Kamis, 04 Januari 2018

YOLO

 YOLO (You Only ­Loving Life Once)


       Malam semakin larut, bulan pun tak nampak karena mendung. Angin malam semakin kencang menerpa tubuh gadis bernama Jasmine. Dengan langkah gontai menyusuri jalanan malam di kotanya. Kejadian tadi membuatnya tak mampu melangkah tegak. Jasmine yang biasanya penakut pun tak mempedulikan keadaan sekitar yang mulai sepi. Karena ia merasa tak sanggup, ia memutuskan untuk singgah sebentar di tepi jalan. Sejenak ia terduduk dan air mata yang ia tahan pun pecah. Ia menangis sejadi-jadinya di tengah malam yang sepi, di pinggir kota.
       Sudah beberapa menit Jasmine menangis, ia tak peduli pandangan orang yang terlihat beberapa masih berlalu lalang, ada yang bersimpati, ada pula yang acuh. Jasmine mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, lalu orang-orang meninggalkannya.
       “Tengah malem nangis gini… dengan pakaian seperti ini… pasti abis main ya sama om om, sebenarnya gak mau.. tapi karena butuh duit jadi kepaksa deh!” tiba-tiba ada suara berat yang menyapa Jasmine dan berkata seenak jidat. Jasmine yang tak terima itu pun hanya bisa terperangah dengan kata-kata pemuda kasar itu.
       PLAKK! Tanpa peduli siapa pemuda di depannya itu, Jasmine menampar pemuda itu dengan keras. Jasmine menggeram, gerahamnya mengeras, tangannya mengepal.
       “Jaga mulut lo ya!” Jasmine mengacungkan jari telunjuknya kepada pemuda itu.
       “Woho.. sanss aja mbak! Kalau saya salah, ya maaf deh.” kata pemuda itu dengan santai.
       Karena merasa di ganggu pemuda itu, Jasmine memutuskan untuk pergi meninggalkan pemuda itu sendirian.
       “Mbak. Mbak jangan pergi! Saya temenin! Bahaya mbak!” pemuda yang tadi biasa aja itu mengejar Jasmine dan gesture nya seperti orang khawatir.
       Dapat beberapa langkah, Jasmine menghentikan langkahnya setelah ia tadi mengacuhkan pemuda tadi. Sendi-sendinya seakan matirasa, matanya memandang nyalang, badannya bergetar. Tepat dihadapannya ada sekumpulan preman yang sedang pesta miras, jalan itu sempit dan dipenuhi oleh mereka, terlalu dekat untuk melangkah kembali, dan terlalu takut untuk lari. Para preman itu pun menyadari kedatangannya. Jasmine masih terpaku di tengah jalan, dua orang preman menghampirinya dalam keadaan mabuk. Jasmine tak mampu bergerak, namun tiba-tiba.
       GREB! Pemuda tadi segera menarik lengan Jasmine dengan kuat sebelum preman-preman itu mengejarnya, Jasmine yang tersadar mengikuti langkah pemuda itu. Mereka lari tunggang langgang.
       Mereka pun terus berlari walaupun sudah ngos-ngosan, sampai dirasa keadaan aman. Sesekali mereka melihat ke belakang, apakah mereka masih dikejar. Mereka pun berhenti di sebuah persimpangan dengan ngos-ngosan.
       “Hossh… hossh.. lo nggak pa-pa kan?” tanya pemuda itu, Jasmine mengangguk karena ia juga lelah.
       Mereka pu memilih selonjoran di depan toko yang tutup sambil kipas-kipas.
       “Eh, ikut gue deh bentar!” ajak pemuda itu sambil mengulurkan tangannya.
       “Ha? Kemana?” tanya Jasmine heran.
       “Cari minum!” jawab pemuda itu, Jasmine pun berdiri dan mengacuhkan tangan pemuda itu. Mereka berdua berjalan bersama. Sampai tiba di toserba 24 jam.
       Mereka memutuskan untuk duduk di gazebo yang disediakan toko sambil menenggak habis minum yang pemuda itu beli.
       “Lo haus bener kayaknya!” sindir pemuda itu, Jasmine hanya melirik.
       “Yang barusan, makasih.” Kata Jasmine akhirnya. Sejak tadi rupanya ia masih syok berat, bahkan ia tak mampu hanya sekedar berkata-kata, harinya benar-benar sial.
       “Oke, no problem!” jawab pemuda itu dengan senyum tulusnya.
       “Gue Jasmine.” Kali ini Jasmine mencoba berbaik hati, ia mengulurkan tangannya terlebih dahulu.
       “Oh, tahu kok! Gue Azzof.” Pemuda itu tersenyum ramah.
       “Kok bisa?” tanya Jasmine heran.
       “Em.. jadi gini, lo pacarnya si Devan itu kan? Pas itu, gue sama temen-temen gue di undang Devan di acara partynya. Nah, gak tahunya ada kejadian seperti tadi, karena kacau banget setelah Devan ngelakuin itu ke elo, gue putuskan buat balik duluan. Eh, di tengah jalan gue lihat lo lari-larian sambil nangis, ya udah gue ikutin, dan gue lihat di gang depan pas kita ketemu itu emang tempat nongkrongnya preman-preman kalo malem, jadi gue khawatir lo jalan kesana, eh ga taunya malah iya. Dan sorry banget buat kata-kata kasar gue tadi. Gue gak maksud banget kok kayak gitu.”
       “Jadi? Lo lihat Devan mutusin gue. Dan sialnya dia mutusin gue di depan banyak orang, dan apa dia bilang, lebih milih cewek lain. dasar bangsat!” Jasmin pun mengingat kejadian tadi yang menurutnya sangat mengecewakan dan membuatnya marah itu.
       “Bukannya Devan terkenal playboy ya? Gak kaget sih gue.” Sahut Azzof.
       “Emang bener-bener bangsat tuh orang. Ngapain gue nangis gara-gara dia, najis! Dan gara-gara dia juga, gue gak tahu gimana nasib gue kalo gue di ganggu preman itu. Bisa-bisa pulang tinnggal nama, huh! Untung ada lo deh!” kata Jasmine, Azzof hanya balas senyum.
       “Terus? Lo mau pulang? Rumah lo dimana?” tanya Azzof.
       “Eng.. sebenarnya, gue udah bohong sama ortu gue, kalau gue lagi nginep di rumah Alesyia temen gue. Dan gue gak mungkin pulang dini hari kayak gini.” Kata Jasmine sambil menunduk karena menyesal.
       “Oh, oke. Jadi lo bela-belain bohong Cuma gara-gara si cecunguk itu?” kekeh Azzof tak habis pikir.
       “Ya, oke gue salah. Yang penting bukan itu sih. Gue harus kemana ini? Apa gue ke masjid gitu terus pura-pura jadi musafir aja ya?” kata Jasmine dengan ide konyolnya itu di balas kikikan geli si Azzof.
       “Hahaha, jangan ah. Ini udah dini hari, dan pakaian lo.. kayaknya malah dikira mbak-mbak gak bener deh lo.” Azzof berkata sambil melirik penampilan Jasmine yang berlebihan, dengan make up tebal yang mascara dan eyelinernya sudah luntur, serta gaun yang lumayan terbuka walaupun roknya gak pendek, tapi bahunya terpampang.
       “Ah, trus gimana ya?” Seperti kebiasaan Jasmine saat panic, bingung, atau takut ia akan menggiggit kuku jarinya sambil menatap cemas.
       Azzof mendesah pelan. Ia pun membuka jaket boombernya dan mengenakannya pada Jasmine yang masih menggiggit kuku jarinya.
       “Eh, lo apaan. Gak usah!” tolak Jasmine, namun Azzof tetep maksa.
       “Lo harus pakai ini. Lo mau orang-orang mikir lo yang enggak-enggak? Lagian sekarang dingin loh Min. entar lo sakit.” Kata Azzof dengan perhatian. Ia terlihat tulus.
       “Ah, emang gue sakit kok. Sakit hati!” cetus Jasmine dengan muka kesalnya.
       “Em, gini deh Min. lo ikut gue ke kosan temen gue aja.” Kata Azzof sambil menimbang-nimbang.
       “Ha? Temen lo cewek atau cowok?” tanya Jasmine sedikit khawatir.
       “Cowok sih ta—“ belum sempat melanjutkan kata-katanya, Jasmine sudah menyela.
       “Apa? Lo gila? Gue gak mau ah! Mending gue ngegelandang deh daripada lo nyuruh ke kosan temen lo, lo pasti ngerencanain sesuatu kan? Ngaku deh lo?” cerocos Jasmine yang merasa curiga dengan Azzof.
       “Yaelah. Enggak Min. gue belum selesai ngomong kali. Kita ke kosan temen gue buat minjem motornya, terus kita ke tempat, dimana lo bisa istirahat disana dan gue jamin bukan kosan cowok atau tempat yang bahayain lo kok, disana aman. Yakin gue!” jelas Azzof yang kemudian dirasa oke oleh Jasmine.
       Setelah Jasmine menyetujui ajakan Azzof. Mereka pun berjalan menyusuri gang gang sempit di tepian kota. Katanya itu adalah jalan pintas terdekat menuju kosan teman Azzof, setelah sebelumnya Azzof telah menelpon temannya dan menanyakan keberadaannya.
       Sepuluh menit kemudian mereka sampai di sebuah komplek perumahan yang rata-rata isinya kos-kosan, biasanya mahasiswa Universitas “N” ngekos disitu.
       “Eh, Jasmine kita masuk aja. Gak pa-pa kok Cuma bentar.” Kata Azzof, Jasmine mengikutinya dari belakang.
       Sampai di beranda, Jasmine memilih menunggu dan duduk di beranda. Azzof langsung masuk rumah, karena tidak di kunci, dan sepertinya ia sudah biasa main kesini.
       Tak lama kemudian, Jasmine mendengar beberapa laki-laki yang berbincang, satu diantaranya adalah suara Azzof. Setelah mereka ber “oke” ria terdengar Azzof yang pamit dengan buru-buru.
       “Ah, lama ya? Sorry!” kata Azzof saat keluar dan membawa sebuah kunci motor.
       “Enggak kok.” Kata Jasmine datar, rupanya Jasmine sudah mulai merasa lelah dan kantuk melandanya, sesekali ia menguap.
       “Eh, udah hampir jam dua pagi aja nih. Ya sudah yuk!” Azzof segera mengambil salah satu motor di garasi dan dituntunnya sampai depan.
       Azzof mulai menyalakan motornya, dan menyuruh Jasmine naik. Jasmine yang memakai rok pun terpaksa bonceng miring.
       Azzof segera melajukan motornya dengan kencang membelah kesepian pagi buta itu. Jasmine yang sesekali terkaget karena ia benar-benar mengantuk tersentak, Azzof yang tersadar itu memelankan lajunya. Ia jadi tidak tega, Azzof segera menarik lengan Jasmine untuk berpegangan pada perutnya dengan erat. Awalnya Jasmine sempat kaget dan menarik kembali, namun Azzof berkilah dan bilang agar dia tak terjatuh, Jasmine lalu menurutinya. Dan benar saja—bahkan ia mulai memejamkan matanya, karena pegangan Jasmine mengendor, Azzofpun memegangi dengan satu tangannya agar tidak jatuh.
       Jauh dibawah alam sadarnya, Jasmine tersadar, di sela-sela kantuk yang menyergap ada sesuatu yang berdesir. Namun sesekali ia mengenyahkan pikiran itu.
       Disisi lain, Azzof yang berinisiatif memegangi lengan Jasmine itu pun merasa gugup. Ia merasa bersalah dan juga senang di waktu yang sama, sungguh ia tak maksud untuk memodusi Jasmine. Ia segera melajukan motornya kencang.
       Lima belas menit kemudian meraka sampai di sebuah perkampungan di pinggiran  kota. Azzof menghentikan motornya tepat disebuah rumah kuno, ia segera mengguncangkan tubuh Jasmine untuk membangunkannya.
       “Eh, udah sampai ya?” tanya Jasmine yang baru sadar. Azzof hanya tersenyum mengangguk.
       “Ayuk!” Azzof menuntun Jasmine yang sepertinya masih mengantuk berat, sampai mereka tiba di depan pintu rumah.
       Azzof mengetuk rumah itu. Tak lama kemudian seseorang ibu-ibu paruh baya membuka pintunya dan menyapa Azzof.
       “Loh, den Azzop kok kesini subuh-subuh gini?” tanya ibu itu sambil memandangin Jasmine yang tampak kusut.
       “Duh, ceritanya panjang mbok. Azzof boleh minta tolong nggak?” tanya Azzof, ibu-ibu yang di panggil mbok itu pun mengiyakan.
       “Mbok, ini temen Azzof kena musibah, dan dia masih belum berani pulang. Jadi Azzof minta tolong mbok, buat si Jasmine ini istirahat disini sampai nanti setelah dia merasa baik, gimana mbok?”
       “Oalah den, ayok masuk. Masuk neng! Maaf loh, rumah mbok ini jelek. Neng kalau istirahat di kamar tamu depan ini ya?” ajak si mbok itu. Awalnya Jasmine sungkan, tapi Azzof maksa dan bilang tidak apa-apa. Si mbok adalah yang biasa bantu-bantu di rumah sejak Azzof bayi, tapi karena rumahnya dekat, jadi si mbok tidak menginap, ia akan pulang ketika kerjaannya beres.
       “Makasih ya mbok, udah ngizinin Jasmine nginep sini.” Tutur Jasmine. Si mbok lalu mengajak Jasmine istirahat dikamar, setelah subuhan tentunya.
       Azzof masih menunggu di ruang tamu, sesekali ia tiduran di kursi kayu si mbok. Awalnya si mbok menyuruhnya untuk tidur di kamar si mbok, soalnya si mbok mau ke pasar dan ke rumah Azzof untuk bersih-bersih. Tapi Azzof menolak dan memilih tiduran di kursi, ia khawatir dengan Jasmine, jadi ia menunggunya sambil tiduran.
       Namun Azzof sama sekali tidak bisa tidur. Pikirannya nyalang. Pertemuannya dengan Jasmine sangat mengesankan. Entah mengapa ia begitu gugup saat ini. Azzof merasa gelisah dan tak tenang. Azzof sesekali juga melirik kamar yang terbuka sedikit di tempat Jasmine tidur. Ia merasa lega melihat Jasmine tertidur begitu pulasnya. Sampai akhirnya perlahan ia terpejam.
       “Den! Den Azzop! Bangun den! Den…” si mbok yang telah selesai urusannya membangunkan Azzof yang tertidur.
       “Ahh.. iya mbok, jam berapa ini?” tanya Azzof dengan nada serak sangking capek dan ngantuknya.
       “Jam 11 den!” jawab si mbok.
       “Apa? Jasmine udah bangun mbok?” Azzof membelalakkan matanya dan terduduk.
       “Ya itu den, si mbok pulang neng Jasmine nya udah nggak ada. Cuma nemu tulisan ini.” Si mbok menyerahkan se carik kertas pada Azzof.
       Azzof membaca dengan keras isi surat tersebut.
       “Maaf Zof, aku nggak tega bangunin kamu tidur, abis pules bener. Oh ya! Aku harus segera pulang. Maaf nggak pamit dan nggak nunggu kamu bangun atau si mbok pulang, terimakasih atas semua bantuanmu semalam, dari Jasmine.”
       Azzof segera keluar rumah dan mencari sekeliling, namun hasilnya nihil. Mungkin Jasmine sudah sampai dirumah, atau Jasmine sudah jauh entah kemana. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasa sesak.
       “Oh no! what happen to my heart?” kata Azzof sambil mengerang memegangi dadanya.
***
       Sejak pertrmuan singkatnya dengan Jasmine, Azzof semakin tidak tenang karena perpisahan yang begitu cepat bahkan tanpa salam perpisahan. Itu membuat Azzof gelisah. Beberapa kali ia mencoba mencari Jasmine di kampus, mungkin dia sekampus. Ia juga beberapa kali mendatangi Devan mantan pacar Jasmine, tapi malah di bohongin. Azzof tidak tahu mengapa ia benar-benar ingin menemukan Jasmine, mungkin rindu? Entah, Azzof bahkan tak tahu.
       Sampai akhirnya teman Devan yang saat itu melihat Azzof kekeh bertanya alamat rumah Jasmine namun tak membuahkan hasil itu menghampiri Azzof.
       “Elo masih butuh alamat Jasmine?” tanya teman Devan. Azzof mengangguk pasti.
       “Sorry, sebenranya gue tahu alamatnya. Tapi gak bisa kasih tahu elo pas di depan Devan.” Katanya.
       “Iya, gak pa-pa. ayo kita cari tempat aman. Gimana kalau di samping Lab anak biologi. Gue cabut kesana dulu, lo susul ya?” perintah Azzof. Teman Devan pun mengikutis setelah beberapa saat.
       Sesampainya keduanya di samping Lab, si teman Devan memberikan secarik kertas berisi alamat tinggal Jasmine, setidaknya itu alamat yang pernah ia tahu saat mereka sering hang out bareng.
       Segera Azzof cabut dari kampusnya dan bergegas menuju alamat tersebut. Sesekali ia memastikan alamat yang ditulis tersebut cocok atau tidak.
       Sampai akhirnya Azzof tiba di sebuah perumahan sederhana sih, dan melihat nomor yang tertulis sama persis. Blok B 29. Ia segera memencet bel.
       ting tong!” seseorang wanita paruh baya membuka pintu rumah.
       “Mau cari siapa ya?” tanya ibu itu.
       “Maaf buk, ini bener rumahnya Jasmine?” tanya Azzof.
       “Jasmine? Ada apa ya dengan anak saya? Ada perlu apa?” tanya ibu yang rupanya ibu Jasmine itu sedikit panic.
       “Oh, bukan buk. Saya temennya ada perlu nya sama dia.” Kata Azzof sambil meringis. Kemudian ibunya masuk dan memanggil Jasmine. Azzof masih menunggu di beranda. Beberpa saat pun Jasmine keluar.
       “Azzof?” pekiknya.
       “Hai!” sapa Azzof meringis.
       Mereka pun mengobrol untuk waktu yang lama. Azzof dengan gambling mengungkapkan perasaanya. Ia dengan jelas mengatakan bahwa mungkin dirinya memiliki rasa pada Jasmine, itu lah yang memotivasi dirinya untuk menemukan Jasmine. Ia tidak ingin hidup dalam kesia-siaan. Karena baginya hidup hanya sekali dan apa yang ia impikan setidaknya harus ia usahakan termasuk masalah hati, ia hanya akan mencintai seseorang sekali kecuali jika ia harus di selingkuhi atau di bohongi, Azzof bukan playboy, bahkan ia hanya memiliki satu mantan yang dulu sangat ia cintai namun di tinggal selingkuh. Dan sejak saat itu ia tak pernah benar-benar mencintai seorang gadis sampai segelisah ini. Sedangkan Jasmine yang mengetahuinya pun lumayan syok dan tidak percaya, namun jauh di dasar hatinya ia merasakan hal yang sama.

THE END

Kamis, 28 Desember 2017

GUESS WHO? (CHP. 1)

GUESS WHO ?



      Hai namaku Atiqah. Tapi biasa di panggil Tiqa pake “q” bukan “k”. oke aku tidak akan membuat tulisan ini menjadi berat dengan drama mellow-melownya author selama ini. Kayaknya author juga cape dan ikutan nyesek lama-lama kalu bikin cerita bergenre drama. Lalu apakah kali ini author membuat tulisan bergenre komedi? Tanya aja sama author, Tiqa disini Cuma di tugasin sebagai pemeran utama wanita (cieileeehh) dan berhak menjadi POINT OF VIEW  utama.
      Oke kembali ke cerita Tiqa. Karena disini Tiqa bebas menghiasi tulisan yang author pikirkan. Oke? Jadi Tiqa bakalan sedikit berkisah (duileehh.. berasa seorang pendongeng Tiqa tuh :P).
      Suatu hari di bulan April. Tiqa melihat seorang cowok (ciee, Tiqa first shigt nih?). duh si author ikut-ikut aja sih? Udah diem! Oke gays, kembali ke cerita Tiqa. Jadi, Tiqa melihat seseorang yang memang taka sing, tapi asing. Kok bisa? Ya maka dari itu Tiqa juga bingung.
      Emang bener sih kata author, Tiqa first shigt gitu. Gimana enggak abis orangnya bening gitu (yaelaahhh.. aer kali yaa bening :P). liat aja hati rasanya adem, astaghfirullah maaf Tiqa khilaf ya?
      Nah pertanyaan Tiqa adalah. Tiqa nggak tahu siapa dia. Tapi kenapa bisa hadir di acara kakakku. Ia menghadiri pernikahan kakakku dan akrab dengannya, apa mungkin temannya? Dia bahkan terlihat jauh lebih muda dari kakakku. Perlu diketahui, kakak ku bernama Ikmal. Dia menikah di usia 27 tahun. Jarakku dengan kakak sekitar 5 tahunan, aku kini berusia 22 tahun.
      Oke balik lagi. Aku mengamati cowok itu dari jauh. Sempet sok sok caper sih, tapi kayaknya gak ngaruh ya? Iyalah siapa sih aku Cuma butiran upil yang kagak berguna dan gaenak di pandang… hikss.. hikkss.
***
      Suatu saat setelah pernikahan kakakku berlalu. Aku memberanikan bertanya pada kakaku yang sebenernya rese’ itu.
      “Mas Mal! Tiqa mau tanya dong!” tanyaku pada kakak.
      “Apa Tiq?” katanya.
      “Mas ini temennya mas ya?” aku menunjuk foto pernikahannya yang ada cowok itu.
      “Oh si Andovi? Dia anak baru di tempat mas kerja Tiq. Kenapa nih nanya-nanya?” curiga kakakku.
      “Oh, gak pa-pa mas. Kayak gak asing aja.” Sahutku cuek.
      “Oh iya. Dia kayaknya sih sepantaran sama kamu Tiq.” Jelas kakakku.
      “Masak mas? Kelihatannya emang masih muda juga sih.” Kataku.
      “Mungkin. Mas juga gak tahu, hehe soalnya mask an udah dipindah ke devisi lain, jadi mas udah jarang ketemu dia.” Cerita kakakku.
      Aku pun mengakhiri obrolanku dengannya setelah itu. Masih penasaran sih, siapa gerangan dia ini ya? Duh ayo dong thor kasih tahu Tiqa, siapa si do’I ini jadi Tiqa gak perlu nulis banyak-banyak buat mengasumsikan si do’I ini. Heheh.
***
      Beberapa bulan kemudian. Tiqa udah gak penasaran lagi sama si siapa kemarin dah ya? Aa.. si And… Ando..vi. yah, si Andovi itu. Karena Tiqa pikir, Tiqa hanya penasaran, jadi setelah tahu yaa udah gitu aja. Eh ternyata. Sudah 6 bulan berlalu sejak itu, Tiqa ketemu masa sama dia.
      Disebuah acara tempat Tiqa kerja sekarang, si Andovi juga datang. Mungkin karena kita bekerja di bidang yang sama kali ya. Jadi Tiqa itu kerja di dinas kesehatan gitu, sama kayak kakak Tiqa, tapi kakak Tiqa di farmasi dan bagian obat-obatannya.
      Saat itu Tiqa duduk sendirian sambil main HP gitu, sambil memandangin sawah-sawah (ceritanya, acaranya itu di adain di sebuah tempat outdoor yang lengkap fasilitas makan,mushala, dan bahkan tempat bermain gitu). Eh tiba-tiba si Andovi nyamperin Tiqa masa… kan Tiqanya jadi syok!
      “Hai!” sapanya. Aku hanya memandangnya kikuk. Diapun tersenyum canggung.
      “Ah iya…” jawabku.
      “Boleh gabung? Eh, ganggu nggak?” tanyanya.
      “Bo..leh. enggak kok santai aja.” Kataku.
      “Kamu adiknya mas Ikmal kan?” tanyanya. “Nah lho? Dia tahu ternyata kalau aku adik mas Ikmal’”. Batinku dalam hati.
      “Iya nih. Kok tahu?” tuduhku curiga.
      “Ahaaha. Masak kamu lupa sih?” dia malah balik bertanya.
      “Lah, malah balik tanya. Kalau aku inget gak bakal lupa kali.” Kataku sewot.
      “Hahah kamu lucu ya?” kekehnya.
      “Die malah ketawa.” Kataku menepuk jidat.
      “Sorry sorry… aku lihat kamu pas datang ke nikahnya mas Ikmal.” Katanya.
      “Oh, seperti itu…” aku hanya ber ‘oh’ ria.
      “Bukan itu aja sih… aku juga dulu sebenarnya dulu pas kecil sering main kerumah mu lho…”
      Oke, sekarang Tiqa lagi inget-inget. Siapa sih nih orang?

TBC
PS : Kira-kira siapa sih si Andovi ini? Tiqa sampai lupa gitu? Apa mereka….? Tunggu kisahnya di up date yang akan datang.

KIDUNG KEMATIAN

Kidung kematian.
Jika kematian adalah kesempurnaan, maka patah hati juga sama.
Mengapa kematian sama dengan patah hati. Karena patah hati adalah jiwa yang mati dipaksa harus bernapas.
Semenyakitkan apa? Bukankah kematian lebih sakit, wallahu’alam .
Beberapa orang yang menganut kepercayaan lain mengatakan, jika setelah mati maka tidak aka nada yang namanya beban lalu kau akan damai di alam sana. Tapi ada beberapa keyakinan yang menghapuskan dosa dengan ritual-ritual tertentu.
Namun bagi yang muslim, hal itu menjadi dilemma. Yah, hidup segan mati banyak dosa.
Bagaima mengatasi hal tersebut?
Sebelum kita menginjak pada hal diatas, kita telisik dulu. Mengapa manusia menginginkan mati setelah mengalami kehidupan yang sangat berat.
Beban psikologis dan lemahnya iman menjadi faktor yang kuat, namun disini kita akan membahasnya lebih sempit.

Patah hati sama dengan mati. Tapi mati lain cerita dengan patah hati. Jika kau merasakan patah hati, kau hanya perlu hidup walau tak memiliki jiwa, namun kau harus segera mengembalikan jiwamu yang mati, sebelum benar-benar mati.
Karena patah hati masih bisa hidup, tapi mati benar-benar pergi selamanya dan tak akan pernah kembali.

Seseorang yang merasa depresi, tertekan, dan stress cenderung tidak kuat mengadapi beban mentalnya, maka ia memilih segera mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Sebenarnya itu bukan satu satunya jalan keluar, mengapa manusia seperti itu cenderung berpikiran dangkal? Seberapa tertekankah hidupnya?

Jika ia berpikir hidupnya akan tenang setelah mati. Hey! Mana ada? Justru kau akan semakin sakit di alam sana. Keyakinan setiap orang berbeda, namun saya dengan keyakinan yang saya anut, maka orang itu tentu tidak akan tenang dan menyesal telah mengakhiri hidupnya. Bisakah orang yang mati bunuh diri adalah di sebut takdir? Atau bukan? Mengapa Tuhanku berkata jika bunuh diri sangat di bencinya? Alih-alih menyembuhkan masalah psikologis seorang yang depresi memang sudah tidak kuat, itu artinya ia lemah iman. Bahkan ia memiliki keyakinan. Dalam keyakinan yang ia anut juga terdapat pembelajaran tentang keimanan. Bukankah setiap ajaran memiliki nilai positive. Apakah Tuhan member cobaan yang ia tidak kuat lalu bunuh diri, atau Tuhan benar-benar memberinya nikmat yang bahkah ia tak tahu cara bersyukur sehingga terjerumus ke dalam lembah.

Setiap manusia memiliki caranya masing-masing dalam membenahi diri. Manusia yang memiliki iman yang kuat akan lebih positif thinking. Bagaimana ia bisa berpikir dangkal dengan melakukan bunuh diri? Seberapa berat beban yang ia pikul?

Mungkin konsep ini lebih sensitive jika disandingkan dengan konsep religi. Namun saya tidak akan mengupas tentang kereligiannya, akan tetapi secara logika. Apakah orang yang bunuh diri dikatakan stress? Bisa jadi, karena bunuh diri ia kehilangan akan sehatnya bukan? Dalam kehidupannya yang menurutnya sangat berat itu, mungkin ia memang sudah benar-benar tidak waras.

CR. +Wasik Amalia