresek. Sementara itu. Sampai ketemu nanti malam di NEGERI ATAS AWAN! J
Sejenak aku melengkungkan bibir tersenyum. Semoga perjalanan kali ini lancar dan selamat sampai pulang.
***
Setelah Vivi menjemputku kerumah siang itu, kita langsumg berangkat ke meet point kita di kampus—kosan Della dan Putri. Sesampainya di kampus, Vivi langsung ikut ujian intensif Bahasa Arab—karena dia dulu telat daftar. Aku-pun langsung menunggu di kosan Della dan Putri. Rencana emang kita kumpul di kosan mereka.
Setelah sekitar dua jam-an menunggu, akhirnya ngumpul semua. Sekitar, lima belas orang. Kita memang pakai sepeda motor, karena jaraknya sekitar tiga jam dari kota kita, Jember.
“Wah, Dan! Yakin B29? Jalur nya makadam lho.” Celetukku saat masih diskusi.
“Gimana kalau ke Kawah Ijen. Cari aman!” kata Alifan mengusulkan.
“Gini aja Lia, siapa yang sudah pernah ke Ijen?” Dana menanggapiku lalu tanya pada teman-teman. Beberapa teman sudah pernah kesana.
“Kalau ke B29?” serentak semua menggeleng.
“Oke. Kita berangkat ke B29! Masalah nanti kita bismillah.” Keputusan koordinator ini memang sangat bijak menurutku.
Setelah berkumpul dan berdo’a untuk keselamatan, satu persatu sepeda mulai keluar kompleks perumahan. Tepatnya jam 15.30 kita berangkat.
***
Matahari bersinar keemasan di bulan Juni menemani perjalanan kita. Terkadang kita masih sempat-sempatnya bercanda di jalan padahal jalan raya dan jalan utama (oh! Don’t try this). Hanya sesekali untuk mengusir rasa bosan dan kecapaian saat menyetir. Hal yang membuatku kaget adalah, saat Hanif yang memboncengku tidak fokus dan hampir saja nyungsep di bahu jalan. Ah, rasanya ngeri sekali.
Karena aku memegang informasi jalurnya, jadi aku di depan memimpin teman-teman. Langit mulai menggelap, semburat warna jingga terlihat mengintip dari arah barat. Setelah sempat istirahat di pom bensin dan sholat. Kita mulai melanjutkan perjalanan. Hutan, persawahan, perumahan, hutan lagi mulai mendominasi. Jalanan juga mulai menanjak.
Kini, hawa sejuk khas pegunungan mulai terasa menerpa kulit. Setelah memasuki kota terakhir di Kecamatan Senduro, yang terlihat hanyalah perkebunan dan hutan-hutan. Kita hanya menjalankan motor pelan-pelan karena hanya mengandalkan penerangan dari lampu motor.
Kabut tebal dan gerimis menyergap tak menyurutkan niat mereka—teman-teman untuk terus melanjutkan perjalanan. Kita sempat berhenti sebentar di sebuah lapak tak terpakai di tengah padang bukit-bukit. Menikmati hawa yang semakin dingin. Banyak dari mereka yang mulai memasang jaket, dan sekedar nyemil. Tapi, daerah tujuan kita masih di atas puncak sana. Dari sini terlihat samar kelip-kelip lampu diatas.
Jalanan kelok-kelok mendominasi. Sesaat kemudian, terjadi insiden motor Dana yang tidak kuat menanjak, akhirnya berhenti mendadak. Lalu di belakang, Arif yang ngebut menabrak Dana karena jarak yang dekat. Untungnya tidak terjadi sesuatu yang serius.
            Masuk kawasan Desa Argosari, setelah tanya-tanya trek, orang-orang disana—para suku Tengger menyarankan untuk menitipkan sepeda motornya karena jalurnya terjal. Bisa pakai motor asal motor yang sudah di modif atau trail. Semuanya dimulai dengan melangkah sampai 6 KM—mendaki, tapi sudah ada jalurnya.
***
                        Berteman malam, berselimut kabut, dan cahaya kelip-kelip bintang menemani perjalanan kami mendaki. Untung saja walaupun sempat gerimis akhirnya malam cerah. Setidaknya para bintang menyemangati kita dari atas saat rasa lelah dan letih menyergap. Satu jam... dua jam..
            Pukul 21.00 WIB. Setelah dua jam treking, samapailah kita di puncak. Welcome to Puncak B29.
            Ooo..oo..o..oo.. ooo.. when she was just a girl, she expected the world. But it flew away from her reach, so she ran away in her sleep. And dreamed of para-para-paradise, para-para-paradise, everytime she closed her eyes...♫ (Paradise-Coldplay)
            “Wow! Subhanallah!” teriak Alifan saat sampai di puncak. Alifan-pun sujud syukur dan diikuti oleh teman-teman yang lain. Aku-pun tak henti-hentinya berdecak kagum dan merapalkan kalimat pujian untuk Tuhan yang Maha Agung. Betapa indahnya satu ciptaanNya ini. Hamparan gunung Bromo di bawah sana terlihat gelap dan jelas serta di selimuti oleh gumpalan-gumpalan awan bak kapuk raksasa. Ingin sekali rasanya tidur di bawah sana. Hehe. Dari arah selatan juga tak kalah kokohnya gunung Semeru masih berdiri tegak menjulang di atas sana. Next time aku ingin sekali menjejakkan kaki-ku diatas sana, aamiin.
            Amazing, bro! Wooaww!” seru teman-teman yang juga menikmati keindahan ini.
            “Sesuatu yang luar biasa memang perlu perjuangan yang luar biasa. Walaupun harus mendaki, tapi apalah arti keluh kesah saat semua terbayarkan seperti ini.” Kata Dana di sambut sorakan dari teman-teman.
            Malam mulai semakin larut, hawa sesak begitu terasa karena kadar oksigen yang sangat tipis. Setelah para cowok membuat tenda, kita memutuskan untuk sekedar istirahat. Beberapa dari mereka ada yang nongkrong di warung. Di atas memang terdapat beberapa warung-warung kopi, karena memang tempatnya mulai ramai di kunjungi wisatawan.
            Beberapa teman sepertinya dalam masalah, tiba-tiba Putri drop, Alifan kedinginan. Kita semua sepertinya tak bisa tertidur di tempat sedingin ini, karena memang tidak memakai sleeping bag. Hal itu tidak memungkinkan mengingat jumlah kita banyak dan hanya membawa satu tenda, yang normalnya berkapasitas delapan orang.
***
            Waktu berlalu terasa begitu lama, entahlah. Tapi sepertinya, teman-teman yang tadinya sakit sudah agak mendingan.
            Pukul 03.30 WIB, fajar dari arah timur mulai mengintip. Kalau ingin menikmati sunrise kita bisa mendaki 100 m di bukit balik tenda.
            “Ayo bangun, bangun! Waktunya bangun!” seru Rusdi yang terbangun dari tidurya.
            “Ah, aku ngantuk. Aku tidur saja sudah, kalian pergi aja!” saut Tirta malas.
            “Wah, jauh-jauh kesini kok Cuma tidur. Ngapain? Mending gak usah ikut kalau gitu!” sindirku, lalu mereka yang tadinya tidur langsung sigap dan semangat.
            Setelah sedikit mendaki, sampailah kita ke hamparan tanah dengan rumput-rumput—seperti lapangan di atas. Dari ufuk timur matahari-pun mulai menampakkan sinarnya, hawa sejuk dan pemandangan yang luar biasa ini tak kan terlupakan. Mahakarya Sang Agung. Sungguh, nikmat Tuhan mana yang kau dustakan?
            ♫Sweet disposition, never too soon. Oh, reckles abandon. Like no one’s watching you. A moment a love, a dream aloude, a kiss a cry. Our rights, our wrongs. A moment a love, a dream aloude, so stay there. ‘couse I’ll be coming over...♫ (Sweet Disposition-The Temper Trap)
 ***
            Mungkin hanya sehari saja. Tapi, memori yang sudah terekam jelas di otak takkan pernah terlupakan. Bersama sahabat-sahabat yang mau berbagi susah dan senang, tawa dan tangis. Mereka yang menjelma menjadi saudara saat jauh dari rumah. Manusia memang jauh dari sempurna. Setidaknya saat melihat keindahan alam ini kita tahu, betapa Maha Sempurnanya Dia menciptakan ini semua, dan Tuhan menciptakannya dengan seni. Iya, “EARTH” tanpa ART hanyalah “EH”.
            Tidak sampai disini saja perjalanan kita kali ini, karena masih banyak perjalanan-perjalanan lain di lain waktu. Indonesia memang keren. Sudah cukup memuaskan batin dan refreshing setelah ujian. Dan tentunya, mensyukuri nikmat yang telah kita berikan.
“Jangan bunuh apapun kecuali waktu, jangan tinggalkan apapun kecuali jejak, jangan bawa apapun kecuali foto, dan jangan bakar apapun kecuali semangat!” kata Dana saat memberikan kesan dan pesan saat meninggalkan B29. Riza-pun tak mau kalah dengan Dana.
“Perjuangan itu pasti ada balasannya, dan balasannya sesuai dengan usahanya!” seru Riza dengan gayanya yang sok cuek tapi terlihat kocak.
“Jangan lupa, bawa pulang sampahmu kembali. Atau telan!” kataku sambil melotot menakut-nakuti.
“Huuu....” sorak tawa teman-teman sambil mengacungkan jempol.

END

Wasi’atul Amalia, lahir di Jember, 5 Januari 1995. Seorang mahasiswi di IAIN Jember. Alamat emailnya lieyah.peskins@gmail.com. Untuk akun fb di mi_pangsohx@yahoo.co.id, akun twitter @jeh_wasik, akun kwikku @amaliaawasik (akun kwikku ini foundernya orang Indonesia, ayo apresiasi J), no hp : 085746144094.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar