YOLO (You
Only Loving Life Once)
Malam
semakin larut, bulan pun tak nampak karena mendung. Angin malam semakin kencang
menerpa tubuh gadis bernama Jasmine. Dengan langkah gontai menyusuri jalanan
malam di kotanya. Kejadian tadi membuatnya tak mampu melangkah tegak. Jasmine
yang biasanya penakut pun tak mempedulikan keadaan sekitar yang mulai sepi.
Karena ia merasa tak sanggup, ia memutuskan untuk singgah sebentar di tepi
jalan. Sejenak ia terduduk dan air mata yang ia tahan pun pecah. Ia menangis
sejadi-jadinya di tengah malam yang sepi, di pinggir kota.
Sudah
beberapa menit Jasmine menangis, ia tak peduli pandangan orang yang terlihat
beberapa masih berlalu lalang, ada yang bersimpati, ada pula yang acuh. Jasmine
mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, lalu orang-orang meninggalkannya.
“Tengah
malem nangis gini… dengan pakaian seperti ini… pasti abis main ya sama om om,
sebenarnya gak mau.. tapi karena butuh duit jadi kepaksa deh!” tiba-tiba ada
suara berat yang menyapa Jasmine dan berkata seenak jidat. Jasmine yang tak
terima itu pun hanya bisa terperangah dengan kata-kata pemuda kasar itu.
PLAKK! Tanpa peduli siapa pemuda di
depannya itu, Jasmine menampar pemuda itu dengan keras. Jasmine menggeram,
gerahamnya mengeras, tangannya mengepal.
“Jaga
mulut lo ya!” Jasmine mengacungkan jari telunjuknya kepada pemuda itu.
“Woho..
sanss aja mbak! Kalau saya salah, ya maaf deh.” kata pemuda itu dengan santai.
Karena
merasa di ganggu pemuda itu, Jasmine memutuskan untuk pergi meninggalkan pemuda
itu sendirian.
“Mbak.
Mbak jangan pergi! Saya temenin! Bahaya mbak!” pemuda yang tadi biasa aja itu
mengejar Jasmine dan gesture nya seperti orang khawatir.
Dapat
beberapa langkah, Jasmine menghentikan langkahnya setelah ia tadi mengacuhkan
pemuda tadi. Sendi-sendinya seakan matirasa, matanya memandang nyalang,
badannya bergetar. Tepat dihadapannya ada sekumpulan preman yang sedang pesta
miras, jalan itu sempit dan dipenuhi oleh mereka, terlalu dekat untuk melangkah
kembali, dan terlalu takut untuk lari. Para preman itu pun menyadari
kedatangannya. Jasmine masih terpaku di tengah jalan, dua orang preman
menghampirinya dalam keadaan mabuk. Jasmine tak mampu bergerak, namun
tiba-tiba.
GREB! Pemuda tadi segera menarik lengan
Jasmine dengan kuat sebelum preman-preman itu mengejarnya, Jasmine yang
tersadar mengikuti langkah pemuda itu. Mereka lari tunggang langgang.
Mereka
pun terus berlari walaupun sudah ngos-ngosan, sampai dirasa keadaan aman.
Sesekali mereka melihat ke belakang, apakah mereka masih dikejar. Mereka pun
berhenti di sebuah persimpangan dengan ngos-ngosan.
“Hossh…
hossh.. lo nggak pa-pa kan?” tanya pemuda itu, Jasmine mengangguk karena ia
juga lelah.
Mereka
pu memilih selonjoran di depan toko yang tutup sambil kipas-kipas.
“Eh,
ikut gue deh bentar!” ajak pemuda itu sambil mengulurkan tangannya.
“Ha?
Kemana?” tanya Jasmine heran.
“Cari
minum!” jawab pemuda itu, Jasmine pun berdiri dan mengacuhkan tangan pemuda
itu. Mereka berdua berjalan bersama. Sampai tiba di toserba 24 jam.
Mereka
memutuskan untuk duduk di gazebo yang disediakan toko sambil menenggak habis
minum yang pemuda itu beli.
“Lo haus
bener kayaknya!” sindir pemuda itu, Jasmine hanya melirik.
“Yang
barusan, makasih.” Kata Jasmine akhirnya. Sejak tadi rupanya ia masih syok
berat, bahkan ia tak mampu hanya sekedar berkata-kata, harinya benar-benar
sial.
“Oke, no problem!” jawab pemuda itu dengan
senyum tulusnya.
“Gue
Jasmine.” Kali ini Jasmine mencoba berbaik hati, ia mengulurkan tangannya
terlebih dahulu.
“Oh,
tahu kok! Gue Azzof.” Pemuda itu tersenyum ramah.
“Kok
bisa?” tanya Jasmine heran.
“Em..
jadi gini, lo pacarnya si Devan itu kan? Pas itu, gue sama temen-temen gue di
undang Devan di acara partynya. Nah,
gak tahunya ada kejadian seperti tadi, karena kacau banget setelah Devan
ngelakuin itu ke elo, gue putuskan buat balik duluan. Eh, di tengah jalan gue
lihat lo lari-larian sambil nangis, ya udah gue ikutin, dan gue lihat di gang
depan pas kita ketemu itu emang tempat nongkrongnya preman-preman kalo malem,
jadi gue khawatir lo jalan kesana, eh ga taunya malah iya. Dan sorry banget buat kata-kata kasar gue
tadi. Gue gak maksud banget kok kayak gitu.”
“Jadi?
Lo lihat Devan mutusin gue. Dan sialnya dia mutusin gue di depan banyak orang,
dan apa dia bilang, lebih milih cewek lain. dasar bangsat!” Jasmin pun
mengingat kejadian tadi yang menurutnya sangat mengecewakan dan membuatnya
marah itu.
“Bukannya
Devan terkenal playboy ya? Gak kaget sih gue.” Sahut Azzof.
“Emang
bener-bener bangsat tuh orang. Ngapain gue nangis gara-gara dia, najis! Dan
gara-gara dia juga, gue gak tahu gimana nasib gue kalo gue di ganggu preman
itu. Bisa-bisa pulang tinnggal nama, huh! Untung ada lo deh!” kata Jasmine,
Azzof hanya balas senyum.
“Terus?
Lo mau pulang? Rumah lo dimana?” tanya Azzof.
“Eng..
sebenarnya, gue udah bohong sama ortu gue, kalau gue lagi nginep di rumah
Alesyia temen gue. Dan gue gak mungkin pulang dini hari kayak gini.” Kata
Jasmine sambil menunduk karena menyesal.
“Oh,
oke. Jadi lo bela-belain bohong Cuma gara-gara si cecunguk itu?” kekeh Azzof
tak habis pikir.
“Ya, oke
gue salah. Yang penting bukan itu sih. Gue harus kemana ini? Apa gue ke masjid
gitu terus pura-pura jadi musafir aja ya?” kata Jasmine dengan ide konyolnya
itu di balas kikikan geli si Azzof.
“Hahaha,
jangan ah. Ini udah dini hari, dan pakaian lo.. kayaknya malah dikira mbak-mbak
gak bener deh lo.” Azzof berkata sambil melirik penampilan Jasmine yang
berlebihan, dengan make up tebal yang mascara dan eyelinernya sudah luntur,
serta gaun yang lumayan terbuka walaupun roknya gak pendek, tapi bahunya terpampang.
“Ah,
trus gimana ya?” Seperti kebiasaan Jasmine saat panic, bingung, atau takut ia
akan menggiggit kuku jarinya sambil menatap cemas.
Azzof
mendesah pelan. Ia pun membuka jaket boombernya
dan mengenakannya pada Jasmine yang masih menggiggit kuku jarinya.
“Eh, lo
apaan. Gak usah!” tolak Jasmine, namun Azzof tetep maksa.
“Lo
harus pakai ini. Lo mau orang-orang mikir lo yang enggak-enggak? Lagian
sekarang dingin loh Min. entar lo sakit.” Kata Azzof dengan perhatian. Ia
terlihat tulus.
“Ah,
emang gue sakit kok. Sakit hati!” cetus Jasmine dengan muka kesalnya.
“Em,
gini deh Min. lo ikut gue ke kosan temen gue aja.” Kata Azzof sambil
menimbang-nimbang.
“Ha?
Temen lo cewek atau cowok?” tanya Jasmine sedikit khawatir.
“Cowok
sih ta—“ belum sempat melanjutkan kata-katanya, Jasmine sudah menyela.
“Apa? Lo
gila? Gue gak mau ah! Mending gue ngegelandang deh daripada lo nyuruh ke kosan
temen lo, lo pasti ngerencanain sesuatu kan? Ngaku deh lo?” cerocos Jasmine
yang merasa curiga dengan Azzof.
“Yaelah.
Enggak Min. gue belum selesai ngomong kali. Kita ke kosan temen gue buat minjem
motornya, terus kita ke tempat, dimana lo bisa istirahat disana dan gue jamin
bukan kosan cowok atau tempat yang bahayain lo kok, disana aman. Yakin gue!”
jelas Azzof yang kemudian dirasa oke oleh Jasmine.
Setelah
Jasmine menyetujui ajakan Azzof. Mereka pun berjalan menyusuri gang gang sempit
di tepian kota. Katanya itu adalah jalan pintas terdekat menuju kosan teman
Azzof, setelah sebelumnya Azzof telah menelpon temannya dan menanyakan
keberadaannya.
Sepuluh
menit kemudian mereka sampai di sebuah komplek perumahan yang rata-rata isinya
kos-kosan, biasanya mahasiswa Universitas “N” ngekos disitu.
“Eh,
Jasmine kita masuk aja. Gak pa-pa kok Cuma bentar.” Kata Azzof, Jasmine
mengikutinya dari belakang.
Sampai
di beranda, Jasmine memilih menunggu dan duduk di beranda. Azzof langsung masuk
rumah, karena tidak di kunci, dan sepertinya ia sudah biasa main kesini.
Tak lama
kemudian, Jasmine mendengar beberapa laki-laki yang berbincang, satu
diantaranya adalah suara Azzof. Setelah mereka ber “oke” ria terdengar Azzof
yang pamit dengan buru-buru.
“Ah,
lama ya? Sorry!” kata Azzof saat keluar dan membawa sebuah kunci motor.
“Enggak
kok.” Kata Jasmine datar, rupanya Jasmine sudah mulai merasa lelah dan kantuk
melandanya, sesekali ia menguap.
“Eh,
udah hampir jam dua pagi aja nih. Ya sudah yuk!” Azzof segera mengambil salah
satu motor di garasi dan dituntunnya sampai depan.
Azzof
mulai menyalakan motornya, dan menyuruh Jasmine naik. Jasmine yang memakai rok
pun terpaksa bonceng miring.
Azzof
segera melajukan motornya dengan kencang membelah kesepian pagi buta itu.
Jasmine yang sesekali terkaget karena ia benar-benar mengantuk tersentak, Azzof
yang tersadar itu memelankan lajunya. Ia jadi tidak tega, Azzof segera menarik
lengan Jasmine untuk berpegangan pada perutnya dengan erat. Awalnya Jasmine
sempat kaget dan menarik kembali, namun Azzof berkilah dan bilang agar dia tak
terjatuh, Jasmine lalu menurutinya. Dan benar saja—bahkan ia mulai memejamkan
matanya, karena pegangan Jasmine mengendor, Azzofpun memegangi dengan satu
tangannya agar tidak jatuh.
Jauh
dibawah alam sadarnya, Jasmine tersadar, di sela-sela kantuk yang menyergap ada
sesuatu yang berdesir. Namun sesekali ia mengenyahkan pikiran itu.
Disisi
lain, Azzof yang berinisiatif memegangi lengan Jasmine itu pun merasa gugup. Ia
merasa bersalah dan juga senang di waktu yang sama, sungguh ia tak maksud untuk
memodusi Jasmine. Ia segera melajukan motornya kencang.
Lima
belas menit kemudian meraka sampai di sebuah perkampungan di pinggiran kota. Azzof menghentikan motornya tepat
disebuah rumah kuno, ia segera mengguncangkan tubuh Jasmine untuk
membangunkannya.
“Eh,
udah sampai ya?” tanya Jasmine yang baru sadar. Azzof hanya tersenyum
mengangguk.
“Ayuk!”
Azzof menuntun Jasmine yang sepertinya masih mengantuk berat, sampai mereka
tiba di depan pintu rumah.
Azzof
mengetuk rumah itu. Tak lama kemudian seseorang ibu-ibu paruh baya membuka
pintunya dan menyapa Azzof.
“Loh,
den Azzop kok kesini subuh-subuh gini?” tanya ibu itu sambil memandangin
Jasmine yang tampak kusut.
“Duh,
ceritanya panjang mbok. Azzof boleh minta tolong nggak?” tanya Azzof, ibu-ibu
yang di panggil mbok itu pun mengiyakan.
“Mbok,
ini temen Azzof kena musibah, dan dia masih belum berani pulang. Jadi Azzof
minta tolong mbok, buat si Jasmine ini istirahat disini sampai nanti setelah
dia merasa baik, gimana mbok?”
“Oalah
den, ayok masuk. Masuk neng! Maaf loh, rumah mbok ini jelek. Neng kalau
istirahat di kamar tamu depan ini ya?” ajak si mbok itu. Awalnya Jasmine
sungkan, tapi Azzof maksa dan bilang tidak apa-apa. Si mbok adalah yang biasa
bantu-bantu di rumah sejak Azzof bayi, tapi karena rumahnya dekat, jadi si mbok
tidak menginap, ia akan pulang ketika kerjaannya beres.
“Makasih
ya mbok, udah ngizinin Jasmine nginep sini.” Tutur Jasmine. Si mbok lalu
mengajak Jasmine istirahat dikamar, setelah subuhan tentunya.
Azzof
masih menunggu di ruang tamu, sesekali ia tiduran di kursi kayu si mbok.
Awalnya si mbok menyuruhnya untuk tidur di kamar si mbok, soalnya si mbok mau
ke pasar dan ke rumah Azzof untuk bersih-bersih. Tapi Azzof menolak dan memilih
tiduran di kursi, ia khawatir dengan Jasmine, jadi ia menunggunya sambil
tiduran.
Namun
Azzof sama sekali tidak bisa tidur. Pikirannya nyalang. Pertemuannya dengan
Jasmine sangat mengesankan. Entah mengapa ia begitu gugup saat ini. Azzof
merasa gelisah dan tak tenang. Azzof sesekali juga melirik kamar yang terbuka
sedikit di tempat Jasmine tidur. Ia merasa lega melihat Jasmine tertidur begitu
pulasnya. Sampai akhirnya perlahan ia terpejam.
“Den!
Den Azzop! Bangun den! Den…” si mbok yang telah selesai urusannya membangunkan
Azzof yang tertidur.
“Ahh..
iya mbok, jam berapa ini?” tanya Azzof dengan nada serak sangking capek dan
ngantuknya.
“Jam 11
den!” jawab si mbok.
“Apa?
Jasmine udah bangun mbok?” Azzof membelalakkan matanya dan terduduk.
“Ya itu
den, si mbok pulang neng Jasmine nya udah nggak ada. Cuma nemu tulisan ini.” Si
mbok menyerahkan se carik kertas pada Azzof.
Azzof
membaca dengan keras isi surat tersebut.
“Maaf
Zof, aku nggak tega bangunin kamu tidur, abis pules bener. Oh ya! Aku harus
segera pulang. Maaf nggak pamit dan nggak nunggu kamu bangun atau si mbok
pulang, terimakasih atas semua bantuanmu semalam, dari Jasmine.”
Azzof
segera keluar rumah dan mencari sekeliling, namun hasilnya nihil. Mungkin
Jasmine sudah sampai dirumah, atau Jasmine sudah jauh entah kemana. Jauh di
lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasa sesak.
“Oh no! what happen to my heart?” kata Azzof
sambil mengerang memegangi dadanya.
***
Sejak
pertrmuan singkatnya dengan Jasmine, Azzof semakin tidak tenang karena
perpisahan yang begitu cepat bahkan tanpa salam perpisahan. Itu membuat Azzof
gelisah. Beberapa kali ia mencoba mencari Jasmine di kampus, mungkin dia
sekampus. Ia juga beberapa kali mendatangi Devan mantan pacar Jasmine, tapi
malah di bohongin. Azzof tidak tahu mengapa ia benar-benar ingin menemukan
Jasmine, mungkin rindu? Entah, Azzof bahkan tak tahu.
Sampai
akhirnya teman Devan yang saat itu melihat Azzof kekeh bertanya alamat rumah
Jasmine namun tak membuahkan hasil itu menghampiri Azzof.
“Elo
masih butuh alamat Jasmine?” tanya teman Devan. Azzof mengangguk pasti.
“Sorry,
sebenranya gue tahu alamatnya. Tapi gak bisa kasih tahu elo pas di depan
Devan.” Katanya.
“Iya,
gak pa-pa. ayo kita cari tempat aman. Gimana kalau di samping Lab anak biologi.
Gue cabut kesana dulu, lo susul ya?” perintah Azzof. Teman Devan pun mengikutis
setelah beberapa saat.
Sesampainya
keduanya di samping Lab, si teman Devan memberikan secarik kertas berisi alamat
tinggal Jasmine, setidaknya itu alamat yang pernah ia tahu saat mereka sering
hang out bareng.
Segera
Azzof cabut dari kampusnya dan bergegas menuju alamat tersebut. Sesekali ia
memastikan alamat yang ditulis tersebut cocok atau tidak.
Sampai
akhirnya Azzof tiba di sebuah perumahan sederhana sih, dan melihat nomor yang
tertulis sama persis. Blok B 29. Ia segera memencet bel.
“ting tong!” seseorang wanita paruh baya
membuka pintu rumah.
“Mau
cari siapa ya?” tanya ibu itu.
“Maaf
buk, ini bener rumahnya Jasmine?” tanya Azzof.
“Jasmine?
Ada apa ya dengan anak saya? Ada perlu apa?” tanya ibu yang rupanya ibu Jasmine
itu sedikit panic.
“Oh,
bukan buk. Saya temennya ada perlu nya sama dia.” Kata Azzof sambil meringis.
Kemudian ibunya masuk dan memanggil Jasmine. Azzof masih menunggu di beranda.
Beberpa saat pun Jasmine keluar.
“Azzof?”
pekiknya.
“Hai!”
sapa Azzof meringis.
Mereka
pun mengobrol untuk waktu yang lama. Azzof dengan gambling mengungkapkan
perasaanya. Ia dengan jelas mengatakan bahwa mungkin dirinya memiliki rasa pada
Jasmine, itu lah yang memotivasi dirinya untuk menemukan Jasmine. Ia tidak
ingin hidup dalam kesia-siaan. Karena baginya hidup hanya sekali dan apa yang
ia impikan setidaknya harus ia usahakan termasuk masalah hati, ia hanya akan
mencintai seseorang sekali kecuali jika ia harus di selingkuhi atau di bohongi,
Azzof bukan playboy, bahkan ia hanya memiliki satu mantan yang dulu sangat ia
cintai namun di tinggal selingkuh. Dan sejak saat itu ia tak pernah benar-benar
mencintai seorang gadis sampai segelisah ini. Sedangkan Jasmine yang
mengetahuinya pun lumayan syok dan tidak percaya, namun jauh di dasar hatinya
ia merasakan hal yang sama.
THE END


