Dimulai saat waktu menunjukkan pukul 21.30 WIB. Dengan
seperti biasa “liburan mewah bajet ndeso”. Langsung meluncur dengan para jeh
dan anggota anyar. Aku, Della, Putri, Dana, Riza, Iqbal, Rizaldi, dan
Unto(Zidni). Rupanya di awal perjalanan kita ada yang mengganggu. Karena ada
mobil Kijang hitam ber plat hijau tentara yang jalannya lambat tapi saat hendak
di salip justru jalannya kencang, kemudian saat kita berhasil menyalipnya
dengan tenang tiba-tiba mobil itu menyalip kita dan menyerempet bamper mobil
kita sampai spionnya nutup. Ada goresan sedikit tapi untungnya tidak terlalu
terlihat. Semuanya kaget dan mulai emosi dengan tuh mobil sialan, maunya apa
coba. Ku tanya teman-teman mungkin ada yang kenal dengan mobil itu, tapi tak
ada yang kenal. Beberapa dari kita menenangkan dan tidak memperpanjang
masalahnya.
Lewat Piket Nol-Dampit yang di rasa
cepat, ternyata justru makin memakan waktu yang lama. Di tengah perjalanan, di
tengah malam, dan di tengah-tengah hutan yang bertebing dengan jurang di
samping kiri jalan, beberapa dari kami masih terjaga. Tapi seperti Iqbal,
Rizaldi dan Unto mereka telah terlelap, juga Della yang mabuk perjalanan, terbukti
saat rasa itu sudah di ujung tenggorokan dan memaksa menghentikan mobil di
tengah perjalanan untuk muntah. Karena mayoritas dari kita jarang atau malah
gak pernah ke Malang lewat Dampit maka perjalanan terasa sangat lama sekali,
berjam-jam berada di pegunungan dan hutan namun sesekali terlihat desa dan kota
kecil. Sampai akhirnya pukul 02.00 WIB Dana menghentikan mobil di sebuah pom
bensin. Ku pikir itu sudah masuk kecamatan Turen. Setelah melihat situasi
rupanya mushola nya sudah ramai dan penuh di gunakan istirahat oleh musafir
lain, bahkan penjaga toilet juga tertidur di kursinya. Ku lihat Riza kelaparan,
jadi Putri membantu Riza. Teman-teman yang lain juga ku lihat masih belum
benar-benar terjaga dari tidurnya. Aku sendiri tumben belum bisa mengantuk.
Akhirnya kami hanya duduk-duduk di depan toko sambil istirahat sejenak. Setelah
itu kita melanjutkan perjalanan. Menurut Unto sebaiknya kita langsung naik ke
Paralayang sebelum pagi-pagi agar dapat melihat lampu kota Batu. Total 8 jam.
Pukul 04.05 WIB kita sampai di alon-alon Batu. Setelah yang cewek shalat subuh di
masjid agung Batu ternyata yang cowok cuman tidur nunggu di mobil,padahal lebih
baik di buat shalat dulu biar enteng dan gak beban. Ckckck. Akhirnya kita langsung
naik ke Gunung Banyak.
Dengan GPS ala Unto yang sudah survei kita melewati medan
yang sangat mulus, namun saat hampir tiba di lokasi medan mulai makadam—menurut
Unto sudah yang paling bagus. Mereka pikir tidak akan ada banyak orang yang
berkunjung di subuh-subuh seperti ini, ternyata kita salah total. Justru banyak
orang yang menghabiskan malam minggu dan camp
di sana. Tiba-tiba saat leter S
terakhir mobil kita malah mundur. Ngeri sekali rasanya. Mau tidak mau semuanya
harus turun dan menunggu di atas sambil memanjatkan doa :D.
Begitu saja kita hanya berjalan sedikit dan mencapai
lokasi. Amazing! Dengan hamparan
lampu kelap-kelip Batu, gunung Panderman atau gunung Anjasmoro ya? Gak paham
juga aku hehe. Berkabut menghiasi pemandangan subuh kala itu. Belum sempat
memandangi seluruh penjuru, ku lihat teman-teman sudah berpose dan selfie ria
di lokasi. Ckckck terutama Iqbal dan Unto. Matahari mulai menampakkan sinarnya,
para cowok ini memang belum pada shalat, padahal enakan shalat di Batu tadi. Jadi
keburu-buru lari ke mushola terdekat untuk melaksanakan shalat. Dasar!
Setelah puas selfie, dan sudah shalat. Kami pun memutuskan
untuk sarapan dengan bekal semalam. Menikmati kesejukan pagi hari di puncak
gunung Banyak dan kehangatan kebersamaan J. Makanan yang sangat
sederhana—dengan dominan nasi dan sedikit lauk terasa sangat nikmat kala di
temani sahabat dan pemandangan yang amazing.
Waktu masih menunjukkan pukul 07.00 WIB, belum ada petugas
paralayangnya. Di Omah Kayu juga belum buka. Jadi kita putuskan jalan-jalan di
area yang belum di eksplore. Namun di
tengah jalan para cowok memilih untuk balik ngopi-ngopi dan kita ceweknya terus
naik ke atas ke rumah kayu tak terpakai.
Setelah sampai di atas, hanya satu kata terucap “indah”.
Kelihatan dari depan entah menghadap kemana, gunung Arjuna berselimut kabut,
dari samping mungkin gunung Anjasmoro dan tampak belakang adalah kota Malang.
Keren. Yang bikin tengsin adalah saat aku dan Putri pengen selfie pakai hammock ternyata itu milik seseorang
pribadi yang ia bawa sendiri dan bukan fasilitas. Haha untung gak make.
Kota wisata Batu adalah Paris East Java, sama kayak Bandung
Paris Van Java. Karena kota ini di kelilingi oleh pegunungan-pegunungan yang
mengitari kotanya. Selain itu memang banyak tempat keren di sini. Setelah puas
foto-foto di atas kaarena kameranya juga sudah low bat, akhirnya kita turun menyusul yang cowok untuk sekedar
minum minuman hangat.
Puas ngopi-ngopi lalu sebentar melihat paralayang kita
putuskan untuk turun. Lalu pergi ke coban rondo karena lokasinya dekat. Selain
itu kita sangat penasaran dengan labirinnya. Rencana tinggalah rencana, saat
masuk di tempat karcis justru harus masuk ke coban rondo dengan HTM 15rb.
Dengan wajah “mahal coy, mending kagak usah” akhirnya kita balik. Saat itu
sebenarnya malu deh. Tapi emang bajet harus irit kan.
Bingung agenda mau kemana, kita akhirnya berhenti di
alon-alon Batu untuk mandi. Ceritanya gantian deh yang mandi. Di pagi yang
sangat panas ini sebenarnya aku lelah dan pusing karena tidak dapat tidur
semalaman.
Namun setelah mandi dengan air yang dingin banget membuatku
segar kembali. Saat selesai mandi dan menunggu di mobil, karena yang cowok juga
mau mandi. Aku, Della dan Putri bercengkrama tentang tujuan selanjutnya.
Sedikit bingung sih, karena saat itu hari minggu jadi rata-rata tiket masuk
agak mahal. Saat aku cerita kuliner malam di alon-alon Batu, Della sangat excited banget. Ia penasaran untuk
kulineran—aku pun juga. Cuman itu nanti nunggu keputusan dari yang lain juga
sih. Setelah jajan juga di sekitar parkiran, akhirnya cowoknya datang juga. Dan
kata Dana kita mending Balik ke coban rondo. Ya, okelah gak pa-pa. Ah, si Unto
kesenengan nih sama Della karena sama-sama penasaran sama labirin sih. Oh ya si
Della punya sebutan khusus buat Unto. Dia panggilnya—Unta—lebih sopan gitu,
cieee. Satu lagi nih, dari pas berangkat si Unto ini sibuk nelpon saudara,
teman dan lain-lain Cuma mau ngabarin kalau dia lagi liburan. Ya ampun deh.
Tapi kocak juga nih anak. Hal yang di ucapakan selalu,
“Halo, awakmu nengdi?
Awakmu muleh opo jek neng kos-kosan? Aku liburan iki nang Malang.” Hahaha hampir semua
digituin sama dia.
Dan saat tiba di pintu masuk coban rondo. Suasana semakin
ramai dan sangat padat. Kata teman-teman—terutama Iqbal yang sudah pernah
kesana bilang, gak boleh nyesel kalau sudah masuk lanjut aja. Kemudian Riza
malu membuka jendela mobil karena tadi gak jadi ke coban. Akhirnya Unto yang
bayar tiketnya, bukannya diam saja dia malah ngomong, kalau kita adalah
orang-orang tadi yang gak jadi masuk gara-gara tiketnya mahal. Ckck Unto..
Unto.
Kali ini jalannya agak jauh rupanya dari pintu masuk utama,
dengan berdasarkan pengalaman Iqbal kita
langsung meluncur ke coban rondo dan HARUS mampir di labirin saat pulang—harus
karena ini request temen-temen yang hukumnya
wajib. Sampai di lokasi pengunjungnya berjibun, dan ingat—tidak boleh menyesal
dan lanjutkan.
Ku pikir akan berjalan jauh, tapi ternyata sangat dekat.
Selain itu juga sudah banyak fasilitas-fasilitasnya. Pas sampailah di air
terjunnya. Syok! Buanyak banget pengunjungnya, bikin males foto. Cuaca juga
sedikit mendung. Setelah puas main di air terjun, teman-teman mampir ke mushola
untuk shalat. Seperti biasa, dengan modus pengiritan teman-teman mengambil air
gunung. Iya air gunung yang sudah ada kran-nya.
Hujan tiba-tiba mengguyur kawasan itu, membuat kita yang
tak ada perlindungan karena sedang berjalan berlarian menuju parkiran mobil dan
bergegas berteduh di dalam mobil sambil jalan ke tempat labirin. Siapa tahu
saat di labirin sudah reda.
Sampailah di lokasi wahana labirin. Dengan HTM tambahan
10ribu. Sebelum main, kita makan siang dulu. Dengan berpayung pintu bagasi
mobil dan beralaskan bagasi belakang mobil kita menikmati makan siang kita. Air
satu-satunya adalah yang di ambil saat di mushala dekat coban. Mau gak mau
harus minum itu. Sempat khawatir bakalan sakit perut. Tapi kata Unto setidaknya
gak bakalan mati, kalau sakit perut bukan urusannya karena dia tidak tahu
apa-apa.
Makan selesai kita langsung menuju TKP labirin. Kita
membagi dua kloter. Empat orang pertama masuk ke labirin. Dan empat orang kedua
yang ngarahin serta menghafal dan mendokumentasikan peta atau jalur yang akan
di lalaui. Selain itu juga dokumentasi yang ada di menara.
Kloter pertama selamat sampai di tengah pusat walau agak
lama. Lalu aku—dan yang lain kloter ke dua menyusul. Dengan cepat Unto memilih
jalur. Hebat sekali nih orang bisa hafal. Samar-samar kedengaran suara Della yang
memanggilku di balik pagar. Mungkin dia juga mendengarku tertawa. Baru jalan,
belok sana belok sini dan sampailah kita dengan cepat berkat Unto. Puas
foto-fotoan kita semua kembali dan berpencar. Aku dan Putri ketinggalan karena
asyik selfie, dan Della malah masuk jalur buntu. Karena aku, Della dan Putri
merasa gak tahu jalan kita pun berlari mencari teman yang lain dan lekas
menyusul agar tak tersesat.
Karena capek guyon di sepanjang jalan, akhirnya kita duduk
santai di depan pintu labirin. Ya ampun 10rb Cuma buat masuk dan keluar labirin
dengan cepat? Mau masuk lagi tapi nampaknya gerimis mulai turun lagi. Jadi kita
berjalan-jalan di sekitar taman dekat labirin, juga istirahat sebentar sambil
memikirkan agenda berikutnya. Kata Dana sih ke kota Malangnya. Yang jelas turun
dulu dari pegunungan.
Saat hujan turun mulai deras kita putuskan untuk cabut. Di
sepanjang perjalanan hujan semakin deras. Ku lihat teman-teman banyak yang
kecapaian dan tertidur. Kasihan Dana yang menyetir sendiri tak ada teman
ngobrol. Aku juga perlahan tertidur, apalagi di temani musik khasnya si Riza
yang sayup-sayup membuatku terpejam.
Entah mengapa aku sedikit tersadar dan mobil sudah
berhenti, di luar juga masih deras. Rupanya Dana juga mengantuk dan parkir di
pom bensin. Tidak ada satu pun dari kita yang turun. Suara musik juga masih
terdengar. Aku juga mendengar Iqbal dan Rizaldi mengobrol di jok depanku,
mereka seakan mendongengkanku sehingga akupun tertidur lagi.
Beberapa saat kemudian, ku lihat Iqbal dan Rizaldi keluar
dan makan bakso di sebelah parkiran. Sepertinya mereka lama nongkrong di sana.
Karena aku tertidur dan terbangun mereka masih disana. Tiba-tiba Della
ngelindur membangunkan Putri, dia mengatakan bahwa dia melihat Iqbal makan
bakso dan dia ingin makan bakso, tapi not
responding karena Putri masih juga terlelap. Aku tahu tapi aku juga masih
terlalu mengantuk untuk menanggapi.
Selang beberapa saat, Dana membangunkan kita semua. Katanya
jangan lama-lama di dalam mobil yang tertutup dan ber AC bisa bahaya, dia pun
membuka jendela mobil, namun di luar masih deras. Dia membangunkan lagi.
Kemudian Della tersadar dan minta antar ke toilet, Putri juga menyusul.
Akhirnya mau gak mau aku juga ikutan bangun dan ikut ke toilet. Semuanya-pun
bangun—yang terakhir bangun adalan Unto, dia sedikit susah di bangunkan
rupanya.
Setelah dari toilet, dan pada shalat. Aku, Della, Putri dan
Riza menunggu yang belum shalat di tempat duduk tukang karcis toilet. Tiba-tiba
ada ibu-ibu yang terpeleset di depan Riza. Sontak kita langsung teriak. awalnya
aku gak tahu ada yang jatuh karena aku melamun. Ckckck. Kasihan ibu itu, beliau
terlihat syok dan memegangi tangannya, mungkin sakit sekali.
Sepertinya hujan mulai reda. Agak gerimis sih tapi gak
deras. Ternyata kita masih di area Batu. Akhirnya kita lanjut perjalanan. Unto
menyarankan untuk mampir ke kos-kosan temannya di dekat Universitas Islam Malang.
Di perjalanan ternyata hujan masih turun deras. Jarak dari Batu ke UNISMA
lumayan jauh juga rupanya. Kita sampai di kos-kosan teman Unto pas maghrib.
Sebenarnya aku—dan temen-temen cewek ini ngerasa gak enak banget di kosan itu.
Karena kos-kosan cowok, terus lingkungannya kayak pesantren gitu. Di lingkungan
sekitar kalau ada kos-kosan rata-rata cowok semua. Jadi ngerasa asing dan gak
nyaman banget.
Setelah bercengkrama. Yang cowok pada nawarin jalan-jalan
ke mall atau di kota. Yaelah gaya banget ke mall. Tapi aku rasanya sudah gak
kuat banget. Lagian Riza dan Dana apa gak capek nyetir. Mau istirahat aja
jadinya. Karena kita gak mungkin—yang cewek tidur sembarangan di ruang tamu
kos-kosan cowok, gak mungkin juga tidur di kamarnya, akhirnya kita memilih
tidur di mobil. Fix tidur di mobil
dan yang cowok di kamar? Hufftt, bikin iri genks.
Aku terlelap dengan cepat karena ku putar musik dengan
volume sedang. Ternyata pas di depan mobil ada acara sehingga suara soundnya terdengar menggelegar. Tapi tak
apa, aku justru mudah terlelap ketika ada suara lagu.
Entah jam berapa saat itu, mungkin pukul 22.00 WIB Unto ke
mobil dan bikin rusuh. Entah apa yang dia ambil tapi dia sangat berisik. Terus
dia ngobrol sama Della—yang kayaknya ngelindur. Sejak saat itu aku mulai tak
bisa tertidur, suara musik orang hajatan sudah berhenti. Tiba-tiba perutku
mules. Sakit banget. Saat aku terbangun ku lihat Putri tidak tidur. Jadi aku
minta di temaninya ke toilet masjid. Ku tinggal Della sendirian terlelap dalam
mobil.
Meskipun sudah ke toilet tapi rasa sakitnya masih ada.
Untung ada toko yang masih buka, jadi bisa beli obat diare. Sejak itu aku dan
Putri tak bisa tidur, jadi kita ngobrol. Sampai Della-pun terbangun. Dia
mengomel karena para cowok gak ada yang bangun dan nengok kita di mobil.
Akhirnya dia bangun dan turun. Memberanikian diri membangunkan Dana atau Riza
di dalam kamar agar cepat cabut dan cari makan, karena Putri mengeluh sakit
perut gara-gara telat makan.
Della keluar bersama Unto. Della minta agar kita semua cari
makan. Setelah semua bangun, dan kondisi Putri makin parah jadi kita di antar
teman Riza yang kebetulan teman Unto juga untuk cari makan. Saat itu Rizaldi
mengeluh mules sama kayak aku, dia-pun ku kasih obat diare yang ku beli tadi.
Sejak saat itu aku mulai berfikir, apa bukan aku saja yang mules ya?
Setelah muter-muter cari tempat makan. Sampailah kita di
warung lalapan. Nasinya masih pulen, mungkin baru masak. Putri juga udah parah
sakitnya. Di akhir acara makan, karena ayam gorengnya gede, dan rata-rata gak
habis Dana-pun menyarankan untuk di bungkus buat sarapan pagi besok. Malu sih,
tapi masak iya cowok yang ngomong ke penjual. Mau gak mau aku harus turun
tangan nih, karena Della mengurus Putri yang sakit.
Karena masih pada mengantuk, kita memilih nyantai di
alon-alon kota Malang. Iqbal dan Della ngajakin selfie-selfie. Padahal perutku
udah mules lagi. Ikut Dana ke masjid buat numpang toilet ternyata tutup genks.
Ya sudah ikut Iqbal dan Della foto-foto. Baru nyampe di lokasi, nih perut udah
gak bisa kompromi. Udah d ujung tanduk. Setelah minta fotoin sebentar, ku lihat
tadi di dekat parkir mobil ada toilet walaupun penjaganya tidur. Jadi ku
tinggalkan Della dan Iqbal lalu berlari menuju toilet.
Akhirnya lega bisa ngeluarin. Ku putuskan untuk masuk dan
tidur saja di mobil. Di jok belakang ada Rizaldi dan Unto yang sudah di alam
mimpi, lalu jok tengah di buat tumpuan kaki sehingga tak bisa di gunakan.
Akhirnya aku tidur di kemudi, daripada gak nemu tempat pikirku. Dana, Riza dan
temannya itu nongkrong di alon-alon.
Ini ceritanya Della, saat beberapa dari kita termasuk aku
tertidur di dalam mobil. Della yang biasanya suka malu kalau yang foto dia itu
cowok, mau nggak mau dia PD foto-foto sama Iqbal, terus Riza nyusul begitu juga
Della lah yang akhirnya fotoin cowok-cowok yang nongkrong itu. Iqbal yang udah
ngeksis dari kemarin makin eksis saat foto-foto di lukisan sayap. Dia juga
foto-foto di tangga penyebrangan, padahal ada anak-anak muda yang nongkrong dan
lewat, tapi dia gak malu. Katanya sih, kapan lagi udah jauh-jauh ke Malang tapi
gak mengabadikan momen. Della-pun mau saja menjadi fotografernya.
Beberapa lama kemudian ku dengar Della datang membuka pintu
mobil, membuatku kaget dan terbangun. Della sebal dengan Unto yang gak
bangun-bangun, karena Della mau tidur gak nemu tempat. Rizaldi terbangun dan
katanya sakit perut—haha gue udah tadi. Si Iqbal juga ngerasain ternyata.
Unto-pun juga sama, tapi tadi pas abis makan di warung dia pinjam sepeda teman
Riza, ku pikir mau kemana dia ternyata sakit perut. Della sempat numpang duduk
di kemudi padahal aku ngantuk banget. Ya sudah aku marahi saja dia dan menyuruh
untuk membangunkan Unto dan membenarkan letak jok tengah. Akhirnya Unto
terbangun dan pindah posisi, Della juga akhirnya bisa tidur. Aku-pun
melanjutkan tidurku.
Agak lama juga kita tertidur, samar-samar ku dengar Dana
membangunkan kita semua. Kata Dana sudah terdengar suara qira’at jadi kita
harus melanjutkan perjalanan. Katanya lebih baik pagi di daerah Lawang.
Semuapun terbangun kecuali Unto. Susah payah dia di bangunkan dari cara halus
sampai kasar yang mencabut bulu kaki, menjewer kupingnya. Akhirnya terbangun
dengan sentuhan halus Dana—ciee.. iya kan satu pondok jadi ngerti deh. Unto
terbangun tapi tidur lagi dengan posisi duduk. Hampir semua justru tidur kembali.
Hanya Riza yang menyetir dan Dana memegang navigasi untuk ke arah Lawang,
setelah sebelumnya di belikan camilan oleh teman Riza—makasih ya masnya baik
deh, lumayan kan gretong J.
Jalanan lengang dan seperti jalur tol, jadi melaju kencang
dan lancar. Tiba-tiba terbangun karena Dana bilang kebablas. Wah, sadar gak
sadar aku menyarankan untuk mampir ke wisata Prigen di dekat sana. Sambil
mencoba sadar sepenuhnya akhirnya kita mampir ke masjid Ceng Ho di Pandaan dan
membicarakan agenda berikutnya setelah shalat subuh dan mandi.
Kita jalan menuju Prigen setelah membeli nasi karena ada
ayam goreng sisa semalam. Karena aku yang tahu tempatnya jadi ku arahkan mereka
ke air terjun Kakek Bodo di Tretes, Prigen. Karena halaman parkirnya luas dan cozy.
Benar saja. Justru masih belum ada petugasnya malah, jadi
kita makan dengan leluasa dan foto-foto doang, gak masuk ke air terjun. Lalu
mereka ku boyong untuk ke villa puncak Prigren, hanya taman sih. Tapi yang
penting gratis. Sambil foto-foto dan ala-ala piknik gitu, dengan bekal yang di
belikan teman Riza. Sayang gak bawa tikar, jadi pada jongkok. Udah kayak poop aja nih. Haha.
Puas di sana, kita langsung cuss menuju rumah “jeh
tercinta” Nurul Iftitah atau Ita yang ada di Pasuruan. Kebetulah aku sudah
pernah ke sana jadi tahu.
Satu jam kemudian sampailah kita di tempat Ita. Langsung di
suguhkan makanan. Setelah makan kita istirahat dengan tiduran. Ada dari mereka
yang masih ngobrol di teras. Ada juga yang mandi atau main HP. Satu persatu
mulai bangun, beberapa malah sudah mandi. Aku yang baru bangun malah di suruh
ngumpulin foto-foto untuk di jadikan satu folder sambil menunggu gantian mandi.
Setelah aku mandi dan mengambil sesuatu di mobil ada seorang cowok datang.
Kayak gak asing, atau aku sok tau. Ternyata emang bener itu si Muklis mantannya
Ita. Tau soalnya berteman FB.
Semua juga sudah pada mandi dan shalat, pukul 15.00 WIB
kita cabut langsung gas pol Jember. Ada kejadian menarik saat sampai di pom
Bangsalsari Jember. Saat yang lain pada shalat, aku di depan duduk-duduk. Ku
lihat ada yang mengangkat layar HP atau alat tukang parkir gitu. Ku kira siapa
dari tadi, soalnya dari tadi halo halo, pas aku memastikan—gak mungkin ada
temen yang masih ada di mobil kan? Aku melihat Iqbal selesai shalat, Dana, Riza
dan Unto juga masih shalat. Della dan Putri jelas-jelas di belakangku shalat.
Dan aku baru ingat. Rizaldi gak ada, ku dekati mobil, dan benar saja dia
terkunci di dalam. Lalu ku panggil teman-teman untuk membukakan kunci mobil.
Aku pikir tukang parkir—sorry ya Rizaldi lama tahunya. Si Riza Cuma ketawaa.
Unto dan Putri yang tahu kejadiannya menjelaskan. Saat itu Rizaldi baru bangun,
kata Unto di tanya mau lewat mana, tapi malah di tinggal. Terus kata Putri, dia
menunggu Rizaldi keluar untuk menutup pintu mobil, tapi karena kelamaan jadi
dia menutup pintunya dan berfikir Rizaldi bakal lewat pintu satunya. Nah,
begitulah penjelasannya. Ada ada saja.
Karena uang iuaran masih ada 50rb, ya lumayan lah jadi kita
gunakan untuk makan lesehan di pinggir jalan. Katanya Della justru lebih,
padahal setelah totalan malah kurang. Untung di bawain duit lebih.
Melihat speedometer bensin masih banyak. Teman-teman
ngerencanain untuk menyedot bensinnya dan di taruh di motor masing-masing. Ya
ampun, sampai segitunya. Parah. Eh tapi lumayan loh sisanya. Sampailah kita di
kontrakan Putri dengan selamat, alhamdulilah. Dan mereka langsung minjam selang
untuk meyedot bensin. Ckckck. Aku juga sudah di jemput Bapak.
Dari perjalanan di atas, untuk kesekian kalinya. Bukan
menjadi tersukses dari semua perjalanan karena gak banyak yang ikut, bukan juga
yang buruk karena dengan beberapa orang saja kita merasa senang. Tapi
setidaknya kalaupun perjalanan yang terakhir—karena bentar lagi semester
akhir—semoga bukan dan di beri kesempatan jalan-jalan lagi, sudah mampu
memberikan kesan. Sangat berkesan malah. Sedikitnya cewek bisa meminimalisir
keribetan. Banyaknya cowok yang menjaga dan pada kocak bisa memberi hiburan
tersendiri. Dan di setiap tempat memberikan kesannya masing-masing. Good, but hope this journey not to the end.
Aamiin. J
Oleh : Wasi’atul Amalia