Jumat, 22 Januari 2016

Negeri di Atas Awan



DI ATAS 2929 MDPL
Sejenak alunan musik dari Nidji ini menemaniku saat sedang prepare untuk traveling. Yah, rencananya siang nanti, aku dan teman-temanku akan melakukan perjalanan alam ke “Negeri di Atas Awan” atau puncak B29, sebuah kampung suku Tengger yang saat melihat lokasinya kamu akan langsung bilang, “Keren! Kita ada di sebuah kampung yang terasa melayang di atas awan.” Letaknya di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.
Untuk persiapannya yang perlu di perhatikan adalah logistik, jaket tebal dan fisik kuat serta persiapan mental yang di butuhkan saat harus treking di gunung. Saat aku sedang asyik packing ada SMS dari koordinator perjalanan, Dana.
1 pesan dari Dana :
“Gaes! Jangan lupa bawa air mineral, air gula, camilan atau makanan, jaket yang banyak, plastik kresek. Sementara itu. Sampai ketemu nanti malam di NEGERI ATAS AWAN! J
Sejenak aku melengkungkan bibir tersenyum. Semoga perjalanan kali ini lancar dan selamat sampai pulang.
***
Setelah Vivi menjemputku kerumah siang itu, kita langsumg berangkat ke meet point kita di kampus—kosan Della dan Putri. Sesampainya di kampus, Vivi langsung ikut ujian intensif Bahasa Arab—karena dia dulu telat daftar. Aku-pun langsung menunggu di kosan Della dan Putri. Rencana emang kita kumpul di kosan mereka.
Setelah sekitar dua jam-an menunggu, akhirnya ngumpul semua. Sekitar, lima belas orang. Kita memang pakai sepeda motor, karena jaraknya sekitar tiga jam dari kota kita, Jember.
“Wah, Dan! Yakin B29? Jalur nya makadam lho.” Celetukku saat masih diskusi.
“Gimana kalau ke Kawah Ijen. Cari aman!” kata Alifan mengusulkan.
“Gini aja Lia, siapa yang sudah pernah ke Ijen?” Dana menanggapiku lalu tanya pada teman-teman. Beberapa teman sudah pernah kesana.
“Kalau ke B29?” serentak semua menggeleng.
“Oke. Kita berangkat ke B29! Masalah nanti kita bismillah.” Keputusan koordinator ini memang sangat bijak menurutku.
Setelah berkumpul dan berdo’a untuk keselamatan, satu persatu sepeda mulai keluar kompleks perumahan. Tepatnya jam 15.30 kita berangkat.
***
Matahari bersinar keemasan di bulan Juni menemani perjalanan kita. Terkadang kita masih sempat-sempatnya bercanda di jalan padahal jalan raya dan jalan utama (oh! Don’t try this). Hanya sesekali untuk mengusir rasa bosan dan kecapaian saat menyetir. Hal yang membuatku kaget adalah, saat Hanif yang memboncengku tidak fokus dan hampir saja nyungsep di bahu jalan. Ah, rasanya ngeri sekali.
Karena aku memegang informasi jalurnya, jadi aku di depan memimpin teman-teman. Langit mulai menggelap, semburat warna jingga terlihat mengintip dari arah barat. Setelah sempat istirahat di pom bensin dan sholat. Kita mulai melanjutkan perjalanan. Hutan, persawahan, perumahan, hutan lagi mulai mendominasi. Jalanan juga mulai menanjak.
Kini, hawa sejuk khas pegunungan mulai terasa menerpa kulit. Setelah memasuki kota terakhir di Kecamatan Senduro, yang terlihat hanyalah perkebunan dan hutan-hutan. Kita hanya menjalankan motor pelan-pelan karena hanya mengandalkan penerangan dari lampu motor.
Kabut tebal dan gerimis menyergap tak menyurutkan niat mereka—teman-teman untuk terus melanjutkan perjalanan. Kita sempat berhenti sebentar di sebuah lapak tak terpakai di tengah padang bukit-bukit. Menikmati hawa yang semakin dingin. Banyak dari mereka yang mulai memasang jaket, dan sekedar nyemil. Tapi, daerah tujuan kita masih di atas puncak sana. Dari sini terlihat samar kelip-kelip lampu diatas.
Jalanan kelok-kelok mendominasi. Sesaat kemudian, terjadi insiden motor Dana yang tidak kuat menanjak, akhirnya berhenti mendadak. Lalu di belakang, Arif yang ngebut menabrak Dana karena jarak yang dekat. Untungnya tidak terjadi sesuatu yang serius.
            Masuk kawasan Desa Argosari, setelah tanya-tanya trek, orang-orang disana—para suku Tengger menyarankan untuk menitipkan sepeda motornya karena jalurnya terjal. Bisa pakai motor asal motor yang sudah di modif atau trail. Semuanya dimulai dengan melangkah sampai 6 KM—mendaki, tapi sudah ada jalurnya.
***
                        Berteman malam, berselimut kabut, dan cahaya kelip-kelip bintang menemani perjalanan kami mendaki. Untung saja walaupun sempat gerimis akhirnya malam cerah. Setidaknya para bintang menyemangati kita dari atas saat rasa lelah dan letih menyergap. Satu jam... dua jam..
            Pukul 21.00 WIB. Setelah dua jam treking, samapailah kita di puncak. Welcome to Puncak B29.
            Ooo..oo..o..oo.. ooo.. when she was just a girl, she expected the world. But it flew away from her reach, so she ran away in her sleep. And dreamed of para-para-paradise, para-para-paradise, everytime she closed her eyes...♫ (Paradise-Coldplay)
            “Wow! Subhanallah!” teriak Alifan saat sampai di puncak. Alifan-pun sujud syukur dan diikuti oleh teman-teman yang lain. Aku-pun tak henti-hentinya berdecak kagum dan merapalkan kalimat pujian untuk Tuhan yang Maha Agung. Betapa indahnya satu ciptaanNya ini. Hamparan gunung Bromo di bawah sana terlihat gelap dan jelas serta di selimuti oleh gumpalan-gumpalan awan bak kapuk raksasa. Ingin sekali rasanya tidur di bawah sana. Hehe. Dari arah selatan juga tak kalah kokohnya gunung Semeru masih berdiri tegak menjulang di atas sana. Next time aku ingin sekali menjejakkan kaki-ku diatas sana, aamiin.
            Amazing, bro! Wooaww!” seru teman-teman yang juga menikmati keindahan ini.
            “Sesuatu yang luar biasa memang perlu perjuangan yang luar biasa. Walaupun harus mendaki, tapi apalah arti keluh kesah saat semua terbayarkan seperti ini.” Kata Dana di sambut sorakan dari teman-teman.
            Malam mulai semakin larut, hawa sesak begitu terasa karena kadar oksigen yang sangat tipis. Setelah para cowok membuat tenda, kita memutuskan untuk sekedar istirahat. Beberapa dari mereka ada yang nongkrong di warung. Di atas memang terdapat beberapa warung-warung kopi, karena memang tempatnya mulai ramai di kunjungi wisatawan.
            Beberapa teman sepertinya dalam masalah, tiba-tiba Putri drop, Alifan kedinginan. Kita semua sepertinya tak bisa tertidur di tempat sedingin ini, karena memang tidak memakai sleeping bag. Hal itu tidak memungkinkan mengingat jumlah kita banyak dan hanya membawa satu tenda, yang normalnya berkapasitas delapan orang.
***
            Waktu berlalu terasa begitu lama, entahlah. Tapi sepertinya, teman-teman yang tadinya sakit sudah agak mendingan.
            Pukul 03.30 WIB, fajar dari arah timur mulai mengintip. Kalau ingin menikmati sunrise kita bisa mendaki 100 m di bukit balik tenda.
            “Ayo bangun, bangun! Waktunya bangun!” seru Rusdi yang terbangun dari tidurya.
            “Ah, aku ngantuk. Aku tidur saja sudah, kalian pergi aja!” saut Tirta malas.
            “Wah, jauh-jauh kesini kok Cuma tidur. Ngapain? Mending gak usah ikut kalau gitu!” sindirku, lalu mereka yang tadinya tidur langsung sigap dan semangat.
            Setelah sedikit mendaki, sampailah kita ke hamparan tanah dengan rumput-rumput—seperti lapangan di atas. Dari ufuk timur matahari-pun mulai menampakkan sinarnya, hawa sejuk dan pemandangan yang luar biasa ini tak kan terlupakan. Mahakarya Sang Agung. Sungguh, nikmat Tuhan mana yang kau dustakan?
            ♫Sweet disposition, never too soon. Oh, reckles abandon. Like no one’s watching you. A moment a love, a dream aloude, a kiss a cry. Our rights, our wrongs. A moment a love, a dream aloude, so stay there. ‘couse I’ll be coming over...♫ (Sweet Disposition-The Temper Trap)
 ***
            Mungkin hanya sehari saja. Tapi, memori yang sudah terekam jelas di otak takkan pernah terlupakan. Bersama sahabat-sahabat yang mau berbagi susah dan senang, tawa dan tangis. Mereka yang menjelma menjadi saudara saat jauh dari rumah. Manusia memang jauh dari sempurna. Setidaknya saat melihat keindahan alam ini kita tahu, betapa Maha Sempurnanya Dia menciptakan ini semua, dan Tuhan menciptakannya dengan seni. Iya, “EARTH” tanpa ART hanyalah “EH”.
            Tidak sampai disini saja perjalanan kita kali ini, karena masih banyak perjalanan-perjalanan lain di lain waktu. Indonesia memang keren. Sudah cukup memuaskan batin dan refreshing setelah ujian. Dan tentunya, mensyukuri nikmat yang telah kita berikan.
“Jangan bunuh apapun kecuali waktu, jangan tinggalkan apapun kecuali jejak, jangan bawa apapun kecuali foto, dan jangan bakar apapun kecuali semangat!” kata Dana saat memberikan kesan dan pesan saat meninggalkan B29. Riza-pun tak mau kalah dengan Dana.
“Perjuangan itu pasti ada balasannya, dan balasannya sesuai dengan usahanya!” seru Riza dengan gayanya yang sok cuek tapi terlihat kocak.
“Jangan lupa, bawa pulang sampahmu kembali. Atau telan!” kataku sambil melotot menakut-nakuti.
“Huuu....” sorak tawa teman-teman sambil mengacungkan jempol.

END

Wasi’atul Amalia, lahir di Jember, 5 Januari 1995. Seorang mahasiswi di IAIN Jember. Alamat emailnya lieyah.peskins@gmail.com. Untuk akun fb di mi_pangsohx@yahoo.co.id, akun twitter @jeh_wasik, akun kwikku @amaliaawasik (akun kwikku ini foundernya orang Indonesia, ayo apresiasi J), no hp : 085746144094.
           

Amazing Malang!



Amazing Malang
Dimulai saat waktu menunjukkan pukul 21.30 WIB. Dengan seperti biasa “liburan mewah bajet ndeso”. Langsung meluncur dengan para jeh dan anggota anyar. Aku, Della, Putri, Dana, Riza, Iqbal, Rizaldi, dan Unto(Zidni). Rupanya di awal perjalanan kita ada yang mengganggu. Karena ada mobil Kijang hitam ber plat hijau tentara yang jalannya lambat tapi saat hendak di salip justru jalannya kencang, kemudian saat kita berhasil menyalipnya dengan tenang tiba-tiba mobil itu menyalip kita dan menyerempet bamper mobil kita sampai spionnya nutup. Ada goresan sedikit tapi untungnya tidak terlalu terlihat. Semuanya kaget dan mulai emosi dengan tuh mobil sialan, maunya apa coba. Ku tanya teman-teman mungkin ada yang kenal dengan mobil itu, tapi tak ada yang kenal. Beberapa dari kita menenangkan dan tidak memperpanjang masalahnya.
          Lewat Piket Nol-Dampit yang di rasa cepat, ternyata justru makin memakan waktu yang lama. Di tengah perjalanan, di tengah malam, dan di tengah-tengah hutan yang bertebing dengan jurang di samping kiri jalan, beberapa dari kami masih terjaga. Tapi seperti Iqbal, Rizaldi dan Unto mereka telah terlelap, juga Della yang mabuk perjalanan, terbukti saat rasa itu sudah di ujung tenggorokan dan memaksa menghentikan mobil di tengah perjalanan untuk muntah. Karena mayoritas dari kita jarang atau malah gak pernah ke Malang lewat Dampit maka perjalanan terasa sangat lama sekali, berjam-jam berada di pegunungan dan hutan namun sesekali terlihat desa dan kota kecil. Sampai akhirnya pukul 02.00 WIB Dana menghentikan mobil di sebuah pom bensin. Ku pikir itu sudah masuk kecamatan Turen. Setelah melihat situasi rupanya mushola nya sudah ramai dan penuh di gunakan istirahat oleh musafir lain, bahkan penjaga toilet juga tertidur di kursinya. Ku lihat Riza kelaparan, jadi Putri membantu Riza. Teman-teman yang lain juga ku lihat masih belum benar-benar terjaga dari tidurnya. Aku sendiri tumben belum bisa mengantuk. Akhirnya kami hanya duduk-duduk di depan toko sambil istirahat sejenak. Setelah itu kita melanjutkan perjalanan. Menurut Unto sebaiknya kita langsung naik ke Paralayang sebelum pagi-pagi agar dapat melihat lampu kota Batu. Total 8 jam. Pukul 04.05 WIB kita sampai di alon-alon Batu. Setelah yang cewek shalat subuh di masjid agung Batu ternyata yang cowok cuman tidur nunggu di mobil,padahal lebih baik di buat shalat dulu biar enteng dan gak beban. Ckckck. Akhirnya kita langsung naik ke Gunung Banyak.
Dengan GPS ala Unto yang sudah survei kita melewati medan yang sangat mulus, namun saat hampir tiba di lokasi medan mulai makadam—menurut Unto sudah yang paling bagus. Mereka pikir tidak akan ada banyak orang yang berkunjung di subuh-subuh seperti ini, ternyata kita salah total. Justru banyak orang yang menghabiskan malam minggu dan camp di sana. Tiba-tiba saat leter S terakhir mobil kita malah mundur. Ngeri sekali rasanya. Mau tidak mau semuanya harus turun dan menunggu di atas sambil memanjatkan doa :D.
Begitu saja kita hanya berjalan sedikit dan mencapai lokasi. Amazing! Dengan hamparan lampu kelap-kelip Batu, gunung Panderman atau gunung Anjasmoro ya? Gak paham juga aku hehe. Berkabut menghiasi pemandangan subuh kala itu. Belum sempat memandangi seluruh penjuru, ku lihat teman-teman sudah berpose dan selfie ria di lokasi. Ckckck terutama Iqbal dan Unto. Matahari mulai menampakkan sinarnya, para cowok ini memang belum pada shalat, padahal enakan shalat di Batu tadi. Jadi keburu-buru lari ke mushola terdekat untuk melaksanakan shalat. Dasar!
Setelah puas selfie, dan sudah shalat. Kami pun memutuskan untuk sarapan dengan bekal semalam. Menikmati kesejukan pagi hari di puncak gunung Banyak dan kehangatan kebersamaan J. Makanan yang sangat sederhana—dengan dominan nasi dan sedikit lauk terasa sangat nikmat kala di temani sahabat dan pemandangan yang amazing.
Waktu masih menunjukkan pukul 07.00 WIB, belum ada petugas paralayangnya. Di Omah Kayu juga belum buka. Jadi kita putuskan jalan-jalan di area yang belum di eksplore. Namun di tengah jalan para cowok memilih untuk balik ngopi-ngopi dan kita ceweknya terus naik ke atas ke rumah kayu tak terpakai.
Setelah sampai di atas, hanya satu kata terucap “indah”. Kelihatan dari depan entah menghadap kemana, gunung Arjuna berselimut kabut, dari samping mungkin gunung Anjasmoro dan tampak belakang adalah kota Malang. Keren. Yang bikin tengsin adalah saat aku dan Putri pengen selfie pakai hammock ternyata itu milik seseorang pribadi yang ia bawa sendiri dan bukan fasilitas. Haha untung gak make.
Kota wisata Batu adalah Paris East Java, sama kayak Bandung Paris Van Java. Karena kota ini di kelilingi oleh pegunungan-pegunungan yang mengitari kotanya. Selain itu memang banyak tempat keren di sini. Setelah puas foto-foto di atas kaarena kameranya juga sudah low bat, akhirnya kita turun menyusul yang cowok untuk sekedar minum minuman hangat.
Puas ngopi-ngopi lalu sebentar melihat paralayang kita putuskan untuk turun. Lalu pergi ke coban rondo karena lokasinya dekat. Selain itu kita sangat penasaran dengan labirinnya. Rencana tinggalah rencana, saat masuk di tempat karcis justru harus masuk ke coban rondo dengan HTM 15rb. Dengan wajah “mahal coy, mending kagak usah” akhirnya kita balik. Saat itu sebenarnya malu deh. Tapi emang bajet harus irit kan.
Bingung agenda mau kemana, kita akhirnya berhenti di alon-alon Batu untuk mandi. Ceritanya gantian deh yang mandi. Di pagi yang sangat panas ini sebenarnya aku lelah dan pusing karena tidak dapat tidur semalaman.
Namun setelah mandi dengan air yang dingin banget membuatku segar kembali. Saat selesai mandi dan menunggu di mobil, karena yang cowok juga mau mandi. Aku, Della dan Putri bercengkrama tentang tujuan selanjutnya. Sedikit bingung sih, karena saat itu hari minggu jadi rata-rata tiket masuk agak mahal. Saat aku cerita kuliner malam di alon-alon Batu, Della sangat excited banget. Ia penasaran untuk kulineran—aku pun juga. Cuman itu nanti nunggu keputusan dari yang lain juga sih. Setelah jajan juga di sekitar parkiran, akhirnya cowoknya datang juga. Dan kata Dana kita mending Balik ke coban rondo. Ya, okelah gak pa-pa. Ah, si Unto kesenengan nih sama Della karena sama-sama penasaran sama labirin sih. Oh ya si Della punya sebutan khusus buat Unto. Dia panggilnya—Unta—lebih sopan gitu, cieee. Satu lagi nih, dari pas berangkat si Unto ini sibuk nelpon saudara, teman dan lain-lain Cuma mau ngabarin kalau dia lagi liburan. Ya ampun deh. Tapi kocak juga nih anak. Hal yang di ucapakan selalu,
“Halo, awakmu nengdi? Awakmu muleh opo jek neng kos-kosan? Aku liburan iki nang Malang.” Hahaha hampir semua digituin sama dia.
Dan saat tiba di pintu masuk coban rondo. Suasana semakin ramai dan sangat padat. Kata teman-teman—terutama Iqbal yang sudah pernah kesana bilang, gak boleh nyesel kalau sudah masuk lanjut aja. Kemudian Riza malu membuka jendela mobil karena tadi gak jadi ke coban. Akhirnya Unto yang bayar tiketnya, bukannya diam saja dia malah ngomong, kalau kita adalah orang-orang tadi yang gak jadi masuk gara-gara tiketnya mahal. Ckck Unto.. Unto.
Kali ini jalannya agak jauh rupanya dari pintu masuk utama, dengan berdasarkan pengalaman Iqbal  kita langsung meluncur ke coban rondo dan HARUS mampir di labirin saat pulang—harus karena ini request temen-temen yang hukumnya wajib. Sampai di lokasi pengunjungnya berjibun, dan ingat—tidak boleh menyesal dan lanjutkan.
Ku pikir akan berjalan jauh, tapi ternyata sangat dekat. Selain itu juga sudah banyak fasilitas-fasilitasnya. Pas sampailah di air terjunnya. Syok! Buanyak banget pengunjungnya, bikin males foto. Cuaca juga sedikit mendung. Setelah puas main di air terjun, teman-teman mampir ke mushola untuk shalat. Seperti biasa, dengan modus pengiritan teman-teman mengambil air gunung. Iya air gunung yang sudah ada kran-nya.
Hujan tiba-tiba mengguyur kawasan itu, membuat kita yang tak ada perlindungan karena sedang berjalan berlarian menuju parkiran mobil dan bergegas berteduh di dalam mobil sambil jalan ke tempat labirin. Siapa tahu saat di labirin sudah reda.
Sampailah di lokasi wahana labirin. Dengan HTM tambahan 10ribu. Sebelum main, kita makan siang dulu. Dengan berpayung pintu bagasi mobil dan beralaskan bagasi belakang mobil kita menikmati makan siang kita. Air satu-satunya adalah yang di ambil saat di mushala dekat coban. Mau gak mau harus minum itu. Sempat khawatir bakalan sakit perut. Tapi kata Unto setidaknya gak bakalan mati, kalau sakit perut bukan urusannya karena dia tidak tahu apa-apa.
Makan selesai kita langsung menuju TKP labirin. Kita membagi dua kloter. Empat orang pertama masuk ke labirin. Dan empat orang kedua yang ngarahin serta menghafal dan mendokumentasikan peta atau jalur yang akan di lalaui. Selain itu juga dokumentasi yang ada di menara.
Kloter pertama selamat sampai di tengah pusat walau agak lama. Lalu aku—dan yang lain kloter ke dua menyusul. Dengan cepat Unto memilih jalur. Hebat sekali nih orang bisa hafal. Samar-samar kedengaran suara Della yang memanggilku di balik pagar. Mungkin dia juga mendengarku tertawa. Baru jalan, belok sana belok sini dan sampailah kita dengan cepat berkat Unto. Puas foto-fotoan kita semua kembali dan berpencar. Aku dan Putri ketinggalan karena asyik selfie, dan Della malah masuk jalur buntu. Karena aku, Della dan Putri merasa gak tahu jalan kita pun berlari mencari teman yang lain dan lekas menyusul agar tak tersesat.
Karena capek guyon di sepanjang jalan, akhirnya kita duduk santai di depan pintu labirin. Ya ampun 10rb Cuma buat masuk dan keluar labirin dengan cepat? Mau masuk lagi tapi nampaknya gerimis mulai turun lagi. Jadi kita berjalan-jalan di sekitar taman dekat labirin, juga istirahat sebentar sambil memikirkan agenda berikutnya. Kata Dana sih ke kota Malangnya. Yang jelas turun dulu dari pegunungan.
Saat hujan turun mulai deras kita putuskan untuk cabut. Di sepanjang perjalanan hujan semakin deras. Ku lihat teman-teman banyak yang kecapaian dan tertidur. Kasihan Dana yang menyetir sendiri tak ada teman ngobrol. Aku juga perlahan tertidur, apalagi di temani musik khasnya si Riza yang sayup-sayup membuatku terpejam.
Entah mengapa aku sedikit tersadar dan mobil sudah berhenti, di luar juga masih deras. Rupanya Dana juga mengantuk dan parkir di pom bensin. Tidak ada satu pun dari kita yang turun. Suara musik juga masih terdengar. Aku juga mendengar Iqbal dan Rizaldi mengobrol di jok depanku, mereka seakan mendongengkanku sehingga akupun tertidur lagi.
Beberapa saat kemudian, ku lihat Iqbal dan Rizaldi keluar dan makan bakso di sebelah parkiran. Sepertinya mereka lama nongkrong di sana. Karena aku tertidur dan terbangun mereka masih disana. Tiba-tiba Della ngelindur membangunkan Putri, dia mengatakan bahwa dia melihat Iqbal makan bakso dan dia ingin makan bakso, tapi not responding karena Putri masih juga terlelap. Aku tahu tapi aku juga masih terlalu mengantuk untuk menanggapi.
Selang beberapa saat, Dana membangunkan kita semua. Katanya jangan lama-lama di dalam mobil yang tertutup dan ber AC bisa bahaya, dia pun membuka jendela mobil, namun di luar masih deras. Dia membangunkan lagi. Kemudian Della tersadar dan minta antar ke toilet, Putri juga menyusul. Akhirnya mau gak mau aku juga ikutan bangun dan ikut ke toilet. Semuanya-pun bangun—yang terakhir bangun adalan Unto, dia sedikit susah di bangunkan rupanya.
Setelah dari toilet, dan pada shalat. Aku, Della, Putri dan Riza menunggu yang belum shalat di tempat duduk tukang karcis toilet. Tiba-tiba ada ibu-ibu yang terpeleset di depan Riza. Sontak kita langsung teriak. awalnya aku gak tahu ada yang jatuh karena aku melamun. Ckckck. Kasihan ibu itu, beliau terlihat syok dan memegangi tangannya, mungkin sakit sekali.
Sepertinya hujan mulai reda. Agak gerimis sih tapi gak deras. Ternyata kita masih di area Batu. Akhirnya kita lanjut perjalanan. Unto menyarankan untuk mampir ke kos-kosan temannya di dekat Universitas Islam Malang. Di perjalanan ternyata hujan masih turun deras. Jarak dari Batu ke UNISMA lumayan jauh juga rupanya. Kita sampai di kos-kosan teman Unto pas maghrib. Sebenarnya aku—dan temen-temen cewek ini ngerasa gak enak banget di kosan itu. Karena kos-kosan cowok, terus lingkungannya kayak pesantren gitu. Di lingkungan sekitar kalau ada kos-kosan rata-rata cowok semua. Jadi ngerasa asing dan gak nyaman banget.
Setelah bercengkrama. Yang cowok pada nawarin jalan-jalan ke mall atau di kota. Yaelah gaya banget ke mall. Tapi aku rasanya sudah gak kuat banget. Lagian Riza dan Dana apa gak capek nyetir. Mau istirahat aja jadinya. Karena kita gak mungkin—yang cewek tidur sembarangan di ruang tamu kos-kosan cowok, gak mungkin juga tidur di kamarnya, akhirnya kita memilih tidur di mobil. Fix tidur di mobil dan yang cowok di kamar? Hufftt, bikin iri genks.
Aku terlelap dengan cepat karena ku putar musik dengan volume sedang. Ternyata pas di depan mobil ada acara sehingga suara soundnya terdengar menggelegar. Tapi tak apa, aku justru mudah terlelap ketika ada suara lagu.
Entah jam berapa saat itu, mungkin pukul 22.00 WIB Unto ke mobil dan bikin rusuh. Entah apa yang dia ambil tapi dia sangat berisik. Terus dia ngobrol sama Della—yang kayaknya ngelindur. Sejak saat itu aku mulai tak bisa tertidur, suara musik orang hajatan sudah berhenti. Tiba-tiba perutku mules. Sakit banget. Saat aku terbangun ku lihat Putri tidak tidur. Jadi aku minta di temaninya ke toilet masjid. Ku tinggal Della sendirian terlelap dalam mobil.
Meskipun sudah ke toilet tapi rasa sakitnya masih ada. Untung ada toko yang masih buka, jadi bisa beli obat diare. Sejak itu aku dan Putri tak bisa tidur, jadi kita ngobrol. Sampai Della-pun terbangun. Dia mengomel karena para cowok gak ada yang bangun dan nengok kita di mobil. Akhirnya dia bangun dan turun. Memberanikian diri membangunkan Dana atau Riza di dalam kamar agar cepat cabut dan cari makan, karena Putri mengeluh sakit perut gara-gara telat makan.
Della keluar bersama Unto. Della minta agar kita semua cari makan. Setelah semua bangun, dan kondisi Putri makin parah jadi kita di antar teman Riza yang kebetulan teman Unto juga untuk cari makan. Saat itu Rizaldi mengeluh mules sama kayak aku, dia-pun ku kasih obat diare yang ku beli tadi. Sejak saat itu aku mulai berfikir, apa bukan aku saja yang mules ya?
Setelah muter-muter cari tempat makan. Sampailah kita di warung lalapan. Nasinya masih pulen, mungkin baru masak. Putri juga udah parah sakitnya. Di akhir acara makan, karena ayam gorengnya gede, dan rata-rata gak habis Dana-pun menyarankan untuk di bungkus buat sarapan pagi besok. Malu sih, tapi masak iya cowok yang ngomong ke penjual. Mau gak mau aku harus turun tangan nih, karena Della mengurus Putri yang sakit.
Karena masih pada mengantuk, kita memilih nyantai di alon-alon kota Malang. Iqbal dan Della ngajakin selfie-selfie. Padahal perutku udah mules lagi. Ikut Dana ke masjid buat numpang toilet ternyata tutup genks. Ya sudah ikut Iqbal dan Della foto-foto. Baru nyampe di lokasi, nih perut udah gak bisa kompromi. Udah d ujung tanduk. Setelah minta fotoin sebentar, ku lihat tadi di dekat parkir mobil ada toilet walaupun penjaganya tidur. Jadi ku tinggalkan Della dan Iqbal lalu berlari menuju toilet.
Akhirnya lega bisa ngeluarin. Ku putuskan untuk masuk dan tidur saja di mobil. Di jok belakang ada Rizaldi dan Unto yang sudah di alam mimpi, lalu jok tengah di buat tumpuan kaki sehingga tak bisa di gunakan. Akhirnya aku tidur di kemudi, daripada gak nemu tempat pikirku. Dana, Riza dan temannya itu nongkrong di alon-alon.
Ini ceritanya Della, saat beberapa dari kita termasuk aku tertidur di dalam mobil. Della yang biasanya suka malu kalau yang foto dia itu cowok, mau nggak mau dia PD foto-foto sama Iqbal, terus Riza nyusul begitu juga Della lah yang akhirnya fotoin cowok-cowok yang nongkrong itu. Iqbal yang udah ngeksis dari kemarin makin eksis saat foto-foto di lukisan sayap. Dia juga foto-foto di tangga penyebrangan, padahal ada anak-anak muda yang nongkrong dan lewat, tapi dia gak malu. Katanya sih, kapan lagi udah jauh-jauh ke Malang tapi gak mengabadikan momen. Della-pun mau saja menjadi fotografernya.
Beberapa lama kemudian ku dengar Della datang membuka pintu mobil, membuatku kaget dan terbangun. Della sebal dengan Unto yang gak bangun-bangun, karena Della mau tidur gak nemu tempat. Rizaldi terbangun dan katanya sakit perut—haha gue udah tadi. Si Iqbal juga ngerasain ternyata. Unto-pun juga sama, tapi tadi pas abis makan di warung dia pinjam sepeda teman Riza, ku pikir mau kemana dia ternyata sakit perut. Della sempat numpang duduk di kemudi padahal aku ngantuk banget. Ya sudah aku marahi saja dia dan menyuruh untuk membangunkan Unto dan membenarkan letak jok tengah. Akhirnya Unto terbangun dan pindah posisi, Della juga akhirnya bisa tidur. Aku-pun melanjutkan tidurku.
Agak lama juga kita tertidur, samar-samar ku dengar Dana membangunkan kita semua. Kata Dana sudah terdengar suara qira’at jadi kita harus melanjutkan perjalanan. Katanya lebih baik pagi di daerah Lawang. Semuapun terbangun kecuali Unto. Susah payah dia di bangunkan dari cara halus sampai kasar yang mencabut bulu kaki, menjewer kupingnya. Akhirnya terbangun dengan sentuhan halus Dana—ciee.. iya kan satu pondok jadi ngerti deh. Unto terbangun tapi tidur lagi dengan posisi duduk. Hampir semua justru tidur kembali. Hanya Riza yang menyetir dan Dana memegang navigasi untuk ke arah Lawang, setelah sebelumnya di belikan camilan oleh teman Riza—makasih ya masnya baik deh, lumayan kan gretong J.
Jalanan lengang dan seperti jalur tol, jadi melaju kencang dan lancar. Tiba-tiba terbangun karena Dana bilang kebablas. Wah, sadar gak sadar aku menyarankan untuk mampir ke wisata Prigen di dekat sana. Sambil mencoba sadar sepenuhnya akhirnya kita mampir ke masjid Ceng Ho di Pandaan dan membicarakan agenda berikutnya setelah shalat subuh dan mandi.
Kita jalan menuju Prigen setelah membeli nasi karena ada ayam goreng sisa semalam. Karena aku yang tahu tempatnya jadi ku arahkan mereka ke air terjun Kakek Bodo di Tretes, Prigen. Karena halaman parkirnya luas dan cozy.
Benar saja. Justru masih belum ada petugasnya malah, jadi kita makan dengan leluasa dan foto-foto doang, gak masuk ke air terjun. Lalu mereka ku boyong untuk ke villa puncak Prigren, hanya taman sih. Tapi yang penting gratis. Sambil foto-foto dan ala-ala piknik gitu, dengan bekal yang di belikan teman Riza. Sayang gak bawa tikar, jadi pada jongkok. Udah kayak poop aja nih. Haha.
Puas di sana, kita langsung cuss menuju rumah “jeh tercinta” Nurul Iftitah atau Ita yang ada di Pasuruan. Kebetulah aku sudah pernah ke sana jadi tahu.
Satu jam kemudian sampailah kita di tempat Ita. Langsung di suguhkan makanan. Setelah makan kita istirahat dengan tiduran. Ada dari mereka yang masih ngobrol di teras. Ada juga yang mandi atau main HP. Satu persatu mulai bangun, beberapa malah sudah mandi. Aku yang baru bangun malah di suruh ngumpulin foto-foto untuk di jadikan satu folder sambil menunggu gantian mandi. Setelah aku mandi dan mengambil sesuatu di mobil ada seorang cowok datang. Kayak gak asing, atau aku sok tau. Ternyata emang bener itu si Muklis mantannya Ita. Tau soalnya berteman FB.
Semua juga sudah pada mandi dan shalat, pukul 15.00 WIB kita cabut langsung gas pol Jember. Ada kejadian menarik saat sampai di pom Bangsalsari Jember. Saat yang lain pada shalat, aku di depan duduk-duduk. Ku lihat ada yang mengangkat layar HP atau alat tukang parkir gitu. Ku kira siapa dari tadi, soalnya dari tadi halo halo, pas aku memastikan—gak mungkin ada temen yang masih ada di mobil kan? Aku melihat Iqbal selesai shalat, Dana, Riza dan Unto juga masih shalat. Della dan Putri jelas-jelas di belakangku shalat. Dan aku baru ingat. Rizaldi gak ada, ku dekati mobil, dan benar saja dia terkunci di dalam. Lalu ku panggil teman-teman untuk membukakan kunci mobil. Aku pikir tukang parkir—sorry ya Rizaldi lama tahunya. Si Riza Cuma ketawaa. Unto dan Putri yang tahu kejadiannya menjelaskan. Saat itu Rizaldi baru bangun, kata Unto di tanya mau lewat mana, tapi malah di tinggal. Terus kata Putri, dia menunggu Rizaldi keluar untuk menutup pintu mobil, tapi karena kelamaan jadi dia menutup pintunya dan berfikir Rizaldi bakal lewat pintu satunya. Nah, begitulah penjelasannya. Ada ada saja.
Karena uang iuaran masih ada 50rb, ya lumayan lah jadi kita gunakan untuk makan lesehan di pinggir jalan. Katanya Della justru lebih, padahal setelah totalan malah kurang. Untung di bawain duit lebih.
Melihat speedometer bensin masih banyak. Teman-teman ngerencanain untuk menyedot bensinnya dan di taruh di motor masing-masing. Ya ampun, sampai segitunya. Parah. Eh tapi lumayan loh sisanya. Sampailah kita di kontrakan Putri dengan selamat, alhamdulilah. Dan mereka langsung minjam selang untuk meyedot bensin. Ckckck. Aku juga sudah di jemput Bapak.
Dari perjalanan di atas, untuk kesekian kalinya. Bukan menjadi tersukses dari semua perjalanan karena gak banyak yang ikut, bukan juga yang buruk karena dengan beberapa orang saja kita merasa senang. Tapi setidaknya kalaupun perjalanan yang terakhir—karena bentar lagi semester akhir—semoga bukan dan di beri kesempatan jalan-jalan lagi, sudah mampu memberikan kesan. Sangat berkesan malah. Sedikitnya cewek bisa meminimalisir keribetan. Banyaknya cowok yang menjaga dan pada kocak bisa memberi hiburan tersendiri. Dan di setiap tempat memberikan kesannya masing-masing. Good, but hope this journey not to the end. Aamiin. J

Oleh   : Wasi’atul Amalia