Minggu, 21 Juni 2015

Karena Kenanga Adalah Kenanga



KARENA KENANGA ADALAH KENANGA

                        Karena namaku adalah Kenanga, orang-orang mengaitkanku dengan kembang kenanga di kuburan. So, why? Kembang kenanga nggak selalu identik dengan hal-hal mistis saja. Karena menurutku, kembang kenanga itu unik. Namaku Kenanga dan aku suka sekali kembang kenanga.
            Orangtuaku memang suka dengan tanaman-tanaman dan bunga. Apalagi kenanga, banyak sekali kembang kenanga di halaman rumahku. Selain untuk hiasan, kata bapakku pohon-pohon kenanga itu dibuat untuk penjaga. Konotasinya memang mistis sih, karena keluargaku masih sangat percaya dengan hal-hal seperti itu dan fanatik adat atau “kejawen”. Sangking sukanya sama kembang kenanga, bapakku pun memberiku—sebagai anak pertama, nama Kenanga.
            Nama adalah doa. Begitu orang-orang sering bilang. Ku pikir nama Kenanga itu nggak jelek atau mistis sih, tapi nama yang cantik. Harapan dari namaku adalah ketika kelak aku sudah tumbuh remaja dan dewasa aku bisa berlaku bagai kembang kenanga, ketika ia mekar ia akan tetap berwarna hijau. Saat dipetik, bunga yang lain akan layu lalu dibuang  sedangkan kenanga justru menguning dan tambah harum dan semua mencarinya. Nah, maksudnya agar aku bisa menjadi seseorang yang baru mekar hingga layu tetap memiliki perilaku yang baik dan harum selalu dikenang orang lain. Janganlah tumbuh seperti bunga lain yang tak terpelihara dijalanan setelah dipetik lalu layu dan akhirnya di buang.
            Bagus bukan, namaku. Tentu, orangtua mana yang tega memberikan doa yang jelek untuk anaknya. Hanya saja, bukan masalah nama yang membuatku menjadi bahan omongan dan kecurigaan orang-orang terhadapku. Aku selalu membawa kembang kenanga dimana-pun dan kapan-pun. Hal itu tentu karena kebiasaan orangtuaku sendiri yang akhirnya menular padaku. Tapi, so what? Itu semua semata-mata karena harumnya dan unik bentuknya. Juga sebagai pengingatku agar berperilaku seperti kembang kenanga.
            Pernah suatu hari, saat awal masuk SMA banyak teman baru yang kelihatannya takut untuk berteman denganku.
            “Eh, boleh kenal? Dari mana?” sapaku pada anak-anak baru di kelas SMA baru-ku.
            “Iya boleh. Aku dari Surabaya. Kalau kamu? Oh iya, namaku Iren.” Balas kenalanku ini dengan medhok.
            “Aku asli Jogja. Namaku Kenanga.” Jawab-ku lalu mengambil kembang kenanga di saku baju dan mencium harumnya. Sesaat aku tidak sadar. Tapi ku lihat Iren melihatku aneh.
            “Kenanga.. suka kenanga ya?” tanya Iren ragu-ragu.
            “Oh, iya jelas toh.” Aku masih berlarut dengan keharuman kembang kenanga yang ku cium dari tadi. Tiba-tiba Iren pamit pergi dan meninggalkanku dengan geleng-geleng.
            Sejak saat itu, banyak dari mereka juga sering menatapku aneh bahkan sampai bisik-bisik—tentu membicarakan diriku. Pantaslah mereka terlihat takut bahkan memandangku aneh, karena mereka takut ketularan aneh atau takut di santet. Aku selalu berfikir—anehkah aku? Aku hanya mengantongi kembang kenanga dan menciumnya saat aku ingin. Ya, walaupun kadang kelewatan sih, saat makan, saat dikelas pelajaran, saat ngobrol dengan teman bahkan guru. Ya. Itu adalah masalahku yang sekarang tak bisa ditolelir.
            Inginnya tumbuh dan berperilaku bagai kembang kenanga, malah justru aku bersikap aneh karena kembang itu. Selain itu banyak juga dari mereka yang menggosipkan aku kalau aku punya ilmu gaib atau supranatural alias ilmu dukun gara-gara kembang kenanga.
            Tak habis pikir, aku malah keliatan kayak dukun jadinya. Karena kemana-mana bawa kembang kenanga. Setangkai sih gak masalah, nah aku bawanya se kantong plastik, belum lagi yang udah ku sulap jadi kalung.
***
            Setelah beberapa tahun aku mengurangi fanatikku pada kembang kenanga, aku pikir itu berhasil. Mereka mulai melihatku secara normal. Walaupun aku masih menyukai kembang kenanga—kembang yang ku pikir aku ada karenanya, beberapa dari mereka—keluarga, teman, dan mereka yang mengenalku menerimaku yang seperti ini—aneh.
            Karena aku adalah seorang Kenanga—aku tidak akan pernah meninggalkan yang namanya kembang kenanga, walau karenya aku bahkan di cap cewek aneh sampai sekarang.
            Kembang kenanga bagiku seperti separuh dari hidupku. Karena Kenanga menghabiskan waktunya selalu bersama kenanga. Kenanga ya kenanga. Namaku sekaligus kembang favoritku.

Titik Dua Tutup Kurung



TITIK DUA TUTUP KURUNG

            Bahagia adalah hal yang di idamkan setiap orang. Begitupun aku. Aku selalu mencari cara agar diriku bisa bahagia seperti orang-orang. Walaupun aku sadar, hidup itu gak selamanya bahagia ataupun sedih. Kehidupan berputar seperti roda.
            Setiap hari saat berangkat kuliah, aku selalu mengembangkan senyumku ketika memandang hamparan pemandangan hijau dan merasakan udara yang masih asri di daerah pegunungan sekitar rumahku—kecuali saat siang dan terik tetapi hawanya masih sejuk. Setidaknya tinggal di daerah pegunungan selalu membuatku tentram dan tak henti-hentinya berdecak kagum pada ciptaan-Nya sambil tersenyum. Ah, aku jadi merasa GR kala teman-temanku selalu menjuluki aku, si Manis yang humble.
            Memang benar, aku adalah orang yang mudah bergaul dan termasuk cerewet, hehe. Itulah aku, tidak ada hari tanpa menyapa teman saat sekedar berpapasan atau bertemu. Hal ini juga yang selalu di tanyakan Luna—teman dekatku di kampus ini.
“Hai Ndah, sini!” Luna memanggilku yang baru sampai kampus untuk gabung duduk di sampingnya pas di kelas.
“Oke! Udah dari tadi Lun?” tanyaku basa-basi.
“Ya, lumayan lah! Eh Lun, bentar lagi pinjem duit buat bayar kas dan uang arisan ya? Please! Soalnya uangku ketinggalan. Hehe, Indah kan baaiiik... banget!” teman-teman yang kenal dekat atau sekedar kenal emang gak pernah sungkan minta tolong padaku. Akupun dengan senang hati dan sukarela nolongin mereka, karena aku selalu berpikir—saat aku dalam keadaan tersebut, kan tega kalau gak di tolongin.
“Iya, iya beres!” jawabku mengacungkan jempol.
“Ih, Indah memang si Manis yang humble nan baik hati. Hehe, ngomong-ngomong, kenapa sih kamu selalu nolongin mereka—termasuk aku gini, karena gak semua orang mengiyakan, dan selalu bisa seperti kamu loh Ndah!”
“Ya, kita kan emang harus tolong menolong bukan? Aku mikir aja, kalau pas aku diposisi itu bagaimana kalau tidak ada yang menolong. Lagian selama aku bisa kenapa tidak? Kamu juga gitu dong Lun. Jangan Cuma minta tolong terus!” jelasku dan sedikit menyinggung.
“Ye, iya... iya... nyindir nih ceritanya!” ku lihat Luna memanyunkan bibir tipisnya, dan aku hanya membalasnya dengan tertawa.
***
            Beberapa hari ini, keluargaku dalam masalah. Entah mengapa hari-hariku mulai terasa berat. Aku membutuhkan support. Bahkan, uang jajan bulananku tak diberikan. Aku mengerti orang tuaku dalam masa sulit, jadi aku diam saja. Tapi, uang ditabunganku-pun menipis. Aku seperti hampir kehilangan diriku yang ceria. Untuk saat ini, lagi-lagi  hamparan pemandangan di sekitarku saja yang membuatku tersenyum.
            Ku pikir, aku mungkin bisa curhat atau minta masukan dan nasehat pada teman-teman. Aku-pun berangkat ke kampus, dengan harapan mendapat hiburan dan semangatku menyala kembali. Tapi saat tiba disana, dan aku mulai bercerita hasilnya nihil.
            Aneh, awalnya mereka menanggapiku, tapi lama-lama mereka justru ninggalin aku begitu saja. Ada yang bilang keburu masuk, ada yang bilang sibuk, ada juga yang awalnya dengerin dengan seksama, tapi ujung-ujungnya bilang, ‘Sori ya Ndah, kita gak ngerti harus gimana!’.  Aku hanya mendesah pelan, dan membalas mereka dengan senyuman, tak lupa aku bilang terimakasih. Setidaknya ada yang mau mendengarkan masalahku.
            Saat berada pada keadaan yang seperti ini. Sedih sih, kecewa apalagi. Ternyata sulit cari teman sejati. Teman yang bukan hanya ada saat butuhnya saja dan ngilang saat teman yang lain butuh. Ah, benar-benar. Aku hanya bisa tersenyum kecut seperti ini. Entahlah sampai kapan. Mungkin sampai keuangan keluargaku normal.
            Menanggapi masalahku sendirian seperti ini, aku kan jadi belajar. Bahwa, tidak semua orang yang kita temui itu baik juga sebaliknya. Kita memang hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Sebisa mungkin aku hanya menanggapi mereka yang ada saat butuh, hanya dengan senyum termanisku, hehe. Yang peduli sama aku? Ada kok tenang aja, bu dosen wali-ku, orangtuaku, mereka ternyata masih mensupportku belakangan ini, dan selalu berpesan, “Indah namamu, Indah parasmu, kamu-pun harus punya kepribadian yang Indah. Berikan senyummu untuk dunia agar dunia ikut tersenyum bersamamu..” intinya sih seperti itu pesan mereka.
            Tidak apa-apa kalau orang lain tak mau menolongku. Aku hanya akan membalasnya dengan senyumanku, titik dua tutup kurung. Itu saja. Ketika mereka menolak secara langsung atau bahkan dengan media, seperti SMS atau chatting. Tetep, aku selalu pakai emoji titik dua tutup kurung.
END