KARENA KENANGA ADALAH KENANGA
Karena namaku adalah
Kenanga, orang-orang mengaitkanku dengan kembang kenanga di kuburan. So, why? Kembang kenanga nggak selalu
identik dengan hal-hal mistis saja. Karena menurutku, kembang kenanga itu unik.
Namaku Kenanga dan aku suka sekali kembang kenanga.
Orangtuaku memang suka dengan
tanaman-tanaman dan bunga. Apalagi kenanga, banyak sekali kembang kenanga di
halaman rumahku. Selain untuk hiasan, kata bapakku pohon-pohon kenanga itu
dibuat untuk penjaga. Konotasinya memang mistis sih, karena keluargaku masih
sangat percaya dengan hal-hal seperti itu dan fanatik adat atau “kejawen”.
Sangking sukanya sama kembang kenanga, bapakku pun memberiku—sebagai anak
pertama, nama Kenanga.
Nama adalah doa. Begitu orang-orang
sering bilang. Ku pikir nama Kenanga itu nggak jelek atau mistis sih, tapi nama
yang cantik. Harapan dari namaku adalah ketika kelak aku sudah tumbuh remaja
dan dewasa aku bisa berlaku bagai kembang kenanga, ketika ia mekar ia akan
tetap berwarna hijau. Saat dipetik, bunga yang lain akan layu lalu dibuang sedangkan kenanga justru menguning dan tambah
harum dan semua mencarinya. Nah, maksudnya agar aku bisa menjadi seseorang yang
baru mekar hingga layu tetap memiliki perilaku yang baik dan harum selalu
dikenang orang lain. Janganlah tumbuh seperti bunga lain yang tak terpelihara
dijalanan setelah dipetik lalu layu dan akhirnya di buang.
Bagus bukan, namaku. Tentu, orangtua
mana yang tega memberikan doa yang jelek untuk anaknya. Hanya saja, bukan
masalah nama yang membuatku menjadi bahan omongan dan kecurigaan orang-orang
terhadapku. Aku selalu membawa kembang kenanga dimana-pun dan kapan-pun. Hal
itu tentu karena kebiasaan orangtuaku sendiri yang akhirnya menular padaku.
Tapi, so what? Itu semua semata-mata
karena harumnya dan unik bentuknya. Juga sebagai pengingatku agar berperilaku
seperti kembang kenanga.
Pernah suatu hari, saat awal masuk
SMA banyak teman baru yang kelihatannya takut untuk berteman denganku.
“Eh, boleh kenal? Dari mana?” sapaku
pada anak-anak baru di kelas SMA baru-ku.
“Iya boleh. Aku dari Surabaya. Kalau
kamu? Oh iya, namaku Iren.” Balas kenalanku ini dengan medhok.
“Aku asli Jogja. Namaku Kenanga.”
Jawab-ku lalu mengambil kembang kenanga di saku baju dan mencium harumnya.
Sesaat aku tidak sadar. Tapi ku lihat Iren melihatku aneh.
“Kenanga.. suka kenanga ya?” tanya
Iren ragu-ragu.
“Oh, iya jelas toh.” Aku masih berlarut dengan keharuman kembang kenanga yang ku
cium dari tadi. Tiba-tiba Iren pamit pergi dan meninggalkanku dengan
geleng-geleng.
Sejak saat itu, banyak dari mereka
juga sering menatapku aneh bahkan sampai bisik-bisik—tentu membicarakan diriku.
Pantaslah mereka terlihat takut bahkan memandangku aneh, karena mereka takut
ketularan aneh atau takut di santet. Aku selalu berfikir—anehkah aku? Aku hanya
mengantongi kembang kenanga dan menciumnya saat aku ingin. Ya, walaupun kadang
kelewatan sih, saat makan, saat dikelas pelajaran, saat ngobrol dengan teman
bahkan guru. Ya. Itu adalah masalahku yang sekarang tak bisa ditolelir.
Inginnya tumbuh dan berperilaku
bagai kembang kenanga, malah justru aku bersikap aneh karena kembang itu.
Selain itu banyak juga dari mereka yang menggosipkan aku kalau aku punya ilmu
gaib atau supranatural alias ilmu dukun gara-gara kembang kenanga.
Tak habis pikir, aku malah keliatan
kayak dukun jadinya. Karena kemana-mana bawa kembang kenanga. Setangkai sih gak
masalah, nah aku bawanya se kantong plastik, belum lagi yang udah ku sulap jadi
kalung.
***
Setelah beberapa tahun aku
mengurangi fanatikku pada kembang kenanga, aku pikir itu berhasil. Mereka mulai
melihatku secara normal. Walaupun aku masih menyukai kembang kenanga—kembang
yang ku pikir aku ada karenanya, beberapa dari mereka—keluarga, teman, dan
mereka yang mengenalku menerimaku yang seperti ini—aneh.
Karena aku adalah seorang
Kenanga—aku tidak akan pernah meninggalkan yang namanya kembang kenanga, walau
karenya aku bahkan di cap cewek aneh sampai sekarang.
Kembang kenanga bagiku seperti
separuh dari hidupku. Karena Kenanga menghabiskan waktunya selalu bersama
kenanga. Kenanga ya kenanga. Namaku sekaligus kembang favoritku.

