My Old Girlfriend
Distrik
Dongdaemun, Seoul, Maret 2015.
Aku
melihat wanita itu di balik kaca kafe melambaikan tangannya, wanita yang selalu
memberikanku senyum tulusnya. Sikapnya yang lembut dan telaten menghadapiku
yang sedikit tempramen. Yah, dia adalah kekasihku sejak tiga bulan lalu, dia
juga musuh bebuyutanku—Lee Kang Joo. Wanita yang lebih tua tiga tahun dariku,
adalah kekasihku. Tapi, tidak untuk
sebentar lagi.
“Yak!
Kenapa kau mengacuhkanku? Aku memanggilmu dari tadi.” Lee Kang Joo mendaratkan
pantatnya pada kursi didepanku.
“Heh.
Apa harus?” kataku terkesan dingin.
“Mwo?[1]
Aishh.. kenapa kau akhir-akhir ini aneh padaku?” aku menyesap kopi yang ku
pesan tadi dalam-dalam, Lee Kang Joo menatapku penuh tanya. Aku memang
akhir-akhir ini mengabaikannya karena harus menyelidiki kebenaran yang ku dapat
dari teman, bahwa ia adalah Oh Soo Soon, gadis yang membully-ku waktu SD sampai aku benar-benar trauma dan sialnya dia
juga yang menyembuhkan segala traumaku.
“Wae?[2]
Apa yang kau ingin Kang Joo-ya?” aku memutar-mutar cangkir kopiku, dan
menatapnya intens—mata hitam pekat yang selama ini membuatku gila karenanya.
“Maaf.
Apa maksudmu?” aku melihat kilatan matanya menantang.
“Bagaimana
bisa, kau Oh Soo Soon. Gadis yang selama ini paling ku benci. Dan kau melakukan
kesalahan lagi, Soon-ah!” aku bergetar, menunjuk wajahnya sambil berteriak,
rasanya ingin goyah. Betapa aku sangat menyayangi wanita yang paling ku
benci.
“Ne! Ne! Ne![3]
Itu adalah aku. Sekarang apa maumu. Kau ingin mengakhirinya? Baiklah, tapi kau
harus tau satu hal. Aku, benar tulus mencintaimu. Bukan memanfaatkanmu!” mata
itu kini mengeluarkkan mutiara beningnya, yang tidak ku sukai dari seorang
wanita ketika ia menangis. Ia lalu beranjak pergi meninggalkanku sendirian.
Yah, kita sudah berakhir. Tapi, ini belum selesai. Masih banyak tanya yang
menggelayut di pikiranku. Ia tak seharusnya meninggalkanku dalam diam dan emosi
seperti ini.
***
Ia masih disini. Menemaniku belajar,
mengajarkan apa yang ia bisa kepadaku, tahun ini aku harus lulus. Tapi, aku
benar-benar tak bisa bersikap seolah tak terjadi apa-apa, OMO![4]
Apa yang harus ku lakukan. Bagaimana ia benar-benar santai saat ini. Sial!
“Heh,
Heung Soo-ya. Tetaplah konsentrasi, bahkan ujianmu kurang dari sebulan. Dan kau
masih saja tak ada perubahan!” Lee Kang Joo melipat tangan didada. Dan aku
mengerjakan latihan soal.
“Aish.
Kau berisik sekali Kang—anio[5].
Soon-ah!” aku berkata tanpa menoleh sedikitpun dan sibuk dengan soal-soalku. Ku
dengar ia berdecak dan mendengus kesal. Aku ingin semua terbuka dan ia mau
mengakui kesalahannya, bukan mendiamkanku dan memusuhiku. Dasar keras kepala! Batinku.
Setelah selesai belajar. Aku
meninggalkannya yang beberes di meja. Aku benar-benar muak dengan situasi itu.
Samar-samar ku dengar ia memanggilku.
“Heung
Soo-ya. Bisakah kita berbicara sebentar?” aku menghentikan langkahku tanpa
berbalik.
“Aku..
sudah siap menceritakan semua padamu. Aku mohon ...” suara itu terdengar lirih,
aku mendengarnya samar-samar. Aku lalu menghampirinya.
“Katakan
dan ceritakan saja.”
“Hemh..”
ia mendesah pelan, memulai bercerita, aku hanya mengernyit.
“Heung
Soo-ya, mianhaeyo[6]
! Aku sangat menyesal melakukannya waktu SD. Aku tidak tau kalau ternyata
dampaknya begitu buruk terhadapmu. Dan aku tak tau menahu sejak aku lulus SD,
ternyata kau menyimpan trauma yang dalam. Aku pasti sangat jahat waktu itu.”
Aku mendecih dan tersenyum kecut, sekarang
kau mengakui heh? Seruku dalam hati.
“Heung
Soo-ya, saat itu aku memang anak nakal yang suka membully anak yang lemah. Karena apa, aku tak suka dengan mereka yang
lemah. Aku hanya tinggal bersama ayahku sejak kecil, aku tak tau dimana ibuku.
Ayahku, dia orang yang keras, dia tak mau melihatku lemah atau bahkan menangis dihadapannya.
Kalau tidak dia tak segan memukulku ...” sejenak aku terkejut.
“sampai
suatu hari saat aku kelas 7 di sekolah menengah, dia meninggal dan aku tinggal
di rumah nenek, di pulau Nami. Sejak saat itu nenek mengganti namaku menjadi
Lee Kang Joo, karena menurut perhitungannya nama Oh Soo Soon—nama yang di
ciptakan oleh almarhum ayahku, menciptakan banyak kesialan. Saat itulah aku
mulai berubah, menjadi Lee Kang Joo yang lemah lembut dan feminim.”
“Lalu,
apa kau tau siapa aku?”
“Awalnya
tidak. Tapi setelah lama aku mulai menyadarinya, aku mengingatnya. Aku ingin
mengatakannya, tapi.. kupikir kau pasti akan marah, aku berpikiran kalau kau
memang sebaiknya melupakan Oh Soo Soon, karena dia sudah tak pernah ada. Dan
lagi, perasaan itu.. seharusnya tak pernah muncul. Kau bahkan lebih muda
dariku, dari dulu kau juga kurang ajar padaku karena tak pernah memanggilku noona[7].”
“Bagaimana
mungkin aku bisa memanggilmu noona.
Kau orang yang ku benci. Kau juga orang yang kucintai saat ini. Terimakasih
sudah bercerita padaku, walaupun telat. Itu semua tak bisa mengubah
keputusanku. Besok adalah les terakhir sebelum ujian. Dan ku harap itu
pertemuan terakhir kita noona! Selama
itu aku akan mengormatimu sebagai noona.
Setelah itu, aku harap kita takkan pernah bertemu lagi.” Ku dengar ia menghela
nafas panjang. Aku-pun merasa sesak didada. Keputusanku sudah bulat. Aku ingin
mengakhiri semuanya saja. Rasanya benar-benar menyakitkan mengetahui kenyataan.
Ingin rasanya aku tak mengetahui identitasnya.
***
Satu hari itu benar-benar kuhabiskan
waktu terakhirku dengannya. Aku bahkan memanggilnya, noona. Dia mengajakku belajar di luar. Kita pergi ke sungai Han,
menikmati senja sore—sampai malam menyapa. Tak terasa waktu cepat berlalu.
“Heung
Soo-ya!” ia memecah keheningan.
“Ne?” jawabku lirih.
“Gomawoyo[8]. And anyeong
gyeseyo[9]!”
ia memejamkan mata hitamnya. Setelah mengucap sala perpisahan. Ia pergi
meninggalkanku dalam diam.
Sejak malam itu, aku tak pernah lagi
bertemu dengannya, aku bahkan tak ada kontak dengannya. Semua nomornya yang
bisa di hubungi mendadak salah sambung, dan apartemen yang biasa ia tinggali
pun juga kosong. Mungkin sampai disini ternyata kisah cinta pertamaku.
Benar-benar menyakitkan. Aku dengan keegoisanku, melepasnya begitu saja. Aku benar-benar
bodoh. Padahal aku sangat mencintainya.
